Organisatoris

Organisatoris oportunis


Tulisan ini berangkat dari realita lembaga kemahasiswaan saat ini. Baik itu lembaga eksternal maupun internal. Bahwa saat ini lembaga sudah melenceng dari frame yang ada. Lembaga sekarang ini dihuni oleh opurtunis yang mengunakan lembaga unuk kepentingan pribadi. Apa itu oportunis? Pertanyaan itu pasti muncul dibenak anda. Kalau soe Hok Gie mengatakan ada dunia pilihan menjadi manusia di Indonesia yakni idealis dan apatis. Tetapi tidak sempat menyebutkan atau sudah memasukkan tipe oportunis ke dalam apatis atau idealis.
Karena oportunis juga menjadi salah tipe manusia Indonesia, bahkan tipe ini yang paling banyak. Oprtunis merupakan tipe yang mengambil kesempatan yang paling menguntungkan dirinya. Kembali ke lembaga yang kehilangan nilai historisnya. Lembaga yang secara historis sebagai tempat berjuang sudah jauh ditinggalkan. Berganti
menjadi lembaga sebagi tempat kita memperbanyak jaringan untuk masa depan (kehidupan pasca kampus).
Hal tersebut dapat dilihat pada selembar kertas yang katanya adalah “Falsafah Berlembaga”. Dalam salah satu poinnya bertuliskan “Di lembaga kemahasiswaan tempat kita untuk memperbanyak kawan/jaringan untuk masa depan(kehidupan pasca kampus) bukan tempat memperbanyak musuh/lawan”. Sepakat bahwa lembaga tempat untuk memperbanyak kawan dan bukan memperbanyak musuh. Tetapi untuk memperbanyak jaringan untuk masa depan (kehidupan pasca kampus) ini yang menimbulkan penafsiran ganda (ambiguitas). Kalau penafsiran saya terhadap poin tersebut dari melihat realita yang ada. Lembaga dijadikan salah satu dijadikan ladang untuk mendapatkan kepentingan pribadi. Entah penafsiran yang dilakukan sang pembuat “Falsafah Berlembaga” itu beda. Mirip dengan perluasan jaringan yang dilakukan oleh MLM dan MNC. Untuk menjelaskan MLM dan MNC mungkin tidak terlalu penting karena mahasiswa ekonomi pasti lebih tahu hal ini. Melihat fakta yang ada di ekonomi sudah banyak mahasiswa yang menjadi gurita MLM. Dan makin banyak yang mempersiapkan diri menjadi kaki tangan MNC.

Hal yang terus-menerus menjadi alasan klasik sang oportunis adalah tuntutan Orang tua. Sehingga fungsi meraka sebagai mahasiswa terkikis oleh tugas anak yang harus berbakti pada ortu. Mungkin itu yang sekarang dihadapi oleh para ketua lembaga, pengurus terasnya, hingga para pengurus cunddekeng untuk berorganisasi. Hal ini bisa saja benar melihat lembaga yang sudah tidak punya gaung, karena hanya dijadikan arena perluasan jaringan oleh para organisatoris oportunis. Kalau hal memang benar terjadi, saya ingin kembali membuka memori sang oportunis tentang sebuah film kolosal “Naga Bonar 1”. Dimana dalam sebuah adegan Naga Bonar harus mengendong sang Ibu di tengah peperangan yang berkecamuk. Naga bonar telah membuktikan bahwa tugasnya kepada Negara dapat dilaksanakan tanpa meninggalkan tugasnya sebagai seorang anak. Seharusnya para pengurus maupun mahsiswa lainnya menjadikan Naga bonar sebagai contoh. Agar doktrin-doktrin fungsi mahasiswa pada pengkaderan awal tidak hanya pada tataran retorika tapi sudah dipraksiskan.

Lembaga kemahasiswaan yang diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis. Kini sudah termakan bujukan kapitalisme. Senasib dengan sekolah-sekolah formal yang hanya menciptakan robot-robot kapitalisme. Lembaga yang dahulu merupakan alternatif untuk menjungkir balikan logika kapitalisme. Sekarang malah menjadi salah satu pabrik kapitalisme untuk menciptakan labor yang potensial. Kalau Gramsci menyebutnya Intelektual Mekanik. Sehingga lembaga dan orang-orang di dalamnya menjadi menara gading. Semakin enggan melihat ke bawah (hilang jiwa sosial).

Pada kongres Senat Mahassiswa Ekonomi beberapa waktu yang lalu. Ada sebuah wacana yang sangat radikal. Salah satu kawan merekomendasikan untuk membubarkan lembaga kemahasiswaan. Sejalan dengan kebijakan yang pernah diambil oleh Gus Dur saat masih menjadi presiden untuk membubarkan Parlemen(MPR/DPR). Bagi sebagian besar orang itu hal yang gila dan mengada-ada. Tetapi Gus dur dan kawan yang menginginkan pembubaran lembaga mungkin punya dasar yang kuat. Kita lihat sekarang bagaimana MPR/DPR dipenuhi oleh tikus-tikus yang terus mengerogoti uang rakyat. Begitu juga dengan lembaga kemahasiswaan yang di huni oleh para “oportunis” yang sebentar lagi akan bermetamorfosis menjadi “Borjuis imut-imut”.

Tulisan tidak bermaksud menyudutkan siapa-siapa. Ini hanya pendekskripsian subjektifitas penulis melihat keadaan lembaga hari ini. Kalau anda merasa tersinggung atau dizhalimi oleh tulisan ini. Jangan merobek kertasnya tetapi robek tulisan ini dengan wacana tandingan. Anda dapat membuat antitesa dari tesa ini,
sehingga akan lahir sebuah sintesa. Mungkin ini hanya sebuah proses dialektika.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »