Kronologis Kasus dan Latar Belakang Konflik Petani Jambi dengan PT Wira Karya Sakti (WKS)

Kronologis Kasus dan Latar Belakang Konflik Petani Jambi dengan PT Wira Karya Sakti (WKS)   


Kronologis Kasus:
Hari ini, Senin (8/11/2010) direncanakan akan ada pertemuan antara PPJ, PT. WKS dan Pemerintah Provinsi Jambi untuk menyelesaikan sengketa lahan milik masyarakat dengan pihak perusahaan. Namun, pertemuan tersebut dibatalkan sepihak oleh Pemprov Jambi dengan alasan bahwa warga petani dan PPJ pada hari ini (08/11) masih melakukan aksi di lapangan.
Aksi masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Petani Jambi (PPJ) ini dilakukan di Desa Senyerang, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Mereka melakukan penyetopan kapal-kapal PT. WKS (Sinarmas Group) yang melintasi Sungai Pengabuan di Desa Senyerang dengan menggunakan kapal kecil atau pompong. Kapal-kapal milik PT WKS yang membawa hasil pabrik pulp and paper tersebut tidak diperbolehkan melintasi sungai oleh warga.
Aksi massa ini dilakukan oleh warga dikarenakan tanah masyarakat seluas 7224 ha di desa tersebut sejak 1999 telah dirampas oleh perusahaan HTI tersebut.
Kemudian Brimob Polda Jambi, security dari PT.WKS dan karyawan perusahaan berusaha membuka blockade warga masyarakat dengan cara menembak untuk menakut-nakuti.
Karena tembakan ini, dua orang petani tertembak. Satu orang bernama Ahmad (45) tewas dengan kepala peluru tembus kepala korban. Korban ditembak di atas perahu pombong dan langsung tewas di tempat.
Akibat insiden berdarah ini, warga marah dan melakukan pembakaran kepada kapal yang berisi brimob dan karyawan PT. WKS tersebut. Kapal milik PT WKS ini kemudian melarikan diri.
Saat ini korban tewas bernama Ahmad (45) telah dibawa ke Rumah Sakit Tungkal, jambi untuk dilakukan otopsi dan hingga kini massa masih bertahan di Desa Senyerang, Jambi. Kabar terkahir, menurut warga korban lainnya bernama Saukani terkena tembakan di paha, satu orang lagi mengalami patah tulang belakang akibat terinjak-injak, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Desa ini sangat terisolir dan jalan satu-satunya menuju ke lokasi harus melalui jalan milik perusahaan PT. WKS. Sampai saat ini, baik pers maupun pengacara tidak dapat memasuki lokasi karena dilarang oleh perusahaan dan kepolisian.

Latar Belakang Konflik
PT. WKS (anak perusahaan Sinarmas Group) mendapatkan areal konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) di lima kabupaten di Jambi, yaitu Batang Hari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Tebo. Seperti yang kerap terjadi, penunjukan kawasan dan penetapan SK oleh Menteri Kehutanan atas areal konsesi HTI tersebut dibuat secara sepihak.
Kenyataannya pula, areal konsesi tersebut berada di perkampungan dan kebun-kebun masyarakat. Sesuai dengan SK Menhut No.744/1996, sesungguhnya jika ditemukan areal-areal perkampungan dan kebun masyarakat, maka areal tersebut menjadi pengecualian dan atau dikeluarkan dari wilayah konsesi perusahaan. Akan tetapi, pihak perusahaan justru menggusur semua tanaman dan pondok masyarakat sebagai upaya untuk menyatakan bahwa kampung dan kebun masyarakat itu tidak pernah ada di wilayah tersebut.
Maka terjadilah konflik masyarakat setempat dengan perusahaan HTI tersebut. Konflik pecah pada Desember 2007 di Desa Lubuk Mandarsah, Kabupaten Tebo. Pada saat itu, 12 alat berat PT.WKS yang menggusur kebun karet dan sawit warga dibakar oleh petani. Karena aksi pembakaran ini, kemudian 21 orang petani Desa Lubuk Mandarsah ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian. Kemudian pada tanggal 2-3 Agustus 2010 yang lalu, dua petani Desa Senyerang kemudian tertembak oleh Kepolisian Resort Tanjabbar saat tengah berhadap-hadapan dengan warga.

Source : Pergerakan.org

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »