Petani

Petani dan Kapitalis

Nasib petani Indonesia tak putus dirundung malang. Mereka dibutuhkan saat pemilihan umum, tapi ketika terpilih, mereka kembali dilupakan. Demikian seterusnya, entah sampai kapan. Saat ini, calon calon bupati dan calon wakil bupati gembar-gembor dengan janji-janji ekonomi kerakyatan. Dan semua bicara tentang petani dan nelayan yang menghuni lebih dari 60 persen penduduk.

Tapi sadarkah para pemimpin atau calon pemimpin bangsa ini, sudah lebih dari 407 tahun petani kita ini habis-habisan diperas kapitalis. Terhitung sejak berdirinya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Negeri Belanda, Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada 20 Maret 1602. Sampai kini pun petani masih tetap dipermainkan dan diperas pedagang dan konglomerat yang notabene kapitalis. Tak heran petani kita tetap bodoh, miskin dan menjadi objek politik dan kekuasaan. Sejarah keji penjajahan kembali terulang!!!
Kalau mau membela petani, para calon pemimpin bangsa harus benar-benar tahu sejarah petani itu sendiri, sebagai pelajaran besar untuk memperbaiki mereka yang menjadi tulang punggung RI. Kalau hanya cuap-cuap dengan pragamatisme yang dibungkus dengan materialisme sesaat, jangan harap nasib sebagian besar bangsa ini akan terperbaiki. Semuanya akan kembali berputar pada pola pragmatisme gloalisasi pasar bebas dan kapitalisme model baru yang sekarang kerap disebut neoliberalisme. Nasib petani tetap berada dalam lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan. Indonesia akan tetap menjadi pasar konsumsi dan objek manipulasi globalisasi. Sejarah telah mencatat hal itu.

VOC berdiri sebagai bentuk persaingan bangsa Eropa yang hendak menguras kekayaan alam bangsa Timur. Ketika Inggris mendirikan perusahaan konglomerat East India Company (EIC) pada 1600 atas perintah Ratu Elizabeth I. Demikian pula Spanyol dan Portugis serta bangsa Eropa lainnya. Belanda juga tak mau kalah bersaing. Apalagi saat itu Belanda di bawah Pangerah Hendriks sedang berjuang melepaskan jajahan negeri dari Spanyol untuk mengukuhkan Dinasti Oranye Nassau sekarang.

Untuk memperjuangkan hal itu, atas usul Jan Huygen van Linschoten kepada Pangeran Hendriks, agar dibentuk BUMN untuk merebut dunia Timur. Pangeran Hendriks setuju dan melalui Staten Generaal dibentuk kartel (kongsi dagang) dari pengusaha 6 provinsi yang ada di Belanda. Modal diperoleh dengan menjual saham (listing) di pasar modal Amsterdam yang saat itu memang kota bisnis modern. Terbentuklah Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) sebuah konglomerat yang sahamnya sebagian besar dimiliki pengusaha Amsterdam dan dikelola oleh 17 Direktur (Heeren Seventien). Lima tahun berdiri VOC memiliki 65 kapal.

Melalui penunjuk jalan bernama Ismail bangsa Arab dari Malaysia di mana Kota Malaka saat itu sudah dikuasai Portugis tahun1511 pimpinan Alfonso Alburquerqe, pelaut Belanda masuk ke Maluku yang saat itu sudah dimasuki Inggris, Portugis dan Spanyol. Di Maluku mereka berebut cengkeh, pala, fuli dan lada serta rempah lainnya. Jauh sebelumnya kebutuhan rempah dan sutra Eropa dipasok oleh pedagang Arab, India, Persia dan China.

Kebangkitan VOC di Indonesia dimulai ketika Jan Pieterszoon Coen diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC ke empat dalam usia 32 tahun. Pieterszoon Coen di masa remajanya juru tulis perdagangan di ekspedisi ke Maluku sebelumnya. Ia keturunan Yahudi dengan semangat Calvinis yang besar dan ambisius berhasil menaklukkan Kerajaan Jayakarta dan Banten serta mengalahkan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung dengan membangun Benteng Batavia yang kemudian berkembang menjadi Kota Jakarta sekarang. Di sini terlihat posisi petani kita sudah benar-benar terpuruk, menjadi kuli di tanah sendiri. Sementara kerajaan-kerajaan di Nusantara tak berdaya menghadapi kapitalisme Eropa yang dimenangkan VOC melalui politik pecah belah dan kekuatan senjata. Raja-raja diiming-imingi kemewahan dan digertak dengan senjata, sementara hasil bumi diangkut untuk memakmurkan Negeri Belanda melalui BUMN VOC.

Tapi kemegahan VOC akhirnya redup karena lupa daratan dan akhirnya bangkrut karena para direksinya korupsi. Sehingga VOC di ejek sebagai singkatan Vergaan Onder Corruptie (bangkrut karena korupsi) dan resmi ditutup 31 Desember 1799. Selanjutnya pemerintah Belanda secara resmi mengambil alih penjajahan Hindia Belanda ( Indonesia ) dari konglomerat VOC.

Di awal abad ke-19 itu, pemerintah Belanda mengalami kesulitan dana (APBN) apalagi muncul pemberontakan Pangeran Diponegoro ( 1825 sampai 1830) yang menguras banyak dana. Untuk itu, keringat petani kembali diperas habis-habisan. Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch menetapkan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) di mana 20 persen tanah petani wajib ditanam kopi, tebu dan nila dan wajib menyisakan waktunya bekerja untuk kepentingan Belanda.

Untuk mengelola Tanam Paksa yang hasilnya diekspor, dibentuk BUMN Nederlandsche Handel Maatschapij (NHM). NHM sampai 1870 berhasil menyumbangkan 823 juta gulden ke Negeri Belanda. Tanam Paksa yang berasal dari peluh petani Indonesia itu akhirnya membiayai 72 persen APBN Kerajaan Belanda seluruhnya! Pola kapitalis VOC dan NHM terus berlanjut sampai ke Sumatera Timur (Tanah Deli) dengan kedatangan Jacobus van Nienhuys yang tiba Agustus 1863 naik kapal Josephine di Labuhan Deli dari Perkebunan Tempeh, Jawa Timur. Dari jejaknya menanam tembakau atas izin Sultan Deli, akhirnya Nienhuys, Cremer, Jannsen dan Clemen mendirikan perusahaan Deli Maatschapij. Investor asing lainnya akhirnya masuk ke Deli sehingga berkembang menjadi 22 perusahaan perkebunan di Deli pada 1874. Akhirnya dibentuk asosiasi perkebunan Deli Planters Veereneging (DPV) oleh Cremer yang namanya kemudian diabadikan menjadi Jalan Cremer (Jalan Balai Kota sekarang) dan patungnya di buat di depan Kantor Pos Besar Medan.

Cremer adalah lambang kapitalisme tulen penghisap darah petani. Dari tangannya lahir Koeli Ordonantie yang melahirkan hukuman Poenale Sanctie yang sangat kejam terhadap kuli kontrak yang berasal dari Jawa , China dan Keling. Sementara raja-raja Melayu mendapat hasil dari kontrak-kontrak tanah ulayat sehingga melahirkan banyak istana di Sumatera Timur. Kota Medan yang modern akhirnya dibangun untuk kepentingan kapitalisme tersebut. Semua itu disimbolkan oleh hotel pertama di Medan yang bernama De Boer (sekarang Hotel Dharma Deli) yang artinya petani.

Dari sejarah pahit petani Indonesia ini dapat diambil pelajaran bahwa petani Indonesia selama ini hanya menjadi sapi perahan kaum pemodal dan kapitalis perusahaan asing. Pelajaran lainnya, potensi pertanian Indonesia sangat besar dan menjadi tiang utama negara maju sehingga menjadi penyumbang besar APBN Belanda. Tapi kenyataannya, sampai kini, petani Indonesia tetap seperti itu, bahkan lebih menyedihkan lagi, menjadi perasan kapitalis bangsa sendiri melalui perusahaan-perusahaan perkebunan.

Petani kita tak pernah diberi kesempatan untuk maju dan mandiri. Petani memang seperti disengaja agar tetap bodoh. Mereka hanya dihibur dengan bantuan-bantuan yang tidak mampu mengembangkan diri menjadi cerdas dan pintar serta mandiri dalam mengelola tanahnya. Semuanya dimanipulasi dengan program-program yang sebenarnya sangat kapitalis sehingga pendapatan mereka sangat tergantung dengan pedagang dan pasar. Petani tidak kunjung tak dapat menentukan rezekinya sendiri. Semuanya diukur oleh kaum kapitalis yang berbungkus kerakyatan.

Apapun nama istilah kapitalisme yang berakar dari liberalisme, sebenarnya intinya sama saja: memeras orang lemah dan hanya memanfaatkan manusia sebagai buruh atau kuli atau sekadar manajer yang digaji. Dari sejak kelahiran kapitalisme klasik hingga neoliberalisme di zaman globalisasi ini sebenarnya yang muncul hanya eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah.

Terbukti sampai sekarang, sudah 65 tahun merdeka, pemerintah Indonesia tak mempunyai kebijakan politik yang jelas terhadap pertanian. Akhirnya merdeka atau dijajah, nasib petani sama saja. Bagi kapitalisme dan demokrasi, yang dibutuhkan dari petani hanya keringat dan contrengannya belaka. Tidak lebih...!!!!!!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »