LIMBUNGNYA PENGANGGARAN POTENSI UNTUK MENUMBUHKAN PERLAWANAN RAKYAT

Add Comment
UU RI Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dalam pasal 3 disebutkan:Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan

Tembus 1,6 Triliun. Secara keseluruhan, kas daerah Kabupaten Karawang yang terangkum dalam APBD tahun anggaran 2011 mencapai Rp 1,680 triliun. Angka ini diperoleh dari pendapatan asli daerah (PAD) Rp 201,4 miliar, dana perimbangan Rp 1,127 triliun, dan lain-lain pendapatan yang sah Rp 352,3 miliar. Dari total anggaran sebesar itu, untuk belanja daerah dialokasikan Rp 1,94 triliun. Terdiri atas belanja tidak langsung Rp 1,047 triliun, dan belanja langsung Rp 892,9 miliar. Hal itu terungkap dalam rapat (situs resmi pemkab. Karawang)

Ade-Cellica yang akan segera mengomandoi operasionalnya pemerintahan kabupaten Karawang telah berpijak pada kekeliruan atas tata kelola keuangan pemkab Karawang. Hal ini tercermin dalam politik anggaran yang tidak berpihak pada masyarakat miskin yang dalam perencanaannya melibatkan legislatif.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa naiknya Ade-Cellica ke puncak kekuasaan politik kabupaten ini merupakan capaian obyektif dari kompromi politik partai-partai besar yang antara lain Demokrat, PKS dan Gerindra dilengkapi partai-partai kecil pengikutnya. Kompromi yang dimaksud adalah bentuk pergandengan tangan partai-partai anggota koalisi untuk mendulang kemenangan pada pertarungan di pekalangan politik electoral berikut orientasi dalam kekuasaan itu sendiri.

Tidak heran apabila dalam perumusan anggaran belanja daerah tahun 2011 ini tidak didapati perdebatan secara oriented. Proses perumusan hingga penetapan post-post anggaran berjalan tanpa aral melintang. Dengan kata lain terdapat kesepahaman antara eksekutif dengan legislatif dalam mengeksekusi anggaran yang paripurna.

Yang begitu mencolok dalam kasus ini adalah dimana panggar dengan secara serampangan memposting sebagian anggaran peruntukan :
Sejumlah lembaga vertical yang tak sedikit nilainya. 4, 5 miliar yang dianggarkan, Kejaksaan Negeri Karawang senilai Rp 1 miliar, Polres Rp 2 miliar, dan Kodim 0604 Rp 1 miliar. Selain itu Sub Denpom dan Kostrad Linud 305 masing-masing dianggarkan Rp 250 juta.
Disamping itu, angka fantastik dana aspirasi senilai 2 miliar setiap anggota DPRD juga turut melengkapi deretan daptar table kekeliruan-kekeliruan post anggaran kabupaten tahun 2011 ini. Bahkan yang paling menggelitik telinga yakni program bedah rumah sebagaimana yang disampaikan Bambang Maryono (dari PAN) sebagai ketua Panggar sebagaimana yang dilansir Radar Karawang. Tak ubah reality show di televisi.
Pencapai IPM yang seringkali dijadikan landasan paling sahih bagi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran berdalih kemajuan pendidikan, peningkatan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam bentuk UKM dsb,
Pembangunan infrastruktur jalan yang sempat menuai simpatik mayoritas masyarakat bahkan menjadi bahan kampanye paling jitu yang pernah dirasakan oleh bupati sebelumnya Dadang S Mukhtar sehingga berhasil memetik kemenangan pilkada 2005
yang paling wajib dalam pos anggaran kali ini adalah seperti biasa biaya rutin dinas yang tak kenal surut dan selalu terposkan dalam prosentase lebih dari setengah total anggaran yang tersedia.

Beruntung sebagian dana anggaran masih bisa diselamatkan dari rencana paling konyol pembelian mobil dinas bagi kepala desa, walaupun entah ke pos mana dibelokkannya.
Dari sekian alokasi anggaran yang menurut saya banyak memiliki kekeliruannya tapi eksekutif dan legislatif terlebih dulu telah menyiapkan argumentasi untuk dikhotbahkan setiap saat ketika terdapat kemunculan protes. Pada poin awalpemerintah dengan reaksioner dan fasihnya mengintrodusir dalil keamanan. Tanpa analisa dan komprehensifitas alasan logis mengenai stabilitas keamanan dari tindakan-tindakan demonstran yang secara tak langsung dianggap menggangu jalannya pemerintahan, ancaman kekacauan politik paska Pemilu/kada dalam bentuk mobilisasi ketidakpuasan masyarakat, yang dalam bahasa lain boleh dikatakan bahwa kekacauan dan instabilitas politik disebabkan oleh masyarakat yang tak beradab. Pada poin dua, pemerintahan akan dengan capetangnya (lantang) mengatakan bahwa alasan dari alokasi dana aspirasi yang memiliki nilai jauh lebih besar dari pos-pos kesejahteraan masyarakat bertujuan mempermudah, mempercepat dan tepatnya sasaran anggaran dengan cara langsung ditiap konstituen. Hal ini sungguh menjauhkan basis material dari keadaan ekonomi masyarakat yang tengah mengalami himpitan luar biasa ketatnya. Semsetinya belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya bahwa cara tersebut sama sekali tidak memberikan perubahan baik secara artifisial maupun dalam tataran indicator ril pertumbuhan ekonomi masyarakat. Point ketiga. Inilah yang menjadi ayat-ayat suci bagi pemerintahan (baca : eksekutif dan legislatif) untukmengklaim dirinya pro rakyat. Pemerintahan seakan-akan berkata bahwa pendidikan, kesehatan, permodalan usaha mikro dsb merupakan sasaran paling tepat untuk digelontori subsidi (anggaran) dengan prosentase-prosentase tertentu. Dalam hal kebutuhan serta fungsi, pemberian subsidi ini cukup akseptabel akan tetapi jauh lebih patut untuk kita kritisi bahwa dalam pelaksanaan subsidi ini tentunya berhukum penyimpangan nilai barang/hasil produksi dan jasa karena diambil dari hasil keringat kaum buruh dan tani (tenaga produktif) dalam mekanisme pajak baik yang terbuka maupun terselubung. Sementara banyak pihak terutama dalam lingkaran penyaluran subsidi ini yang banyak merasakan lezatnya tanpa harus kerja karena memang diotoritasi. Justru fenomena putus sekolah, orang sakit tak terobati secara layak, pengangguran dll, masih menjadi problem pokok di kabupaten ini.

Tidak ada pos terwajib yang melampaui Point lima dalam setiap mekanisme penganggaran. Bukan lagi rahasia, bahwa belanja dinaslah yang memiliki derajat paling istimewa. Di pos inilah efisiensi dan efektifitas sangat begitu asing bahkan boleh jadi melenyap.

Adapun urungnya rencana alokasi anggaran untuk mobdin kepala desa, lebih dilatarbelakangi oleh alasan belum adanya kejelasan payung hukumnya. Sungguh menggelikan apa yang diucapkan Sekda Karawang Iman Somantri. Sepertinya si abang yang satu ini sama sekali tidak terpikirkan bahwa jika kebijakan itu direalisasi maka sebuah pemustahilan paling nyata dari jargon structural good governance. Bukannya itu kebijakan yang sia-sia?

Ada perbedaan eksplisit dan mencolok dengan kebijakan anggaran sebelumnya di masa Dadang Muktar. Bukan dari sisi angka/nominal naik turunnya. Kali ini anggaran betul-betul mencerminkan kompromi politik karena ketidak percayaan diri Ade Swara yang mungkin merasa tidak memiliki kemampuan konseptual dalam berbagai segi pembangunan. Alokasi anggaran bagi lembaga vertical dan besarnya anggaran dana aspirasi setiap anggota dewan yang tak pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya cukup memberikan kesan bahwa Ade Swara adalah bupati yang tak memiliki ketegasan platform programatik di pemerintahannya sehingga konsesi senantiasa menjadi keharusan yang tak bisa tidak. Sebagaimana yang saya sebut dari awal keberangkatan Ade Swara menuju Bupati karawang dihantarkan oleh banyak partai dan terutama partai besar. Hari ini lah Ade Swara harus membalaskan jasa meraka (partai-partai pengusungnya) dengan berbagai kebijakan yang memberikan peluang secara ekonomis bagi kepentingan partai/kelompok pendukungnya. Belum lagi penguasa kabupaten ini akan sadar betul bahwa posisi dalam kekuasaanya sebenarnya tidak legitimated karena fakta politik pilkada menyebutkan angka golput jauh melampaui perolehan angka pasangannya (Ade-Cellica). Hal ini lah yang membuat pasangan Ade-Cellica harus berpikir keras tentang bom waktu yang ditanamnya—kemiskinan rakyat berskala luas akan segera meledak, jika tak menyisakan puing-puing kekuasaannya, tentu saja akan menjadi batu sandungan bagi langkah kekuasaannya dalam 5 tahun kedepan. Padahal sadar atau pun tidak kebijakan tersebut telah secara nyata bertentangan dengan UU RI Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dalam pasal 3.

Yakin ataupun tidak yakin, sadar atau tidak, kebijakan yang baru dikonfigurasinya bersama legislative akan mengecambahkan benih-benih perlawanan dari rakyat yang terpupuk subur oleh kekecewaan seiring hilangnya rasa takut oleh penguasa yang telah memiskinkannya sehingga pada gilirannya nanti akan segera tumbuh besar pimpinan-pimpinan rakyat yang progresif, yang menyematkan tantangan terhadap kekuasaannya.

satu yang dapat mengecualikan itu, ketika pemerintah berpikir dan bertindak dibawah kehendak-kehendak rakyat, dalam kapasitasnya bupati harus mengalokasikan sebagian besar anggaran untuk membangun ekonomi : sentra-sentra produksi baik pertanian dalam perspektif industrialisasi, pembangunan berikutnya industri manufaktur dan industri lainnya yang dapat mengembangkan tenaga-tenaga produktif secara mandiri, Demokratis secara politik, menghargai hak-hak kemanusiaan serta lestari lingkungan.

Serikat Petani Karawang (SEPETAK)
Siapakah Sebenarnya Che Guevara ?

Siapakah Sebenarnya Che Guevara ?

Add Comment

che guevara
che guevara
Sosoknya dikenal banyak orang, tapi kebanyakan hanya sedikit orang yang tahu tentang perjalanan hidupnya yang mengagumkan. Ini bukan tanpa sengaja. Kehidupan Che adalah sebuah cerita tentang satu komitmen untuk memerangi semua nilai yang menjerat masyarakat konsumtif kapitalis. Sosoknya menimbulkan sebuah keberanian, menumbuhkan semangat pemberontakan pada dada rakyat di seluruh dunia. Tidak sanggup untuk menguburkan sentimen tersebut, perusahaan-perusahaan kapitalis melakukan pendekatan untuk memanfaatkan dan memodifikasinya, dan juga dengan cara tersebut mereka berusaha menjinakkannya. Tujuan itu sampai sekarang masih belum tercapai.
Masa muda Ernesto “Che” Guevara adalah sebuah petualangan dan penjelajahan. Meskipun dia dibesarkan di keluarga yang berkecukupan di Argentina dan belajar di bidang kedokteran, dia banyak menghabiskan waktunya untuk mengelilingi Amerika Latin
Ketika lulus dari Fakultas kedokteran, Che meninggalkan Argentina, berpura-pura untuk pergi bekerja pada penderita penyakit kusta di Venezuela. Dia benar-benar mencari jawaban yang mendalam atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu perasaannya. Dalam pengembaraanya dia melihat kesengsaraan dan kemelaratan yang menjadi pemandangan sehari-hari di Amerika Latin. Bisakah seorang dokter mengobati semua pasien ini ?
Pada tahun 1953 terjadi kekacauan politik di Guetemala. Di tahun 1950 seorang komandan militer sayap kiri, Jacobo Arbenz, terpilih sebagai presiden dan memulai untuk melakukan reformasi politik. Dia meliberalkan hukum-hukum perburuhan, menaikkan upah minimum, mengakhiri repressi terhadap aktifitas politik, dan memulai sebuah kebijakan reformasi agraria. Amerika Serikat menjadi cemas.
Tahun 1953 Arbenz mengambil-alih ratusan hektar tanah kosong yang dimiliki perusahaan Amerika United Fruit Company. Respon Amerika sangat cepat sekali. Sebuah embargo dilakukan dan n bantuan-bantuan teknis diputuskan. Bulan November 1953, semua kapal yang berlabuh di Guatemala dikejar-kejar oleh tentara Amerika.
18 Juni 1954, rombongan pasukan tempur yang diangkut pesawat tempur Amerika menyerbu melalui Honduras. Kaum revolusioner di Guetamala meminta kepada Arbenz untuk mempersenjatai rakyat sebagai alat untuk melawan agresi Amerika, namun sang Presiden Guetemala itu menolaknya. Malahan Arbenz menggunakan satuan tempur reguler Guetemala untuk menghadang invasi. Kesuksesan dalam menghadapi invasi Amerika itu tidak mengurangi ketegangan di Guetamala.
Setelah kegagalan invasi yang menggunakan serdadu bayaran itu, imperialis AS melirik kubu sayap kanan militer dan mengagitasinya untuk melakukan kup. Pada 21 Juni, pemerintahan Arbenz ambruk dan dia mengundurkan diri dari jabatannya. Kedudukannya digantikan tokoh militer sayap kanan, Kolonel Monzon.
Aktivitas-aktivitas politik yang dilakukan Che di Guatemala mendapat perhatian CIA, yang memasukkan dia dalam daftar orang-orang komunis yang berbahaya yang harus segera diringkus. Informasi ini dibocorkan pejabat kedutaan Argentina, yang menawarkan perlindungan untuk Che.
Dari kegagalan pemerintahan Arbenz di Guetemala,Che belajar dua hal penting. Dia menyadari imperialis AS adalah musuh terbesar rakyat Amerika Latin dan kaum revolusioner tidak bisa mengandalkan mesin-mesin negara atau pemerintahan kapitalis, meskipun yang progresif seperti di Guetemala.
Tragedi Guetemala meyakinkan Che akan kebutuhan solusi revolusioner untuk memecahkan masalah-masalah Amerika Latin. Dia sekarang menyebut dirinya seorang Marxis dan berargumen seharusnya Arbenz mempersenjatai rakyat untuk melawan agresi yang disponsori imperialis AS.
Che meninggalkan revolusi yang gagal itu dan pergi ke Mexico. Di sana dia ketemu revolusioner Kuba yang sedang dalam pelarian, Fidel dan Raul Castro. Mereka berbincang semalaman dan paginya dia memutuskan untuk bergabung dengan Castro dalam ekspedisi revolusioner ke Kuba. “Setelah pengalaman mengelilingi Amerika dan akhir kudeta di Guetemala, yang kesemuanya tidak begitu menarikku untuk bergabung dengan kaum revolusioner melawan tirani”, begitu Che berkata.
Tahun 1956, 82 orang militan berkumpul dalam sebuah perahu layar yang bernama Granma dan berlayar menuju Kuba. Pendaratan mereka di propinsi Oriente Selatan diharapkan disertai dengan letupan pemberontakan (up rising). Tapi ekspedisi ini terlihat sangat nekat. Delapan puluh dua orang gerilyawan yang tidak begitu terlatih dan miskin persenjataan, menjejalkan diri dalam perahu yang sebenarnya untuk memuat 12 orang, berharap untuk melawan tentara Kuba yang dibekingi Amerika. Bagaimana mereka bisa berharap menang ?
Kuba sedang bergolak, sedang dalam keadaan matang untuk sebuah revolusi. Fulgencio Batista mendapatkan kekuasaan lewat sebuah kudeta militer di tahun 1952; dia adalah anak kesayangan Paman Sam di Havana.
Perusahaan-perusahaan Amerika mendominasi perekonomian Kuba. Perusahaan AS mengkontrol 80 % barang-barang yang ada di Kuba, 90 % di pertambangan, 100 % penyulingan minyak, 40 % industri gula dan 90 % peternakan sapi. Hal ini membawa sedikit kemakmuran bagi rakyat Kuba : 50 % orang tidak mendapatkan listrik, 40 % penduduk masih buta huruf, dan 95 % anak-anak di daerah pedesaan menderita karena kemiskinan dan berbagai penyakit.
Batista melakukan yang terbaik untuk menghancurkan semua gerakan pelajar, mahasiswa, buruh dan petani. Antara tahun 1952 sampai 1959, 20.000 orang telah dibantai oleh tukang jagalnya Tuan Batista.
Granma diserang oleh tentara Batista ketika mendarat; hanya 12 orang dari anggota ekspedisi yang selamat. Che, Castro dan yang lainnya lari ke pegunungan Sierra Maestra dan mendirikan sebuah basis pertahanan. Disana mereka memulai membangun kembali tentara pemberontak dan sebuah partai politik baru, Gerakan 26 Juli.
Strategi Castro bersandar pada memenangkan dukungan dari petani sekitarnya dan membangun sebuah basis perlawanan pertama di Oriente. Ketika kaum pemberontak mulai memenangkan pertempuran-pertempuran melawan tentara Batista, para petani mulai menunjukkan dukungannya. Program Reformasi Agraria yang dirancang Tentara Pemberontak banyak meraih simpati rakyat. Tahun 1958 para petani mulai bergabung dalam barisan tentara pemberontak, dan jumlahnya makin lama- makin membengkak.
Ketika tentara pemberontak mendapatkan dukungan terbesarnya dari para petani, Gerakan 26 Juli juga mulai mendapatkan dukungan dari kelas pekerja perkotaan dan buruh-buruh tani. Gerakan ini menyusup ke kota-kota dan mulai mengorganisir kelas pekerja secara rahasia. Bulan April 1958, para pemberontak menyerukan pemogokan umum, tapi mereka belum mempunyai cukup dukungan dan organisasi yang memadai, dan akhirnya pemogokan tersebut gagal.
Dengan memanfaatkan demoralisasi yang melanda rakyat, Batista mengumpulkan 10.000 tentara di kaki gunung Sierra Maestra pada bulan Mei 1958 dalam usahanya yang terakhir untuk menghancurkan gerilyawan revolusioner. Castro memimpin 300 orang pasukan. Selama 36 hari tentara rezim Batista menekan gerilyawan pemberontakan. Tanggal 18 Agustus, bagaimanapun dahsyatnya gempuran tentara Batista akhirnya mengalami kegagalan. Para gerilyawan di pegunungan tetap tak tersentuh, dan tentara Batista sudah tidak sanggup untuk bertempur lagi.
Pemberontak revolusioner melakukan serangan balik dengan mengirimkan dua regu gerilyawan untuk merebut daerah baru. Salah satunya di pimpin oleh Che Guevara. Bulan Oktober para pemberontak berhasil mendirikan sebuah basis perlawanan di pegunungan Escambray, di daerah tengah Kuba, dibawah komando Che Guevara. Mereka juga mendirikan basis lain di pegunungan Sierra Cristal, dimana Raul Castro menerapkan reformasi agraria dan membebaskan daerah yang berpenduduk lima ratus ribu orang.
Tahun 1958 para pemberontak berkembang dari dulunya sebuah unit gerilya menjadi tentara rakyat. Bulan November pasukan Castro turun gunung dan melakukan penyerangan ke kota Santiago, kota terbesar kedua di Kuba. Di Bulan Desember pasukan Che menuju ke Santa Clara dan disambut oleh pemberontakan rakyat yang di organisir Gerakan 26 Juli.
Tanggal 1 Januari 1959, Batista merasa terancam dan melarikan diri dari Kuba dengan membawa US$ 7 juta dalam kopernya. Pejabat militernya mendeklarasikan pemerintahan baru. Castro meresponnya dengan mengadakan pemogokan umum yang kedua. Kali ini pemogokan umum ini berjalan dengan sukses, memperlihatkan dukungan penuh dari kelas pekerja kepada para gerilyawan pemberontak. Tanggal 2 Januari, Castro masuk ke Santiago dan Che ke Havana. Kuba berhasil dibebaskan.
Dalam pemerintahan revolusioner baru, Che bertugas untuk melakukan reorganisasi industri dan agrikultural. Hanya lima bulan setelah keruntuhan Rezim Batista, Che menetapkan sebuah Hukum bagi mereka yang mempunyai tanah seluas lebih dari 400 ha untuk di redistribusikan ke para petani yang tidak mempunyai tanah dan memaksa para tuan-tuan tanah untuk mengerjakan sendiri tanahnya. Dia membantu untuk menyelenggarakan sekolah gratis di Kuba dan meluncurkan kampanye sukarelawan pendidikan yang akan di gunakan untuk memberantas buta huruf yang menghasilkan tingkat melek huruf yang lebih tinggi jika di bandingkan dengan Amerika.
Che menekankan pentingnya keterlibatan para pemuda dalam perjuangan revolusiner. Berbicara pada Persatuan Pemuda Komunis tahun 1962, dia berkata “Kalian, Kawan-Kawan, harus menjadi pelopor untuk seluruh gerakan, pertama sekali kalian harus sanggup untuk mengorbankan diri demi kebutuhan revolusi, apapun jadinya”
Dia menjadi pembicara berskala internasional untuk revolusi, secara aktif membantu gerakan revolusioner di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Dia beberapa kali mengunjungi Uni Soviet, tapi tanpa takut mempublikasikan kritiknya tentang pemerintahannya (Uni Sovyet, pent) yang birokratis.
Besarnya komitmen Che terhadap Internasionalisme sangat jelas didemonstrasikan tahun 1965, ketika dia secara tegas mengundurkan diri dari pemerintahan dan pergi untuk membantu gerakan revolusioner baru secara pribadi, pertama di Kongo dan kemudian di Bolivia.
Saat berada di Bolivia tahun 1967, Che ditangkap CIA yang membekingi tentara Bolivia dan membunuhnya di usia 39 tahun. Tapi saat ini namanya dan reputasinya tertanam dengan kuat, dan wajahnya muncul dalam bendera-bendera, plakat, dan muncul sebagai personifikasi revolusi di dunia.

sumber:http://www.acehforum.or.id/siapakah-sebenarnya-che-t972.html?s=87507313bfbd8948034cb54e05baa6eb&
KEPRIBADIAN JEAN-PAUL SARTRE MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL KAREN HORNEY

KEPRIBADIAN JEAN-PAUL SARTRE MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL KAREN HORNEY

Add Comment

Jean-Paul Sartre: Kepribadiannya dari Perspektif Karen Horneyl


[catatan: Artikel berikut aslinya berupa paper yang dikerjakan dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Psikologi Kepribadian. Pengguna yang ingin memanfaatkan isi artikel ini diharapkan tidak lupa mencantumkan alamat blog ini sebagai sumber.]
KEPRIBADIAN JEAN-PAUL SARTRE
MENURUT TEORI PSIKOANALISIS SOSIAL KAREN HORNEY

“L’enfer c’est les autres.”
“Neraka, itulah orang lain.”
—Sandiwara Huis Clos (1944)

Sartre
I. MASA BAHAGIA BERSAMA SANG IBU DAN KAKEK
Jean-Paul Charles Eymard Sartre dilahirkan dalam sebuah keluarga borjuis, 21 Juni 1905. Ayahnya, Jean Baptiste-Sartre, adalah seorang perwira muda angkatan laut yang, sayangnya, telah meninggal dunia sebelum ‘Poulou’, nama kecil J.P. Sartre, berusia satu tahun. Sejak saat itu, Poulou hidup bersama ibunya, Anne-Marie, yang kini menjanda pada usia 24 tahun. Anne-Marie dan putranya itu lalu pindah ke rumah orangtuanya (kakek Poulou) di Paris untuk tinggal bersama ayahnya, Charles Shweitzer, yang tidak lain adalah paman dari seorang teolog, ekseget, dan misionaris protestan terkenal, Albert Schweitzer.
Secara umum dapat dikatakan bahwa masa kecil Sartre pada tahun-tahun pertama hidupnya adalah sangat bahagia. Sartre sangat mengagumi perpustakaan kakeknya. Berbagai kisah kepahlawanan dan petualangan para ksatria dibacanya. Singkatnya, dunianya adalah perpustakaan kakeknya. Di samping itu, Sartre dan ibunya sama-sama diperlakukan sebagai anak di rumah sang kakek. Akibatnya, hubungan Sartre dengan ibunya lebih menyerupai hubungan adik dengan kakak. Figur ibu-kakak ini tak ayal lagi menjadi kebutuhan psikologis yang penting bagi Sarte kecil.

Menjadi pusat perhatian dan dikelilingi oleh keluarga yang sangat menyayanginya, Sartre kecil tumbuh dengan ego yang cepat membesar. Sampai-sampai, ia mendeklarasikan dirinya sendiri, “Aku adalah seorang jenius” (dan, memang, sesungguhnya ia seorang jenius). Kakeknya bahkan sempat merengkuh bocah itu ke dalam pangkuannya dan menyebut Sarte, “Harta karun kecilku!” Berambut pirang panjang dan bergelung-gelung, Sartre pun menyadari pula betapa tampan dirinya. Pendek kata, ia seakan hidup di surga.

Dipadukan dengan teori Karen Horney, Sartre kecil tampaknya mampu mengatasi ‘kecemasan makhluk’ (Angst der Kreatur, creature anxiety). Pengalaman kehilangan ayah dengan segera tergantikan oleh cinta kasih dari sang ibu. Dengan kata lain, corak self-effacement (moving toward others) terpenuhi lewat figur sang ibu (dan keluarga kakeknya). Figur sang ayah diakuinya sendiri tidak ia perlukan. Dengan memperoleh perhatian yang besar dari orang lain, Sartre dapat menaklukkan situasi yang mengancam (threatening situations), sehingga pada masa ini ia hampir tidak merasakan basic anxiety dan basic hostility.

Di sisi lain, perhatian berlebih yang diterima oleh Sartre kecil sekaligus memperkuat corak moving against others, terutama tipe narcissistic expansion. Hal ini tampak dari rasa percaya diri Sartre yang sangat tinggi (”aku tampan”) dan keyakinan tak-tergoyahkan akan talenta dan kemampuannya (“aku seorang jenius”). Akibatnya seperti siklus: ia memang disukai dan dimanja oleh keluarga besarnya—dan ia bersikap manis dan perayu demi mendapatkan perhatian itu kembali.
II. MUNCULNYA BASIC ANXIETY DAN BASIC HOSTILITY
Masa-masa kecil nan bahagia Sartre tidak berlangsung lama. Dalam perjalanan waktu selanjutnya, si Poulou menghadapi setidaknya dua peristiwa penting yang kemudian memunculkan basic anxiety dan basic hostility. Kedua peristiwa tersebut, sejalan dengan pendapat Karen Horney yang menekankan pentingnya masa kanak-kanak, dapat dianggap sebagai suatu faktor pendorong lahirnya filsafat eksistensialisme à laSartre [terlepas dari penolakan terang-terangan Sartre atas psikoanalisis; ia membantah ada hubungan antara masa kecil dan (pemikiran) masa dewasanya].
2.1. Pengalaman akan Kejelekan Diri
Segalanya bermula ketika Sartre sekeluarga berlibur di pantai. Ia terkena demam. Celakanya, pada zaman itu profesi medis sangat dihormati, melampaui kapasitas yang sebenarnya. Demam yang menimpa Sartre dibiarkan (dianggap demam biasa) sehingga berkembang menjadi komplikasi serius. Alhasil, Sartre menderita leukoma di mata kanannya, yaitu pemutihan di kornea yang membuat penglihatan samar-samar. Mata kanannya lantas mengalami strabismus, seperti juling: kedua mata tidak dapat berfokus pada satu titik. Dengan kata lain, kedua mata Sartre tetap utuh, tetapi mata kanannya juling ke kanan dan tidak bisa melihat dengan benar.
Bencana terjadi ketika sang kakek membawanya ke tukang cukur. Dalam buku autobiografinya, Les Mots, ia menulis, “Saat diambil dari ibunya dia masih menakjubkan, tetapi saat dikembalikan kepadanya ia menjadi seekor kodok.” Ya, tanpa eufemisme ia mengakui rupanya begitu buruk seperti kodok. Itulah saat pertama Sartre menyadari betapa rupanya begitu jelek. Peristiwa ini sangat penting bagi konsep kunci filsafat Sartre kelak: tatapan mata (le regard) dan orang lain, liyan (l’autre). Tatapan liyan-lah (ibu, kakek, teman-teman) yang menjadikannya pusat perhatian, tetapi sekaligus menjatuhkannya. Dari liyan ia menyadari bahwa eksistensinya jelek. Jadi, eksistensi lahir dari tatapan mata liyan.
Ditilik dari perspektif Karen Horney, Sartre mengalami suatu kejatuhan besar bagi narcissistic expansion-nya. Kenyataan bahwa wajahnya seperti kodok menjatuhkan perasaan bangga sebelumnya bahwa ia tampan. Neurotic should (kebutuhan neurotik) berupa kekaguman pribadi yang dibentuk dalam idealized self-image (gambaran-diri ideal) kini tidak mampu lagi terpenuhi dalam actual self (diri aktual). Akibatnya,neurotic pride (“aku tampan”) tercerabut dari dirinya, digantikan oleh self-hate (“aku seperti kodok”).
Untuk ‘mengatasi’ hal itu, ia melakukan eksternalisasi (externalization) atas kejatuhannya sendiri (own fallibility): ia merasa jelek gara-gara tatapan mata liyan. Liyan berperan dalam kejelekan eksistensinya; seakan-akan bersikap hostile (tidak ramah, bermusuhan) terhadap dirinya. Kelak, dalam pengalaman berikutnya Sartre akan memperoleh ‘tamparan’ lebih besar yang menyebabkan munculnya basic anxietydan basic hostility.
2.2. Pengalaman dengan Ayah Tiri
Bencana besar berikutnya datang. Pada 26 April 1917, setelah menjanda selama 10 tahun, Anne-Marie menikah lagi dengan Joseph Mancy, seorang borjuis. Joseph Mancy adalah direktur perusahaan galangan kapal lokal, Delaunay-Bellville. Kedua pasutri ini lalu bersama Sartre pindah ke La Rochelle, sebuah kota tepi-pantai yang jauh dari Paris.
Peristiwa ini dapat ditafsirkan sebagai ucapan selamat tinggal pada kehangatan ibu yang selama ini ia miliki secara eksklusif. Sartre, yang saat itu sudah berusia 12 tahun, merasa begitu ketakutan. Ia tidak lagi menjadi pusat perhatian; dirampas dari kehangatan kasih sayang baik sang ibu maupun keluarga kakeknya di Paris. Semenjak mereka tinggal di La Rochelle, Anne-Marie bahkan tidak pernah lagi membaca karya tulisan Sartre, padahal menulis adalah sarana ekspresi diri yang disadari Sartre sejak kecil (!). Dengan bersikap pasif dan tidak peduli, ibunya pun berubah menjadi liyan yang buruk di mata Sartre.
Sementara itu, hari-hari di La Rochelle dengan sang ayah baru dilalui Sartre dengan jauh lebih buruk. Joseph Mancy, alumnus École Polytechnique, adalah figur ayah dengan esprit de seriux, berjiwa serius, yang menjemukan Sartre. Setiap sore setelah pulang kerja, Mosieur Mancy akan memanggil anak tirinya itu ke ruang depan yang mewah untuk memberikan pelajaran tambahan geometri dan aljabar. Pendekatan ortodoks ia terapkan: jika Sartre tak bisa menjawab dengan benar soal yang diajukan, hukumannya adalah ditempeleng. Demikianlah, sang ayah tiri tidak hanya menghilangkan kebebasan berekspresi Sartre dan mereduksi Sartre kepada kebisuan (mutisme), melainkan juga mengindoktrinasi Sartre bahwa ia tidak pintar.
Pengalaman dengan ayah tiri ini menghujam dua corak dalam diri Sartre: self-effacement (moving toward others) dan narcissistic expansion (moving against others). Oleh sebab sang ayah tiri merampas Sartre dari ibu dan keluarga kakeknya di Paris, kebutuhan akan cinta dan penerimaan (salah satu should dari self-effacement) tidak lagi ia peroleh. Apalagi, ibunya yang ia harapkan dapat menjadi pelipur lara selama masa-masa suram di La Rochelle, ternyata malah bersikap pasif dan tidak peduli (neglect). Lantas, perasaan tidak dicintai (being unlovable) dan tidak diinginkan (unwanted) itu menimbulkan self-hate. Di samping itu, narcissistic expansion Sartre pun dihancurleburkan oleh indoktrinasi sang ayah bahwa dirinya tidak pintar dalam matematika. Sekali lagi, neurotic pride (“aku jenius”) terancam digantikan oleh self-hate(“aku bodoh”)—walaupun self-hate ini tidak berlangsung lama.
Persis pada saat itulah Sartre membangun basic anxiety, yang tidak lain merupakan perasaan amarah (rage) yang ditekan (repressed) selama masa kanak-kanak karena orangtua tidak mampu memenuhi kebutuhan anak akan rasa aman (the need for security) dan ekspresi diri (the need to express fundamental emotions and thoughts). Pengalaman basic anxiety berupa (1) kejelekan diri, (2) ditelantarkan (neglected), dan (3) ditolak intelektualitasnya (rejected), berpadu menjadi suatu fondasi bagi pemikiran dan sikap hidup eksistensialis Sartre, yang intinya memandang negatif liyan bagi kebebasan individu. Inilah basic hostility: liyan adalah figur yang tidak ramah (hostile) bagi individu. “Neraka adalah orang lain,” demikian satu kalimat dalam sandiwara yang ia tulis, Huis Clos (‘Pintu-pintu Tertutup’).
III. BERSEKOLAH DI LYCÉE
Menurut Karen Horney, corak resignation (moving away from others) seringkali terbentuk setelah seseorang mengalami tuntutan berlebihan (excessive demands) dari lingkungannya tanpa penghargaan (regard) akan individualitas dirinya. Dalam hal ini, tepatlah bila dikatakan bahwa Sartre dituntut terlalu banyak dari sang ayah tiri tanpa pujian secuil pun. Pengalaman-pengalaman tersebut mengubah secara radikal corak hubungan interpersonal Sartre, yang semula self-effacement dan narcissistic expansion menjadi resignationketika remaja dan dewasa.
3.1. Dengan Teman-teman Sekolah
Di lycée (sejenis sekolah persiapan untuk masuk perguruan tinggi) Sartre ‘si pengkhayal berkacamata’ sering dicemooh oleh teman-teman sekolah karena ia tampil lebih necis dibandingkan semua mereka. Sikap anak-anak itu, anehnya, justru membuat Sartre puas akan kondisi dirinya (self-sufficient). Ia lantas menjadi seorang penyendiri yang tertutup—bukan karena ia merasa minder akibat cemoohan teman-temannya, melainkan karena independensi tak terkalahkan yang menjaga kepalanya tetap tegak. Neurotic should-nya ialah tidak terikat atau secara emosional terlibat dengan siapa pun. Oleh sebab itu, ia tidak merasa perlu untuk ‘melayani’ cemoohan itu. Cukup dengan kejeniusannya, ia akan sanggup mengatasi anak-anak yang ‘tidak ada apa-apanya’ itu.
Corak resignation tampak semakin jelas, bahkan, ketika banyak teman sekolah Sartre tinggal hanya bersama ibu mereka selama Perang Dunia I, sebab ayah mereka harus ikut berperang. Mereka yang ayahnya gugur di medan perang merasa kesepian dan ingin melampiaskan kesedihan pada siapa pun yang mereka anggap lemah. Sartre, tanpa simpati sedikit pun, sama sekali tidak berhasrat menyesuaikan diri dengan ‘gerombolan para dungu’ itu. Ia bersedia bergabung asalkan mereka mengikuti syarat-syarat yang ia tentukan sendiri (!).
3.2. Menolak Tuhan
Keinginan untuk bebas dan tidak diganggu atau terikat oleh orang lain pada akhirnya mencapai suatu titik ekstrem ketika Sartre pada usia 12 tahun secara sadar melepaskan diri dari adanya ‘liyan’ teragung, Tuhan sendiri. Bagi Sartre ‘ABG’, Tuhan adalah figur yang suka menghukum, mahatahu, dan ada di mana-mana, sehingga mampu melongok ke setiap sudut-sudut relung hatinya yang diliputi rasa bersalah. Ini jelas memuakkan. “Aku membutuhkan seorang Pencipta Semesta, namun orang memberikan daku seorang bos nomor wahid.” Sartre menyebut gaya Tuhan ‘sang polisi’ ini sebagai ‘kekurangajaran yang keterlaluan’. Ia bercerita,
“Aku pernah bermain dengan korek api dan menghanguskan sebuah karpet kecil. Aku sedang bermaksud menyembunyikan perbuatanku, tatkala Tuhan tiba-tiba saja melihatnya. Aku merasakan tatapan mata-Nya di dalam benakku terdalam dan juga pada kedua tanganku; aku mengumpet-umpet di dalam kamar mandi sebentar di sini, sebentar di sana, namun brengseknya terus saja ketahuan, suatu sasaran yang hidup. Murkaku lalu timbul: aku jadi marah besar atas kekurangajaran yang kasar ini. Aku mengumpat, aku mengeluarkan sumpah serapah yang pernah kukenal selama ini. Sejak saat itu Tuhan tidak memandangiku lagi.”
Corak resignation membuat Sartre menganggap Tuhan mengganggu kebebasan (freedom) dan kedamaian sempurnanya (perfect serenity). Tuhan adalah liyan yang ikut campur urusan pribadi, mengungkit kesalahan-kesalahannya hingga ia tidak punya tempat untuk melarikan diri. Merasa muak, Sartre pun menolak Tuhan pada usia semuda itu. Kelak, pemikirannya ini akan ia kembangkan dan formulasikan dalam filsafat eksistensialis-ateistiknya: manusia sungguh-sungguh bebas dan, atas nama kebebasan, Tuhan harus tidak ada karena adanya Tuhan menghambat kebebasan manusia!
IV. PEMUDA PENGGILA FILSAFAT DAN WANITA
Sartre berhasil lulus ujian baccalauréat (ujian sekolah nasional) dan sejak tahun 1924 berkuliah di École Normale Supérieure, sebuah perguruan tinggi terkemuka dan sangat bergengsi di Perancis. Pada masa-masa ini Sartre mengembangkan pemikiran melalui diskursus filsafat dengan sesama mahasiswa di cafés di Left Bank, Perancis.
Di samping bergelut dengan buku-buku tebal, bir, dan obrolan filsafat, Sartre ternyata begitu kecanduan dengan wanita. Tampaknya Sartre mengalami satu tahapan vicious circle (‘lingkaran setan’) berikutnya: kebutuhan yang lebih berlebih akan afeksi dan cinta, yang mana tidak ia peroleh sejak ibunya menikah lagi. Dan, begitulah yang terjadi; banyak wanita terperdaya oleh intelektualitasnya. Daya tarik Sartre jauh mengungguli keburukan wajah ‘kodok’-nya itu. Ini menumbuhkan kembali kepercayaan diri Sartre, terutama daya rayunya, yang sejak kecil selalu meyakinkan dirinya, “Aku jenius.”
Salah satu gadis yang terpikat itu adalah Simone Bertrand de Beauvoir, gadis cantik dan brilian berusia 21 tahun. Ia mahasiswi ENS, 3 tahun di bawah Sartre. Berlatar belakang juga borjuis, Simone memperoleh pendidikan kelas atas dari para suster biara yang, ironisnya, justru ia tentang habis-habisan saat itu. Perkenalan Simone dan Sartre sendiri terjadi tahun 1928 ketika Sartre berusia 24 tahun. Sang ‘Castor’ (‘The Beaver’, Berang-berang), begitu julukan Sartre pada Simone, pun mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dalam waktu singkat, Sartre menjalin kisah asmara dengan Simone. Baginya, Simone adalah pengganti ibu-kakak yang selama ini hilang. Corak self-effacement yang sebelumnya diarahkan pada sang ibu kini diambil alih oleh Simone. Dan, dalam banyak hal Simone benar-benar berperan ganda sebagai ‘ibu Sartre’: ia mengatur jam mandi, jadwal berpakaian, dan bahkan jadwal pemakaian salep jerawat Sartre (!). Perlakuan seperti ini memenuhi salah satu neurotic should dalam corak self-effacement, yaitu mitra yang akan mengurus kehidupan.
Akan tetapi, meskipun Sartre merasa menemukan amour nécessaire (cinta yang tidak bisa tidak, cinta yang perlu dan dibutuhkan) dalam diri Simone, ia tidak lantas menjadi sang ‘pengemis cinta’. Sebaliknya, setelah mereka berdua lulus ujian agrégation filsafat di ENS pada tahun 1929—dengan Sartre menduduki peringkat pertama dan Simone peringkat kedua—corak resignation Sartre tetap terasa begitu kental. Hal ini dapat dilihat ketika ia menawarkan suatu ‘pakta percintaan’ pada Simone: mereka sepakat untuk hidup bersama secara bebas, transparan, tanpa menikah, tanpa anak. Dengan prinsip transparansi, keduanya bebas berpacaran dan have sex dengan siapa pun asalkan saling memberitahu apa yang dilakukan (!)—sungguh suatu gebrakan atas moralitas konservatif kaum borjuis. Dengan begitu, wanita dan pria lain yang mereka kencani adalah sekadar amours contingentes; cinta-cinta yang kontingen, ada begitu saja, sewaktu-waktu bisa berubah. Pola seperti ini lagi-lagi merupakan indikator corak resignation, dalam arti ketiadaan komitmen atau ikatan (detachment, independence) dalam suatu hubungan interpersonal. Singkatnya, hanya ada satu komitmen, yaitu “tidak ada komitmen”.
Setelah mereka berdua terpisah karena Sartre harus menjalani masa wajib militer selama delapan belas bulan, pada tahun 1931 Sartre menerima tawaran mengajar filsafat di SMA khusus laki-laki, François Ière di kota pelabuhan Le Havre, sementara Simone mengajar di SMA khusus perempuan di Rouen, dekat Le Havre. Di sinilah Sartre sungguh mengajarkan dan memraktekkan hidup eksistensialis. Ia memperbolehkan murid-muridnya merokok, mengajari mereka seperti teman sendiri, berdiskusi di bar sambil minum bir, dan pergi ke rumah bordil tanpa sembunyi-sembunyi. Dengan semangat resignation ia menekankan kebebasan, ketaktergantungan (independence) diri sendiri; masa bodo dengan aturan moral kaum borjuis. Agaknya pendirian Sartre ini juga dilatarbelakangi kebencian pada gaya hidup borjuis ayah tirinya yang dulu melecehkan narcissistic expansion-nya itu. Meskipun populer di kalangan murid, akhirnya Sartre dipecat.
V. SARTRE DALAM TRIO AMOREUX: MENCINTAI, MENDOMINASI, SEKALIGUS MENGABAIKAN
Sepanjang hidupnya, Sartre terlibat affairs dengan banyak gadis. Selama mengajar di Le Havre, ia diperkenalkan oleh Simone dengan Olga Kosakiewics, salah satu siswi Simone di Rouen. Setelah trio pertama Sartre-Simone-Olga berakhir, giliran Wanda, adik perempuan Olga, masuk ke dalam lingkaran duo Sartre-Simone. Ironisnya, Simone, yang ternyata juga lesbian, terlebih dulu ‘menikmati daging-daging segar’ para siswinya sebelum memberikannya kepada Sartre.
Di samping para perempuan contigentes di atas, kisah trio amoreux yang paling menghebohkan barangkali adalah trio Sartre-Simone-BiancaBianca Lamblin, gadis 16 tahun keturunan Yahudi dari Polandia, adalah juga salah satu siswi Simone. Karena kekagumannya akan cara mengajar guru filsafatnya itu, Bianca terlibat dalam hubungan yang lebih intens dengan Simone. Lama-lama, hubungan mereka berdua bukan lagi seperti guru dengan murid. Bianca sendiri mulai berkenalan dengan konsep seks bebas dan menganggap homoseksualitas itu wajar—hal mana yang dipraktekkan guru yang dikaguminya itu. Puncaknya, pada usia 17 tahun ia berhubungan seks dengan Simone.
Pada tahun 1938, Simone ‘menggiring’ Bianca pada Sartre. Ia paham betul perangai Sartre yang selalu tergila-gila pada gadis baru. Demikianlah, Bianca pun juga mengagumi Sartre yang kejeniusannya mengalahkan ‘wajah kodok’-nya itu. Sartre sendiri terpesona dan mengencani Bianca dengan cara-cara yang romantis. Setelah menyatakan cintanya pada gadis belia itu, Sartre mengajak Bianca ke hotel untuk ‘menyempurnakan’ cinta mereka. Bencana. Di ranjang, Bianca merasa Sartre tidak sehangat biasanya. Ia bingung dan takut; ia merasa tengah dikasari. Akan tetapi, usai hubungan itu, ia merasa tetap terikat secara emosional dengan duo Sartre-Simone. Sartre sendiri selalu menyanjung Bianca dalam surat-surat cinta yang ia tuliskan. Maka, Bianca percaya ia tetap menjadi bagian dari trio tersebut.
Pengalaman paling menyakitkan terjadi ketika Hitler menyerbu Perancis, 1939. Terancam oleh identitas Yahudinya, Bianca malah diputus oleh Sartre tanpa alasan sedikit pun. Ketika akhirnya Bianca dapat bertemu Sartre, April 1940, Sartre hanya menjawab, “Saya tenang, karena saya yakin bahwa kamu akan bisa mengatasi kesedihanmu.” Tak disangka, di tengah situasi politik yang mengancam itu, Sartre tetap mengutamakan ‘ketenangan dirinya sendiri’, tanpa menaruh banyak perhatian pada mantan kekasihnya itu (not have to adjust to anyone else’s needs); atau setidaknya, orang-orang yang menderita akibat perang.
Dari pengalaman Bianca di atas, kita dapat melihat kombinasi kepribadian Sartre dalam relasi interpersonal dengan para wanita (dan gadis). Ia mencintai mereka (self-effacement, moving toward others), ia ingin menaklukkan mereka (expansion, moving against others), tetapi secara paradoksal ia sekaligus tidak ingin terikat pada mereka (resignation, moving away from others). Dari para wanita itu, Sartre ingin dicintai dan berhubungan seks (self-effacement). Namun, dalam relasi cinta tersebut ia hanya mau berada di posisi yang dominan. Dengan menulis surat cinta dan kencan romantis, ia mengontrol Bianca agar tetap ‘tunduk’ padanya (expansion). Pada akhirnya, meskipun orang lain terikat pada dirinya, ia sendiri tidak mau memiliki komitmen yang sama (resignation). Sartre sendiri berkilah,
“Kesadaran bebas manusia tidak bisa mengikatkan dirinya pada sebuah janji/sumpah apa pun. Karena janji adalah sesuatu di masa depan, sedangkan kebebasan tidak bisa dipinjamkan kepada masa depan. Itulah sebabnya manusia bebas tidak bisa berjanji/bersumpah.”
Konsekuensi dari ‘pakta percintaan’ Sartre-Simone memang besar (dan keterlaluan?). Orang ketiga di luar lingkaran mereka sungguh-sungguh dianggap liyan yang kontingen; ada begitu saja, bisa pula tidak ada. Olga, Winda, dan Bianca adalah wanita-wanita kontingen yang bisa dipakai dan dibuang begitu saja, setiap saat. Dan, sekali lagi, Sartre menjalankan corak resignation secara konsisten.
VI. SARTRE DALAM DUNIA POLITIK
Sikap hidup Sartre dalam menanggapi dinamika politik dunia dapat memberikan kesan membingungkan karena ambivalensi alias ketidakjelasan sikap yang ia ambil. Misalnya saja, pada tahun 1933-1934, Sartre pernah tinggal di Berlin untuk mempelajari fenomenologi Husserl di French Institute. Pada masa itu, Hitler sedang gencarnya mengumpulkan kekuatan untuk memulai proyek aryanisasi di bidang politik, sosial, dan budaya. Namun, Sartre justru tidak sadar akan adanya bahaya yang mengancam. “Inilah yang saya lakukan di Jerman, dari pagi sampai jam 2 siang: filsafat. Lalu saya makan siang. Jam lima sore sampai malam: kesusasteraan, saya kembali ke pekerjaan saya menulis la Nausée.” Celakanya, Sartre pun masih tidak percaya ketika Hitler sampai menyerang Perancis pada tahun 1939. Sartre seakan hanya berkutat pada dunianya sendiri (moving away from others), pada perfect serenity-nya sendiri. Ia tidak merasa perlu terlibat (detachment) dengan lingkungan sekitarnya; terbebas dari kehendak dan obsesi (free of desires and passions) zamannya.
Selain itu, sejak tahun 1952 Sartre memuja komunisme (barangkali sebagai perwujudan kebenciannya atas kaum borjuis). Ia mendukung habis-habisan rezim diktatorial URSS. Tetapi, baru pada tahun 1956, ketika URSS menyerbu Budapest, Hongaria, Sartre menyadari kesalahannya. Kesalahan yang sama diulanginya ketika ia mendukung Revolusi pimpinan Fidel Castro di Kuba—barulah pada tahun 1971 Sartre menarik kembali dukungannya. Celakanya, ia salah pilih kembali dengan mendukung Mao Zedong di Cina. Padahal, ia pernah menulis, “kepentingan partai atau kepentingan revolusi sering disalahgunakan untuk menjustifikasi apa pun.”
Ambivalensi sikap Sartre agaknya bisa dijelaskan dengan dalih yang sama seperti yang ia pakai dalam hubungan dengan wanita: manusia tidak bisa membuat janji. Sikap hidup yang bercorak resignation sungguh menghambatnya untuk benar-benar terlibat dengan orang lain dan lingkungannya. Baginya, peristiwa politik pun hadir dalam kontingensi; bisa ada, bisa pula tidak ada. Jadi, untuk apa berlelah-lelah menceburkan diri dalam lautan kontingensi, jika itu hanya merusak perfect serenity diri sendiri?
VII. EKSISTENSIALISME À LA SARTRE: PENGEJAWANTAHAN CORAK RESIGNATION
Di ranah filsafat, Sartre mengristalisasi pemikirannya akan eksistensi yang kontingen dan konsekuensinya atas relasi interpesonal melalui tulisan-tulisan. Sepanjang hidup hingga kematiannya, ia menghasilkan banyak karya-karya yang termasyhur: roman La Nausée (Rasa Muak, 1938); disusul naskah sandiwara Les Mouches (Lalat-lalat, 1943) dan Huis Clos (Pintu-pintu Tertutup, 1944); eksposisi L’Être et le Néant (Keberadaan dan Ketiadaan, 1943) dan L’Existentialisme est un humanisme (Eksistensialisme itu Humanisme, 1946); dan otobiografi Les Mots (Kata-kata, 1963).
Bukan pada tempatnya penulis membahas secara mendetail perkembangan pemikiran filsafat (dan politik) Sartre. Poin terpenting ialah penulis ingin menunjukkan bahwa sikap hidup eksistensialis à la Sartre yang cenderung individualis, bebas, mandiri, tidak mau terikat pada liyan (baik orang lain maupun Tuhan), mengganggap liyan adalah “neraka”, dan bertanggung jawab pada diri sendiri (bukan pada aturan moral kaum borjuis), sungguh mencerminkan, dalam terminologi Karen Horney, corak resignation (moving away from others).
Basic anxiety dan basic hostility yang dialami selama masa kecil bukan tidak mungkin menjadi fondasi psikologis utama yang membangun filsafat eksistensialisme Sartre. Sesungguhnyalah, kita dapat menarik benang merah dalam hal psikologi kepribadian Sartre yang terjalin sejak masa kanak-kanak hingga masa dewasa; teristimewa apabila kita berasumsi bahwa pemikiran seorang filsuf pasti dilatarbelakangi pengalaman hidupnya. Sartre bisa saja menolak faktor psikologis ini; tetapi, toh, sejarah menunjukkan bahwa Sartre tidak sendirian—Platon menolak demokrasi karena demokrasi-lah yang membunuh Sokrates, Agustinus menekankan rahmat Tuhan setelah bertobat dari kehidupan immoralnya, Emmanuel Lévinas menuntut kepedulian atas orang lain setelah keluarganya dibantai Nazi, dan Karl Marx membenci kaum kapitalis karena mengisap kaum buruh.
Oleh sebab itu, kita dapat menyimpulkan, dari perspektif Karen Horney, bahwa kepribadian Sartre dan seluruh bangunan filsafatnya akan kontingensi dan kebebasan memiliki corak umum resignation.[]
Jean Paul Sartre

Jean Paul Sartre

Add Comment


Enche

Pemikiran Jean-Paul Sartre dalam “Existentialism and Humanism
Oleh: Hendar Putranto : Mahasiswa STF Driyarkara Jakarta

Filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre lahir di Paris tanggal 21 Juni 1905. Karir filsafatnya baru mendapatkan perhatian yang besar dari publik intelektual setelah ia menulis dan menerbitkan L’être et le néant. Essai d’ontologie phénomenologique (1943). Dengan buku ini segera Sartre menjadi filsuf ternama dan diidolakan sebagai salah seorang pemimpin gerakan filosofis yang disebut eksistensialisme. Meskipun buku ini mengorbitkan nama Sartre namun toh harus diakui bahwa tidak begitu banyak orang yang memahami pemikirannya yang memang rumit, khususnya yang berbicara tentang kesadaran. Untuk mempopulerkan idenya itu, maka tiga tahun kemudian Sartre mengeluarkan buku kecil berjudul L’existentialisme est un humanisme (1946). Lewat buku ini Sartre menyingkatkan pemikirannya sekaligus berupaya menanggapi sejumlah kritik yang dialamatkan kepadanya[3], khususnya dari kaum komunis dan pihak Kristen. 

Buku itulah yang kini ingin kami eksplorasi dalam tulisan singkat ini. Adapun tujuan dekat dari penulisan ini adalah untuk memberikan sekelumit gambaran yang lebih terang mengenai eksistensialisme sebagaimana dimaksud Sartre dan dari situ kita bisa belajar sejumlah tema umum eksistensialisme seperti liberté (kebebasan), engagement (komitmen), angoisse (kecemasan), responsibilité (tanggungjawab), subjectivité (subjektivitas) dan bahwa ‘eksistensi mendahului esensi.’ Tujuan jauh dari tulisan ini adalah agar pembaca tergerak untuk langsung membaca dari sumber-sumber pertama dan bukan melulu tergantung dari keterangan yang diberikan dalam buku Sejarah Filsafat atau kritik atasnya. Selanjutnya diharapkan agar kita dapat menjadi kritis terhadap situasi dunia di sekeliling kita, kritis terhadap ideologi-ideologi yang bertebaran di sana-sini dan tidak lupa untuk menjadi kritis terhadap pemikiran Sartre dan terhadap diri sendiri. Tulisan akan dibagi menjadi 3 bagian pokok yang satu dengan lainnya saling berkaitan, walaupun mungkin secara longgar.

Bagian pertama akan berbicara tentang eksistensialisme itu sendiri dengan keberagaman nuansanya. Dalam bagian kedua, penulis akan melihat apa yang dimaksud Sartre dengan humanisme. Pada bagian ketiga akan disampaikan sejumlah kritik atas pandangan Sartre. Mengingat keterbatasan ruang pengungkapan, tidak semua tema menarik yang dihantar oleh Sartre dalam bukunya tersebut akan penulis uraikan di sini. 

Penjernihan istilah Eksistensialisme oleh Sartre
Atas sekian banyak tuduhan yang dialamatkan kepadanya, atau kepada aliran pemikiran yang ia geluti, yaitu Eksistensialisme, Sartre menanggapinya dengan menggunakan cara menidak, “Eksistensialisme itu tidak seperti ini dan tidak seperti itu.” Eksistensialisme, misalnya dituduh sebagai nama lain dari pesimisme, quietisme[4], bahkan filsafat keputus-asaan yang sama sekali tidak memberikan gambaran yang positif tentang hidup manusia melainkan sisi gelap dan jahat darinya[5]. Dengan agak berlebihan bahkan Sartre mengatakan bahwa kejelekan atau keburukan itu diidentikkan dengan eksistentialisme[6]. Dari pihak Komunis, Eksistensialisme juga dituduh sebagai sebuah filsafat kontemplatif yang berarti suatu kemewahan dan itu identik dengan filsafat kaum bourgeois. Berikutnya...
Enche

Dari pihak Katolik, seperti Mlle.Mercier, dilancarkan tuduhan bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-ihwal yang memalukan, yang rendah, yang patut dicela, yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona, keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Lebih jauh lagi, eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Singkatnya, eksistensialisme itu melulu voluntary. Artinya, bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai.

Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam ke-terisolir-annya. Dan ini, dalam pandangan kaum komunis, dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni---seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya---karenanya, eksistensialisme dengan ego-nya, tidak akan sanggup menjangkau sesamanya, apalagi berpikir tentang tentang solidaritas. 

Namun, apakah memang tepat tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada Sartre dan eksistensialisme ini? Bagaimana Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut? Pertama, ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda, dan radikal sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak punya arti apa-apa lagi[7]. Kedua, guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya, pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Selain itu, eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition[8]. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Ketiga, definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi[9] dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif. Apa maksud Sartre dengan proposisi ini? 

Secara sederhana, Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife).[10] Seorang pembuat pisau kertas, disebut artisan, tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat, kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Esensi dari pisau kertas itu, yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin, mendahului eksistensinya. Dengan kata lain, produksinya mendahului eksistensinya. Di sini, kita memandang dunia dari sudut pandang teknis. Namun, hal itu berbeda tatkala kita membayangkan Allah sebagai Sang Pencipta yang berarti mengatribusikan padaNya kualitas “seorang” supernatural artisan. Apapun doktrin yang kita anut mengenai penciptaan ini, kita selalu mengandaikan bahwa tatkala Allah menciptakan, Ia tahu persis apa yang sedang Ia ciptakan. Dengan begitu, tiap individu manusia adalah realisasi dari konsepsi tertentu yang berada dalam pengertian ilahi. Dengan begitu, manusia memiliki kodrat tertentu (human nature). Artinya konsepsi tentang esensi dirinya, di mana masing-masing manusia adalah sebuah contoh khusus dari suatu konsepsi universal: konsepsi tentang Manusia, entah itu animal rationale (Aristoteles), atau wild man of the woods (Rousseau), man in the state of nature (Thomas Hobbes[b]), dan the bourgeois ([b]Karl Marx).

Justru pandangan di mana “esensi manusia mendahului eksistensinya” seperti ini yang keliru dan dikritik tajam oleh Sartre. Bagi Sartre, [b]jika Allah tidak eksis[b], setidaknya ada satu makhluk yang eksistensinya ada sebelum esensinya, sebuah makhluk yang eksis sebelum ia dibatasi oleh macam-macam konsepsi tentang eksistensinya itu. Makhluk itu adalah manusia. Berikutnya...
Enche

Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” adalah bahwa pertama-tama manusia itu eksis (ada, hadir), menjumpai dirinya, muncul (Inggris: surges up; Jawa: mentas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya itu siapa. Jika manusia sebagai eksistensialis melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan, hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia, sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia). Singkatnya, Manusia adalah[11].
Pandangan ini mencengangkan, namun inilah prinsip pertama dari eksistensialisme: Manusia tak lain tak bukan adalah dia yang menentukan dirinya sendiri mau menjadi apa. Apakah pandangan ini tidak terlalu subyektif? Lalu, di mana tempat orang lain dalam eksistensi si individu itu? Bagaimana dengan hal-hal tertentu yang tidak bisa kita tentukan sendiri misalnya: kita lahir di mana, dalam keluarga apa, dibesarkan dalam lingkungan berbahasa apa, dan macam-macam hal lainnya? 

Mengenai subjektivitas ini, Sartre mengakuinya. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada, katakanlah, batu atau meja. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis----bahwa manusia adalah manusia (man is), sesuatu yang mendesak, bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi, maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya, ia memikul beban eksistensinya itu, yaitu tanggungjawab, di pundaknya. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia. Kita tentu bertanya, bagaimana bisa demikian? 

Untuk menjawab ini, Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif, yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik, dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Berangkat dari pengertian ini, kita siap memasuki dimensi kedua dari eksistensialisme yang mau dibuktikan Sartre dalam tulisannya ini yaitu tentang humanisme. 


Humanisme dalam pandangan Sartre

Di atas sudah kita singgung secara sepintas bahwa Sartre menempatkan martabat manusia lebih luhur daripada benda-benda. Dengan ini saja kita bisa beranggapan bahwa yang menjadi pusat perhatian Sartre adalah manusia dengan segala kompleksitas eksistensinya. Pandangan Humanisme yang kalau kita lacak dalam sejarah pemikiran Barat sebenarnya bertolak dari gerakan Humanisme di Eropa pada abad ke-15 dengan tokohnya yaitu Erasmus Huis. Gerakan Humanisme ini mencapai puncaknya pada saat Revolusi perancis (k.l. 1789-1799) di mana kebebasan (liberté), kesetaraan (egalité) Berikutnya...
Enche

dan persaudaraan (fraternité) menjadi tiga pilar pokok yang mendasari kesadaran tidak hanya manusia sebagai individu yang bebas dan otonom (dalam artian menentukan dirinya sendiri), namun juga kesadaran akan nilai intrinsik dari manusia itu sendiri dan tempatnya sebagai pusat dari realitas. Lalu, apakah Sartre sebenarnya hanya mengulangi apa yang sudah didengung-dengungkan beberapa ratus tahun sebelumnya dengan mengatakan humanisme? Apa yang baru dalam konsepsi Sartre tentang humanisme? Apa hubungannya eksistensialisme dengan humanisme?
Dalam pandangan Sartre, yang membedakan humanisme-nya dengan humanisme yang sudah digagas oleh banyak filsuf yang mendahuluinya terletak pada radikalitasnya[12]. Nilai humanisme pada era sebelumnya oleh Sartre dianggap belum radikal karena masih mengandaikan adanya nilai-nilai yang ditentukan dari luar diri manusia itu sendiri, entah itu Tuhan, Realitas Tertinggi, ataupun norma-norma buatan manusia yang dilanggengkan. Individu tidak mendapatkan tempat untuk menciptakan sendiri nilai-nilai yang ia percayai dan yang ia libati (engagement). Baginya, tidak akan ada satu perubahan apapun jika kita masih menganggap bahwa Tuhan itu ada. Kita seharusnya menemukan kembali norma-norma seperti kejujuran, kemajuan dan kemanusiaan, dan untuk itu Allah harus dibuang jauh-jauh sebagai sebuah hipotesis yang sudah usang dan yang akan mati dengan sendirinya. Bagi Sartre, mengutip Dostoevsky[13], “Jika Allah tidak eksis, maka segala sesuatu akan diizinkan.” Inilah titik berangkat dari eksistensialisme yang diacu Sartre. Manusia lantas tidak bisa lagi menggantungkan dirinya erat-erat pada kodrat manusia yang spesifik dan tertentu. Tidak ada determinisme. Manusia itu bebas, manusia adalah bebas. Tidak ada lagi excuse, manusia ditinggalkan sendirian. Manusia dikutuk, terhukum untuk menjadi bebas. Terkutuk sebab ia tidak menciptakan dirinya sendiri namun sungguh-sungguh bebas. Dan terhitung sejak ia terlempar ke dunia ini ia bertanggungjawab atas segala sesuatu yang ia lakukan. Action (tindakan), itulah kata kunci yang mau ditunjukkan Sartre kepada kita guna memberi makna pada kemanusiaan. Action dan bukan quietism. Dengan kata lain, “Man is nothing else but what he purposes, he exists only in so far as he realises himself. He is therefore nothing else but the sum of his actions, nothing else but what his life is.”[14] Jadi, jelas di sini bahwa realisasi diri manusia lewat tindakan adalah yang sesungguhnya membuat dirinya menjadi manusia. Namun tindakan ini jangan dimengerti sebagai tindakan tunggal pada saat tertentu saja. Tindakan di sini dimengerti sebagai totalitas dari rangkaian tindakan-tindakan yang sudah, sedang dan akan dilakukannya sepanjang hidupnya. A man is no other than a series of undertakings that he is the sum, the organisation, the set of relations that constitute these undertakings. Lewat itulah muncul apa yang kita sebut komitmen. I ought to commit myself and then act my commitment. Dan komitmen itupun perlu dipahami sebagai komitmen total dan bukan komitmen kasus-per-kasus atau tindakan tertentu. Inilah yang membedakan Humanisme Sartre dengan humanisme sebelumnya. Konsepsi humanisme Sartre tidak hanya bermain di level abstrak-spekulatif, namun lebih pada etika tindakan dan self-commitment. 

Konsepsi humanisme Sartre yang kedua menyangkut martabat manusia itu sendiri, satu-satunya hal yang tidak membuat manusia menjadi sebuah objek. Dengan mengkritik materialisme yang mendasarkan segala realitas (termasuk manusia di dalamnya) pada materi[15], Sartre mau membangun kerajaan manusia (bukan Kerajaan Allah!) sebagai sebuah pola dari nilai-nilai yang berbeda dari dunia materi. Subyektivitas sebagaimana sudah disinggung pada bagian satu di atas tidak bisa dipersempit artinya menjadi individual subjectivism. Sebabnya apa? Meminjam istilah yang digunakan Descartes, namun sekaligus mengoreksinya, dalam kesadaran cogito, aku berpikir, tidak hanya diri sendiri yang ditemukan namun juga orang lain. Manusia tidak bisa menjadi apapun kecuali kalau orang lain mengakui (bukan menentukan) dirinya secara demikian. Penyingkapan jati diriku pada saat yang bersamaan berarti penyingkapan diri orang lain sebagai sebuah kebebasan yang berhadapan dengan kebebasanku. Berhadapan baik dalam artian “bagi” atau “melawan.” Dengan begitu, kesadaran akan diriku dalam dunia ini sifatnya adalah inter-subjectivity. Berkenaan dengan itu, meskipun menyangkal adanya kodrat manusia, Sartre mengakui adanya a human universality of condition. Tanpa bermaksud masuk ke dalam detil dari uraian ini, cukuplah dikatakan di sini bahwa human universality ini bukan sesuatu yang sudah jadi (given), namun yang harus senantiasa dibuat oleh manusia yang melakukan tindakan pemilihan lagi dan lagi selama hidupnya. Berikutnya...
Enche

Sebagai penutup dari bagian ini, kiranya pantas diajukan argumen ketiga yang memberikan ciri pada humanisme Sartre. Berangkat dari keberatan yang diajukan pada Sartre, “nilai-nilaimu itu tidaklah serius sebab bukankah kamu sendiri yang memilih mereka,”[16] Sartre menyanggahnya demikian. Pertama, Sartre sudah menekankan bahwa tidak ada Tuhan yang menciptakan nilai-nilai bagi manusia. Manusia sendirilah yang harus menemukan (invent dan bukan create) nilai-nilai bagi dirinya sendiri. Dan penemuan nilai-nilai ini berarti bahwa tidak ada yang à priori dalam hidup. Hidup belumlah apa-apa jika belum dihayati. Dan penghayatan ini, engkau sendirilah yang menetukannya. Dan nilai atau makna atas kehidupan ini tak lain tak bukan adalah sesuatu yang engkau pilih. Karenanya menjadi jelas bahwa selalu ada kemungkinan untuk menciptakan sebuah komunitas manusia. Dengan itu, Sartre mau menegaskan bahwa yang ia maksud dengan humanisme di sini bukanlah humanisme dalam kerangka teori yang meninggikan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan sebagai nilai tertinggi (supreme value).[17] Bagi Sartre ini humanisme yang absurd sebab hanya anjing atau kuda yang paling mungkin berada dalam posisi untuk melontarkan penilaian umum atas apa manusia itu. Seorang eksistensialis tidak pernah menganggap manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri sebab manusia masih harus ditentukan[18]. Humanity yang absurd semacam ini akan menggiring manusia pada pengkultusan, suatu sikap tertutup-pada-dirinya-sendiri sebagaimana sudah dirintis oleh Auguste Comte (Comtian humanism), dan berpuncak pada Fascisme. 

Pengertian humanisme yang diikuti Sartre adalah pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang mampu mengejar tujuan-tujuan transenden. Karena manusia adalah makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri, self-surpassing, dan mampu meraih obyek-obyek hanya dalam hubungannya dengan ke-self-surpassing-annya, maka ialah yang menjadi jantung dan pusat dari transendensinya (bukan dalam pengertian bahwa Tuhan adalah Yang Transenden, namun dalam pengertian self-surpassing). Dan relasi antara transendensi manusia dengan subjectivitas (dalam pengertian bahwa manusia tidak tertutup dalam dirinya sendiri melainkan selalu hadir dalam semesta manusia) itulah yang disebut Sartre dengan existential humanism. Ini disebut humanisme karena mengignatkan kita bahwa manusia adalah legislator bagi dirinya sendiri; betapapun ditinggalkan (abandoned) ia harus memutuskan bagi dirinya sendiri. Bukan dengan berbalik pada dirinya sendiri, namun dengan mencari, sembari melampaui dirinya, tujuan yang berupa kemerdekaan atau sejumlah realisasi tertentu, manusia bisa sampai pada kesadaran bahwa dirinya adalah sungguh-sungguh manusia. Yang manusia butuhkan bukanlah bukti dari eksistensi Tuhan, namun penemuan dirinya kembali dan untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali dirinya sendiri. Dalam terang pengertian inilah Sartre berani mengatakan bahwa eksistensialisme itu optimistis, bukan sebuah ajaran untuk menarik diri dari dunia ramai dan masuk ke pertapaan guna menemukan kedamaian jiwa, melainkan sebuah ajaran untuk bertindak[19] secara konkret dalam dunia nyata, dunia sehari-hari, dunia umat manusia.


Kritik dan tanggapan atas pandangan Sartre

Jeff Mason dalam tulisannya di philosophers.net[20] pernah mengatakan bahwa lebih indah dan lebih aman bagi manusia jika ia memiliki esensi lebih dulu daripada eksistensi. Ia dapat beristirahat dengan damai dalam relung nasib dan tidak perlu berjuang dengan susah-payah untuk mendefinisikan diri. Kalau itu yang terjadi, tidak perlu ada pilihan-pilihan eksistensialis, tidak akan ada tanggungjawab yang tak terpikul, tidak akan ada kecemasan yang mengalir. Kiat tinggal berharap akan imortalitas dan dunia “di sana.” Namun justru di sinilah kritik Sartre masuk dan mengena. Kita tidak bisa menipu diri sendiri (self-deception atau istilah Sartre mauvaise foi) dengan menghindar dari tanggungjawab pelibatan (engagement), lebih-lebih dalam artian sosial-politis. Walter Kaufmann bagaimanapun juga menafsirkan situasi manusia yang Sartre bangun dengan filsafatnya sebagai situasi yang absurd dan tragis. Dunia Sartre lebih dekat dengan dunia Shakespeare yang tragis-melankolis daripada dunia dalam pandangan Buddhist di mana life follows on life and salvation remains always possible[21]. Berikutnya...
Enche

Ada situasi-situasi tertentu di mana apapun keputusan dan pilihan yang kita buat, kita tidak bisa lari dari rasa bersalah. Walau demikian, dalam rasa bersalah dan kegagalan itu manusia tetap dapat mempertahankan integritasnya dan memberontak terhadap kungkungan-kungkungan maupun ancaman-ancaman yang datang dari dunia.[22]
Mengenai kebebasan sebagaimana didewakan Sartre dalam mengartikan eksistensi eksistensi=kebebasan), kita mungkin bisa meratap bersama John Macquarrie yang mengatakan bahwa semakin kita berbicara tentang kebebasan, semakin kebebasan itu tidak menjadi jelas artinya karena sifatnya yang elusif[23]. Sudah barang tentu, Sartre agak naïve saat mengatakan bahwa manusia itu bebas secara total dan sepenuhnya menentukan dirinya sendiri. Frederick Copleston lebih realistis tatkala berkomentar bahwa kebebasan kita itu sudah barang tentu dibatasi oleh segala macam faktor-faktor baik internal maupun eksternal. Apa saja misalnya? Faktor-faktor fisik dan psikis, lingkungan, pemeliharaan, pendidikan, tekanan sosial yang dihimpitkan pada kita secara terus menerus tanpa kita sadari[24] (atau bagi saya, lebih tepatnya, tatkala kita masih belum sampai pada tahap kesadaran untuk menyadari sesuatu yang membentuk diri kita). Mungkin yang baik saya anjurkan di sini, belajar dari Sartre, adalah bahwa manusia itu dalam menentukan dirinya, ia terbuka terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan (opennes to possibilities). Dalam ruang kemungkinan-kemungkinan yang tanpa batas itulah manusia eksis, bertindak, mewujudkan dirinya dan setia terhadap janjinya (komitmen) dalam mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik dan manusiawi. Dalam konteks sejarah di mana Sartre hidup (dunia yang dicabik-cabik oleh dua perang dunia, invasi tentara Jerman ke kota Paris pada tahun 1940, kekejaman NAZI atas nama ‘kemanusiaan’ demi pemurnian ras yang berujung pada puncak tragedi kemanusiaan selama abad ke-20 yaitu peristiwa Holocaust.) kritik dan filsafat Sartre ini memang kuat bersuara dan dengan lantang mengkritik orang-orang yang menipu dirinya sendiri, khususnya para penguasa/régime yang menyalahgunakan kekuasaannya dan melecehkan harkat kemanusiaan, entah dengan excuse ilmiah dan demi kemajuan (lalu bertindak kejam dan absurd) maupun dengan menghindar dari tanggungjawab sosial sembari berkata “kami tidak bisa berbuat apa-apa. Itu di luar kuasa kami. Itu sudah merupakan keniscayaan sejarah.” 

Kini, puluhan tahun sesudah Sartre menerbitkan bukunya Existentialism and Humanism, kita dipanggil untuk menemukan otentisitas (authenticité) diri kita sebagai individu di tengah kepungan fenomena massa yang tanpa identitas dan juga dalam arus kemajuan teknologi-informasi yang semakin cepat berkembang di satu sisi namun juga semakin cepat mendevaluasi martabat manusia di sisi lain; dalam budaya pop yang menyetir keinginan-keinginan manusia dan pada gilirannya menentukan diri manusia (dan berarti merampas hak manusia untuk menentukan dirinya sendiri: self-determination). Bagaiamanapun, pesan filosofis dan analisis Sartre atas situasi manusia pada zamannya masih tetap relevan hingga kini.

Daftar Pustaka:
Acuan Utama:
Sartre, Jean-Paul. Existentialism and Humanism. (Translated from ‘L’Existentialisme est un humanisme’, Paris: Les Editions Nagel (1946), Introduction by Philip Mairet). London: Eyre Methuen Ltd (1948). 

Acuan Sekunder:
Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Jilid II: Prancis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama (1996), hlm. 81-120.
Copleston, Frederick. A History of Philosophy: From Bergson to Sartre; Chapter XVI ∓mp; XVII: The Existentialism of Sartre. Garden City, Doubleday Co.: Image Books. 1962. Hlm. 340-389. 
Kaufmann, Walter. Existentialism from Dostoevsky to Sartre. Cleveland: The World Publishing Company. 1956. 
Macquarrie, John. Existentialism. Middlesex-England: Penguin Books. 1972. 
Mason, Jeff. Sartre"s Existential Humanism Part 1 taken from http://www.philosophersnet.com/article.php?id=172 

Berikutnya...
Enche

Catatan Kaki
[1] Jean-Paul Sartre, Existentialism and Humanism. Translated from ‘L’Existentialisme est un humanisme’, Paris: Les Editions Nagel (1946), Translation and Introduction by Philip Mairet, London: Eyre Methuen Ltd, 1948.
[2] Pada bagian pengantar ini, penulis mengutip sebagian dari deskripsi historis yang disampaikan Prof. Dr. K. Bertens dalam Filsafat Barat Abad XX Jilid II: Prancis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996, hlm. 84-86.
[3] Keyakinan ini sudah dikatakan oleh Sartre di bagian paling awal dari bukunya tersebut, “Tujuan saya menulis buku ini adalah untuk membela eksistensialisme dari sejumlah kritik yang ditujukan padanya.” (ibid. hlm. 23) 
[4] Pengertian Quietisme di sini, sebagaimana disebutkan Sartre sendiri, adalah sikap orang yang berkata “biarkan orang lain mengerjakan apa yang tidak bisa kukerjakan.” (ibid. hlm. 41) Quietisme di sini dekat dengan pengertian non-doing, atau bahkan, seperti yang sering dikritik Sartre, cara hidup abad pertengahan: via contemplativa. Dan bukan via activa, hidup yang melibatkan diri dengan persoalan real yang dihadapi masyarakat, termasuk menceburkan diri ke dalam alam politik. Untuk pembedaan yang lebih terelaborasi mengenai tema ini (via activa vs. via contemplativa), lihat karya Hannah Arendt, The Human Condition, New York: Double Day Press, 1957. 
[5] Ibid., hlm. 24, “The essential charge laid against us is that of over-emphasis upon the evil side of human life.” Di tempat lain ia mengatakan bahwa ada sejumlah orang yang mengeluh, “that existentialism is too gloomy a view of things.” (ibid., hlm. 25) 
[6] Ibid. Di sini Sartre agak humoris dengan mengambil contoh dari seorang wanita yang saat terkaget atau sedang stress lalu mengumpat dengan kata-kata vulgar, dan setelahnya memaafkan dirinya dengan berkata “I believe I am becoming an existentialist.”
[7] Ibid., hlm. 25-26. [8] Ibid., hlm. 46. [9] Ibid., hlm. 26. 
[10] Yang dimaksud dengan paper knife ini bisa jadi berupa cutter (pemotong kertas) atau pembuka surat yang bentuknya memang seperti pisau tetapi ujungnya majal. Namun yang penting di sini bukan contoh benda konkretnya melainkan bagaimana Sartre menjelaskan analogi eksistensi dan esensi dengan menggunakan contoh benda-benda konkret. 
[11] Ibid., hlm. 28. pantas dikutip secara panjang lebar di sini apa yang dikatakan Sartre, yang menurut hemat saya, menjadi pemikiran sentral Sartre atas siapakah manusia itu. Dikatakan, “What do we mean by saying that existence precedes essence? We mean that man first of all exists, encounters himself, surges up in the world---and then defines himself afterwards. If man as the existentialist sees him is not defineable, it is because to begin with he is nothing. He will not be anything until later, and then he will be what he makes of himself. Thus, there is no human nature, because there is no God to have a conception of it. Man simply is.” 
[12] Ibid., hlm. 33 
[13] Dostoevsky dalam The Brothers Karamazov sebagaimana diucapkan oleh tokoh utama dalam cerita itu, Ivan. [14] Ibid., hlm. 41. 
[15] Ibid., hlm. 45. Dikatakan di situ, “All kinds of materialism lead one to treat everyman including oneself as an object---that is a set of pre-determined reactions, in no way different from the patterns of qualities and phenomena which constitute a table, or a chair or a stone.” [16] Ibid., hlm. 54.
[17] Ini kritik Sartre atas humanisme à la Era Pencerahan (Aufklärung) yang terutama berpuncak pada imperatif kategoris Kant yang kedua yang kira-kira berbunyi demikian, “Perlakukanlah manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan bukan sebagai sarana atau alat untuk mencapai sesuatu”
[18] oleh dirinya sendiri dan bukan oleh kategori-kategori yang dipaksakan dari luar dirinya seperti dari tradisi atau pepatah bijak masa lalu. [19] Sartre, op. cit., hlm. 56.
[20] Jeff Mason, Sartre"s Existential Humanism Part 1 taken from http://www.philosophersnet.com/article.php?id=172
[21] Walter Kaufmann, Existentialism from Dostoevsky to Sartre, Cleveland: The World Publishing Company, 1956, hlm. 47
[22] Bisa dibandingkan dengan integritas tokoh Ibbieta yang teruji di hadapan maut (regu tembak) dalam Novel “Dinding” (Le Mur, Editions Gallimard, 1939, hlm. 9-35) karya Sartre
[23] John Macquarrie, Existentialism , Middlesex-England: Penguin Books, 1972, hlm. 138. Dikatakan di situ, “But how can we talk at all of freedom or try to conceptualize it? However we try to grasp it, it seems to elude us. However precious we may esteem it, by its very nature it is insubstantial and fleeting.”
[24] Frederick Copleston, A History of Philosophy: From Bergson to Sartre; Chapter XVI ∓mp; XVII: The Existentialism of Sartre, Garden City, Doubleday Co.: Image Books, 1962, hlm. 355.