Privatisasi Air




Privatisasi Air dan Penghancuran Generasi



Tulisan ini diawali dari sebuah diskusi singkat bersama seorang teman minggu lalu. Diskusi yang dilakukan guna berbagi pengalaman program untuk di sistematisasikan ini cukup menarik. Lembaga kami yang belakangan ini mulai konsen terhadap kajian-kajian guna mendorong kedaulatan rakyat terhadap air bersih .

  Air, benda ini yang menjadi alasan mengapa jutaan penduduk dunia di belahan bumi selatan yang notabene merupakan tempat hidup orang-orang miskin menderita kelaparan setiap harinya. Air juga disinyalir menjadi alasan negara adidaya mempertahankan pengaruhnya dengan
melakukan invasi militer terhadap negara yang memiliki potensi air yang
besar. Sebanyak 1,8 juta anak mati tiap tahunnya karena diare yang diakibatkan oleh buruknya sanitasi air. Sekitar 1,1 milyar orang di negara berkembang tidak memiliki akses yang cukup untuk air, dan 2.6 miliar kekurangan sanitasi dasar.
Masa depan, hidup dan kehidupan dunia akan semakin sulit karena air untuk hidup semakin langka. Segala sektor politik, ekonomi, budaya akan dipengaruhi oleh kepasrahan penduduk dunia terhadap krisis air sebagai akibat dari ulah para pendahulunya. Air sebagai benda primer yang mempengaruhi kondisi bumi secara otomatis menjadi barang penting yang kemudian akan diperebutkan. Perubahan iklim, peningkatan frekwensi bencana alam dan faktor huru-hara dunia lain akan semakin sering terjadi. Fenomena ini akan menjadi efek bola salju yang semakin bergulir dan membesar seiring perilaku dan waktu. Perubahan tatanan kehidupan makhluk bumi juga akan terus berubah ke arah kepanikan.


Di beberapa belahan dunia, air menjadi barang yang cukup mudah untuk dihambur-hamburkan. generasi mereka akan terus cerdas dan menjadi pemimpin dunia karena asupan mineral utama yang berasal dari air tercukupi. Lain halnya bagi negara-negara miskin, jangankan untuk berfikir tentang pendidikan, bahkan kebutuhan dasar air pun tidak tercukupi. Air merupakan hak setiap manusia yang sejak ia lahir, maka dia berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain termasuk dalam hal mendapatkan akses air. Dengan menerapkan privatisasi maka akses bagi setiap manusia yang berhak mendapatkan perlakuan sama telah dibatasi. Orang-orang yang memiliki kapital akan mendapatkan hak lebih besar dengan memperkecil hak orang lain. privatisasi air telah melanggar hak asasi dengan menutup akses untuk mendapatkannya. Pola ini yang seakan terus di dipelihara dengan privatisasi air sebagai kendaraannya. Berbekal kalimat sakti bahwa air adalah barang ekonomi, para jargon investasi terus membidik air sebagai lahan bisnis. Bisnis dengan dampak menghancurkan generasi tentunya. Segala cara dilakukan untuk menguasai sumber-sumber air. Orang-orang miskin akan selalu "terkena kutukan wabah penyakit dan kebodohan". Kutukan yang berasal dari penguasa kapitalisasi air.
Munculnya era rejim privatisasi air
Privatisasi air di Indonesia merupakan salah satu syarat yang dituntut oleh World Bank agar dana pinjaman program pemulihan sanitasi air dan lingkungan dapat di cairkan. Hal ini jelas dinyatakan dalam pernyataannya ; "Bahwa Manajemen Sumber Daya Air yang efektif haruslah memperlakukan air sebagai "komoditas ekonomis" dan "partisipasi swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang effisien, peningkatan pelayanan, dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa penyediaan" (World Bank, 1992). Jika dilihat, pada dasarnya tuntutan ini sama sekali tidak beralasan selain memperkokoh pola privatisasi di Indonesia. Seperti gayung bersambut, tuntutan ini pun ditanggapi oleh pemerintah indonesia dengan mengeluarkan UU nomor 7 tahun 2004 tentang sumber daya air. undang-undang yang secara jelas memberikan ruang untuk terlaksananya agenda privatisasi dan komersialisasi air. dengan lahirnya kebijakan ini maka swastanisasi air semakin merajalela terjadi dari kota hingga ke pelosok desa. Pemilik modal dari mulai yang kecil hingga besar kemudian berebut untuk menjadikan air sebagai ladang bisnis. Sebut saja danone sebagai salah satu rejim privatisasi air terbesar hingga usaha-usaha air isi ulang di pelosok-pelosok desa berlomba dalam menjalankan agenda ini. Rejim ini berhasil merubah pola pikir generasi melalui rasionalisasi situasi akan sulitnya mendapatkan air bersih karena sanitasi lingkungan telah rusak. Penghancuran generasi melalui privatisasi telah menjadi rejim yang hingga kini menjadi penguasa raksasa perusak tatanan kehidupan dan lingkungan.
Penjelasan di atas menjadi faktor penguat bahwa privatisasi air adalah langkah yang dapat membelenggu kemerdekaan rakyat sekaligus merusak pola pikir generasi untuk dapat bertahan hidup dan menjalankan kesehariannya dengan tentram. Banyak dari kita sekarang yang tanpa sadar telah berada dalam kungkungan gerakan hitam para kapitalis. Rata-rata masyarakat di kota-kota yang bergerak secara dinamis dengan mobilisasi tinggi menetapkan air kemasan botol atau galon sebagai salah satu kebutuhan pokoknya. Tanpa sadar, kita sendiri telah ikut membantu sekaligus menerapkan usaha para penjajah kontemporer untuk terus melanjutkan upayanya dalam menguasai mekanisme pasar di negeri ini. Coba bayangkan, apabila tarif air kemasan botol dan gallon terus naik, masyarakat dengan ekonomi rendah tidak akan bisa mendapatkan air karena pemerintah pun tidak memperlihatkan langkah yang signifikan dalam penanganan permasalahan ini.
Mengutip pernyataan salah seorang kepala desa di pedalaman Aceh Utara "Desa kami akan merasa kaya jika memiliki air". kekayaan akan didapatkan jika mereka dapat lepas dari belenggu investasi air dan kekayaan akan diperoleh jika mereka memiliki kedaulatan atas air di bumi mereka untuk menyelamatkan generasinya, Semoga.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »