Aktifis

Jangan panggil aku aktivis


Jangan panggil aku Aktivis
hanya karena TOA ini ku genggam,
karena yang keluar hanya kelantangan
bukan kata kebenaran
Jangan panggil aku Aktivis
hanya karena banyak orang berada dibelakangku
ketika turun aksi,
karena sesungguhnya mereka tidaklah tahu
berjalan hanya karena sebuah ta’limat suruhan


Kawan,
menjadi Aktivis bukanlah sebuah kesempatan
untuk mengangkat status sosial atau kekayaan
tapi menjadinya adalah sebuah kesempatan
untuk mengatakan yang benar adalah benar,
meski itu pahit sekalipun.

Aktivis adalah kata kerja,
karena Aktivis dituntut untuk bergerak kerja riil yang langsung pada pokok solusi
tidak berhenti pada pangkat jabatan yang kita genggam.
maka jadi apapun kita, posisi manapun kita ditempatkan tidaklah penting
tapi kontribusi itulah yang menjadi landasan

Aktivis adalah Kerja Bekerja,
Kerja Berkata ketika yang lain bungkam terdiam,
Kerja Bergerak ketika yang lain terpaku membeku,
Kerja Solutif ketika yang lain bekerja sia-sia

Kawan,
kini mari aku katakan bahwa menjadi Aktivis
bukanlah privilese.
Ia sepi dari penghargaan. Ia jauh dari gegap-gempita.
tidak ada yang menyoraki menyelamatimu ketika berhasil.
bahkan setiap jengkal tubuh manusia senantiasa menudingmu
atas setiap kegagalan yang terjadi.

Kawan, kau yang ingin menjadi seorang Aktivis bersiaplah dengan kesendirian,
karena ia sadar lingkungannya telah dipenuhi kemunafikan. sementara ia
hidup dalam bingkai prinsip yang tak mungkin ditukar dengan benda apa pun.

Ia yang menahbiskan dirinya menjadi seorang Aktivis harus siap hidup dalam ke-papa-an,
karena ia tahu bahwa Bangsa ini hancur akibat uang yang menelikung di setiap jejak
kebijakan yang dikeluarkan. sementara di kolong jembatan bayi-bayi itu mati akibat kekurangan gizi.
tembok-tembok rapuh sekolah teronggok tak terurus.
Anak Bangsa senantiasa bodoh karena tak mampu bersekolah.
Ia pun menjadi malu hidup dalam kegelimangan harta.

Ya itulah Aktivis.
Yang melawan materialisasi dunia dengan antologi pemikiran.
Hujan hujatan dilawan dengan inspirasi perbuatan.
Kata-kata baginya adalah senjata paling efektif
meski moncong senjata itu sedang mencium keningnya,
mengancam untuk merubah kata-kata itu, berusaha
untuk melunturkan keberaniannya. tapi ia senantiasa
berkata tidak pada mereka yang mengancam,
hingga kematian pun menjemputnya

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »