Propaganda

Add Comment

Propaganda adalah penyebarluasan pengetahuan tentang situasi kongkrit yang ada kepada individu, kelompok, maupun massa luas secara sistematis dan terus menerus guna meningkatkan pengetahuadan kesadaran mereka sehingga tergerak untuk bertindak mengubah keadaan. Kerja propaganda merupakan pekerjaan kebudayaan yang kita lakukan untuk membebaskan tingkat kebudayaan kaum tani. Pada saat ini banyak kaumPetani yang mempunyai kesadaran terbelakang akibat hegemoni budaya imperialis, feodal, yang dihembuskan oleh rezim boneka maupun birokras.

Contoh
bentuk-bentuk kebudayaan yang terbelakang dalam diri Kaum tani yang sering kita jumpai diantaranya : ketika biaya hidup naik, dia mengatakan “yah, mau bagaimana lagi”. Atau contoh yang lain adalah Petani seringkali tidak mengetahui manfaatnya berorganisasi, menganggap demonstrasi itu percuma, dan lain-lainnya. Sikap apatis, diam, dan pragmatis yang ada dalam diri Petani merupakan bentuk kesadaran yang terbelakang dari petani, dan hal yang demikian memang sudah tertanam dalam masyarakat kita, khususnya Petani, sejak lama dibawah dominasi imperialisme dan feodalisme. 

Untuk itulah, dengan melihat kesadaran dan tingkat kebudayaan Petani yang demikian, maka propaganda massa memegang peranan penting dalam meningkatkan kesadaran massa dan membuatnya bergerak mengubah keadaan. Propaganda mempunyai peranan penting dalam membangkitkan, mengorganisasikan, dan menggerakkan massa. Propaganda yang kita lakukan adalah langsung ke tengah massa di pusaran lubuk hati dan pikirannya.

Prinsip Propaganda:

1) Ilmiah
Mempunyai pandangan yang ilmiah berarti kita harus mengeri tentang gejala dan hakekat. Artinya kita harus mengerti tentang akar masalah dari persoalan yang muncul dikalangan massa Petani. Prinsip untuk selalu menyebarluaskan ide dan tindakan yang nasionalis, demokratis, dan kerakyatan
harus kita pegang untuk memajukan tingkat kebudayaan Petani.

2) Belajar dari massa 
Harus kita mengerti bahwa massa adalah pahlawan yang sebenarnya. Tanpa pengertian ini tidak mungkin kita memperoleh pengetahuan yang paling rendah sekalipun. Dengan belajar pada massa kita akan tahu tentang situasi yang sedang terjadi. Sebelum kita menjadi guru dari massa, terlebih dahulu kita adalah menjadi murid dari massa. Proses timbal balik antara kita dan massa adalah laksana “ikan dan air”.

3) Jujur
Propaganda harus berdasarkan pada fakta akan data yang sesungguhnya dan panduan garis politik untuk bertindak yang tepat. Makna pendidikan adalah muatan penting dalam melakukan kerja propaganda. Tanggapan massa dalam menerima dan mengerti isi propaganda adalah langkah awal untuk mempertinggi kesadarannya dalam bentuk aksi yang nyata. Propaganda bukanlah penyebarluasan informasi yang dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan. 

4) Berkesinambungan.
Propaganda tidak dapat dilakukan dengan hanya satu atau dua kali pekerjaan. Namun karena situasi dan kondisi massa di bawah penindasan kultural imperialisme dan feodalisme telah mengakar, maka propaganda harus dilakukan terus menerus dan meningkat sedikit demi sedikit.

5) Sesuai
dengan pikiran dan perasaan massa Garis massa adalah yang melandasi prinsip ini. Kita harus menyerap dalam-dalam apa yang kita dapat dari massa, tentu saja akan sangat tidak teratur dan apa adanya namun itulah massa selalu jujur dengan situasi yang ada. Tugas kita adalah mensistematisasinya, memberikan garis yang benar dan memberikannya kepada massa sedikit demi sedikit sampai mengerti.

Garis massa adalah prinsip yang melandasi semua pekerjaan sehari-hari. Prinsipnya adalah “dari massa untuk massa”. Segala sesuatunya datang dari massa, dilaksanakan oleh massa dan dikembalikan kepada massa. Apapun yang datang dari massa, sesuai dengan tingkat kesadarannya, akan terpisah-pisah dan tidak sistematis. Tugas kita adalah membuatnya menjadi sistematis, menganalisis berdasarkan cara berpikir yang benar, dan memberikan panduan dan keputusan untuk kita kembalikan pada massa. Demikian seterusnya. 

Dalam prakteknya massa tetap memerlukan pimpinan yang tepat, sehingga kehendak dari massa bisa diarahkan untuk mencapai kemenangan. Sebaliknya, pimpinan adalah pedoman, poros dan sekaligus cermin dari massa. Pimpinan adalah hasil perasan dari massa, maka pimpinan merupakan kualitas
termaju dari massa. Agar pimpinan tidak ditentang, ditinggalkan dan akhirnya tenggelam, pimpinan harus hidup dan berada di tengah-tengah massa. Untuk itu, kita mulai dari kebutuhan massa yang obyektif dan sedikit demi sedikit kita tingkatkan kesadarannya. 

Yang perlu kita hindarkan adalah :
  • Komandoisme: Seakan-akan kita tahu massa, jadi kita main perintah, duduk dibelakang meja dan ongkang-ongkang kaki. Inilah cara berfikir dan bertindak komandoisme. Tidak mengindahkan perlunya hidup ditengah-tengah massa dan bekerja bersama massa. Tetapi berdiri terpisah dan jauh dengan massa. Maka cara bertindak seperti ini bukanlah jalan massa.
  • Buntutisme: kita hanya mengikuti massa, kita tidak berinisiatif untuk membangkitkan mereka. Berdiri di barisan paling belakang dari massa, dengan membiarkan kesalahan-kesalahan yang ada pada massa. Tidak berusaha membetulkannya apalagi mengarahkan dan memimpinnya. Berfikiran bahwa “suara massa adalah suara tuhan”, sehingga semuanya dianggap benar. Bahwa massa sudah memiliki tingkat kesadaran yang maju. Inilah bentuk buntutisme yang akirnya akan merugikan massa itu sendiri dan menguntungkan musuh. 

Kedua hal tersebut adalah yang akan merintangi kemajuan gerakan mahasiswa demokratis dalam memperjuangkan hak-haknya melawan imperialisme dan feodalisme. Agar kita dapat tepat menghindari kedua hal tersebut kita harus menjalankan garis massa dengan tepat, melalui: langgam kerja yang demokratis, selalu berada dekat dengan massa, menyelenggarakan diskusi kolektif dengan
massa, melakukan investigasi sosial dan analisis Desa.  Selain hal tersebut diatas, beberapa prinsip garis massa yang harus digenggam secara teguh adalah:

  • mengerti kepentingan massa
  • memperhatikan perasaan massa
  • mendengar suara massa
  • mempercayai dan menyimpulkan pikiran massa
  • mengarahkan dan memimpin kehendak massa

Terdapat empat bentuk propaganda, yaitu:

  1. Lisan. Propaganda yang dilakukan secara lisan dengan teknik retorika dan persuasif maupun gesture tubuh propagandis untuk menarik simpati para pendengar.
  2. Tulisan. Bentuk tertulis dari pekerjaan propaganda akan memudahkan massa untuk selalu mengingat tentang isi materi propaganda yang diberikan, dan akan memperluas jangkauan sekaligus dapat mempertahankan proporsionalitas propaganda dari pengurangan atau pelebihan materi. Sebagai seorang propagandis kita juga harus belajar dan terus memperbaiki kemampuan menulis agar sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang.
  3. Visual. Adalah produk propaganda yang menampilkan gambar hidup atau mati yang dapat memberikan informasi mengenai isi materi propaganda. Contoh: poster, film, lukisan, patung dan lain-lain.
  4. Kultural. Adalah propaganda dan pendidikan yang digabungkan dengan kerja seni dan sastra.
Propaganda ini akan lebih menarik perhatian massa bila sesuai dengan tingkat kebudayaan massa, namun akan membosankan bila terlampau jauh. Contoh: pementasan drama, teater, lawakan, dan sebagainya.

Beberapa beberapa metode atau cara propaganda :

  1. Kunjungan rumah ke rumah; Metode ini akan mendekatkan kita secara emosional kepada massa dan membuat kita semakin mengerti penghidupan dan perjuangan. Dalam berkunjung, kita bukanlah tamu yang harus dilayani namun kita adalah kerabat dan kawan seperjuangan massa. Sehingga kita harus juga membantu massa dalam kegiatan rumah tangga yang sering kita anggap remeh temeh. Di samping itu, janganlah menolak apa yang diberikan massa namun ambilah secukupnya dan jangan berlebih karena akan memberatkan massa.
  2. Pendidikan dan kursus massa. Di sini kita akan menyebarluaskan garis politik demokrasi nasional untuk membangkitkan, mengorganisasikan, dan menggerakkan massa sesuai dengan kepentingan sosial ekonomi kelasnya (perjuangan kelasnya).
  3. Ceramah ilmiah. Propaganda yang kita berikan dalam forum-forum ilmiah (seperti simposium, diskusi, seminar, dan lain-lain). Propaganda ini menggabungkan ketrampilan propaganda lisan dan tulisan agar dapat menyajikan akurasi yang dapat menjelaskan.
  4. Pidato politik. Pidato yang dilakukan dalam forum-forum luas di mana massa berkumpul (seperti pertemuan massa, demonstrasi, dan lain-lain) dan di tempat di mana massa beraktivitas. Untuk kegiatan di tempat massa berkumpul perlu mendapat studi terlebih dahulu mengenai situasi massa, keamanan yang ada, karakter massa, dan koordinasi dengan bentuk propaganda yang lain (misalnya penyebaran selebaran). Agar supaya kita tidak terkucil dan mendapat respons positif.
  5. Pertemuan Massa. Adalah pertemuan-pertemuan rutin atau temporer yang melibatkan massa. Pertemuan ini bisa atas inisiatif kita atau memang sudah menjadi kebiasaan massa (rapat kelompok tani, dan lain-lain). Bila pertemuan adalah inisiatif kita, maka harus jelas agenda, tujuan, dan manfaatnya pada massa.
  6. Pembuatan grup diskusi atau grup pembaca publikasi. 
  7. Pemutaran film, penyelenggaraan acara seni dan budaya.
Pembuatan publikasi (koran, buletin, jurnal,buku,pamflet). Propaganda yang efektif adalah dengan mengkombinasikan propaganda solida dan luas. Propaganda solid terbatas pada group kontak yang kita pegang. Misalnya dengan cara kunjungan rumah ke rumah atau melalui group diskusi. Sedangkan propaganda luas tidak terbatas pada group kontak tapi juga Tani secara luas, melalui seminar, kursus massa, pertemuan mahasiswa dan lain-lain. Jangan sampai kita terjebak pada pekerjaan propaganda solid saja atau propaganda luas saja, karena hal tersebut akan melemahkan kita
dalam usaha membangkitakn , menggerakkan, dan mengorganisasikan masa secara luas.

Industrialisasi

Add Comment

Dari Absente Menuju Industrialisasi


Benarkah tanah merupakan hidup dan matinya petani? Tegas saja, IYA. Tak hanya bagi petani yang terasosiasi dalam himpunan masyarakat desa, tanah juga merupakan bagian terpenting bagi kelangsungan hidup seluruh manusia yang
berpijak. Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak (wikipedia).
  Tanah sendiri telah menyediakan banyak kekayaan bagi keberlangsungan hidup manusia, baik yang berada di atasnya (tumbuh-tumbuhan dan juga hewan) maupun yang tersimpan didalamnya (Mineral, energi dsb). Paska berakhirnya zaman es seiring prubahahan hawa bumi tanah menjadi perhatian penting manusia untuk bercocok tanam dan masa itulah sering diistilahkan dengan masa revolusi besar di dunia (revolusi agraris) yang menghasilkan budaya agraris pula atau dengan lain terminologi masa tersebut adalah masa awal munculnya pertanian sekitar 12.000 tahun lampau.
  Sejalan dengan perkembangan masyarakat/peradaban beserta relasi-relasi antar manusia, tanah yang sebelumnya memiliki fungsi dasar sosial perlahan bergerak serta berubah peran dan fungsinya menjadi komoditi karena penguasaan tanah oleh invidu sehingga mendorong terciptanya banyak pertentangan dihampir keseluruhan fase sejarah perkembangan masyarakat tadi. Saat itu pula lah mulai terjadi perebutan/penguasaan tanah-tanah subur dan kaya yang kemudian menegaskan posisi sosial manusia. Siapa yang kuat tentu saja ia akan dapat menguasai dan bagi yang lemah berarti ditindasnya.

  Karenanya, bolehlah kita berbangga hati menjadi penghuni bumi katulistiwa yang terletak pada koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT serta dalam apitan dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania. Dengan posisi ini, menempatkan negara kita sebagai negara tropis yang subur. Selain itu pun tak terkira besarnya kekayaan alam yang terkandung di dalam perut bumi hampir di sepanjang jajaran pulau-pulau nusantara. Demikian itulah yang membuat merkantilis eropa seperti Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda juga Jepang melabuhkan armada-armada dagangnya guna meraup keuntungan hingga pada akhirnya senjata mereka mengarah kepada jantung semua rakyat yang tak mau tunduk atas segala kehendaknya.
  Penindasan dan penghisapan manusia indonesia di tanah kelahirannya terus berlangsung sepanjang kaum penjajah menguasai negeri ini. Dan sepanjang masa itu pula lah perjuangan dan perlawanan rakyat untuk kemerdekaan begitu gigih dan bergelora. Setelah Jepang dibumi hanguskan oleh pasukan sekutu dengan bomber B-29 "Enola Gay" yang dikendalikan oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr, 17 Agustus 1945 terproklamirkan kemerdekaan Republik ini yang juga merupakan pertanda harapan baru sebuah bangsa yang berdaulat atas segala nasib hidup dan sumber-sumber kehidupan yang sungguh melimpah di permukaan serta dalam perut bumi pertiwi. Kemerdekaan bangsa ini ternyata hanya sebatas proklamasi yang tidak menyentuh sendi-sendi kehidupan rakyat dalam ekonomi, demokrasi dan budaya (kemerdekaan semu) karena Nica/Belanda masih datang kembali ke Indonesia dengan maksud atau kehendak yang serupa dengan awal-awal kedatangannya sebagaimana sesuatu yang menjadi watak keserakahan VOC bahkan lebih keji lagi ketika oost indische berhasil memberikan sumbangan besar bagi kerajaan Belanda dari Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) di era cultuur stelsel. Namun lagi-lagi rakyat tak sudi menyandang gelar tanah airnya sebagai tanah air jajahan dan perbudakan jiwa raganya. Perlawanan pun tak pernah surut dipersembahkan guna terwujudnya 100 % kemerdekaan sebagaimana dicatat sejarah tentang satu perang besar di jawa pada 1825-1830 yang dikenal dengan perang diponegoro yang hampir membuat kebangkrutan pemerintahan penjajah, baru kemudian Gubernur Jenderal Van den Bosch menyelenggarakan sistem Tanam Paksa.
  Terbitnya Agrarische Wet / Stb. No. 108 tahun 1870 yang menandai berakhirnya kebijakan tanam paksa bukan semata-mata atas desakan kaum liberal di negeri Belanda, melainkan bentuk perbudakan yang sangat menistakan sebagaimana praktik tanam paksa telah menyulut kemarahan rakyat untuk melakukan pemberontakan sehingga perang meletus dimana-mana. Selain menimbulkan banyak korban tentara hindia tentunya juga banyak menelan anggaran guna membiayai setiap peperangan. Kebijakan populis pun seperti politik etis ditempuh juga oleh pemerintah Hindia agar dapat lebih mengefisienkan lagi anggaran dalam kerangka pengeksploitasian sumberdaya alam dan manusia indonesia.

  Akan tetapi watak merkantilis itu tetap saja menindas, menghisap dan mengekploitasi, maka Peperangan terus berlanjut sebagai bentuk ketidak sudian rakyat yang kekayaan alam negerinya terus dikeruk belum lagi kekerasan sampai pembunuhan rakyat melengkapi kegetiran keadaan kala itu. Sampai kemudian Republik kita menetapkan kemerdekaan bahkan setelahnya, semangat rakyat memerangi kesewenang-wenangan penjajah tetap membara sampai saat kaum tani dan rakyat menghadapi Agresi Militer Belanda. Rakyat begitu gigih mempertahankan kemerdekaan hingga pimpinan republik beserta elit-elit politik borjuis oportunis kabinet hatta menghianati kemerdekaan rakyat dengan menempuh jalan kompromi dengan kaum penjajah. Semangat pertempuran demi pembebasan nasional yang dilancarkan sebelum dan paska proklamasi 1945 yang memberikan harapan panjang pun harus pupus oleh KMB 1949 yang secara nyata-nyata bertentangan dengan garis perjuangan kemerdekaan rakyat.

  Harapan baru kaum tani terbuka lebar saat penguasa republik populis-nasionalis yang didukung kekuatan PKI ini berkemauan menyusun tatanan keagrariaan sebagai basis utama produksi pertanian guna kelangsungan hidup dan kelangsungan negara dengan terbitnya UUPA no 5 tahun 1960 pada 24 September 1960. Jika kita telaah lebih mendalam, 12 tahun proses pnyusunan UUPA tidak lah berlangsung secara revolusioner sebagaimana semangat kemerdekaan kaum tani dan seluruh rakyat Indonesia. Melainkan hasil pergulatan politik kaum elit di parlemen. Karenanya menjadi centang perenang kemudian antara yang diundangkan (berikut terdapat kelemahan kandungan yang tak senafas dengan penghapusan feodalisme) dengan praktiknya. Hanya PKI waktu itu yang justru melakukan aksi sepihak Land Reform (turunan dari UUPA no 5 tahun 1960) dengan segala keterbatasan tentunya sebelum borjuasi bersenjata/tentara sayap kanan menumpurkannya, berikut hadir rezim baru yang anti reform, Soeharto.

  Semakin terpuruk. Dibawah rejim diktator Soeharto, kaum tani kembali dibelenggu temali kemiskinan karena dasar-dasar pokok keagrarian yang memiliki pedoman susunan ekonomi, politik dan budaya yang cukup banyak menyemangati kemerdekaan yang tertuang dalam UUPA no 5 tahun 1960 selain diinjak-injaknya juga telah di tendang jauh-jauh. Sebagai bentuk pengharamjadahan atas keberadaan UUPA adalah dengan diterbitkannya UU PMA No.1/1967 yang diawali datangnya freeport dan diikuti investasi-investasi lainnya diluar tambang seperti industri manufaktur dan perbankan. Begitu liar dan anarkisnya corak pembangunan ekonomi orde baru yang tanpa memiliki sandaran industri induk dan pokok yang kuat. Keadaan agraria justru semakin semrawut dan kehidupan kaum tani hamba-buruh tani tak kepalang suram. Kapitalisme merupakan sistem ekonomi tunggal yang dianut Soeharto telah benar-benar mengangkangi kekuatan lain di luarnya. Borjuis kecil/tuan-tuan pemilik tanah di desa secara tidak langsung dipaksa menyerahkan sebagian besar keuntungannya untuk pembelian pupuk, pestisida, benih, teknologi pertanian berikut kebijakan deregulasi pasar yang menghantam produksi dalam negeri. Lalu bagaimana dengan kondisi buruh tani/petani hamba? Sudah sangat jelas. Potret pedesaan menggambarkan kemiskinan dengan ditandai oleh pengangguran; eksodusnya sebagian besar warga desa ke kota (para urban dari desa solokan kecamatan Pakisjaya sebagi contoh, hingga saat ini ikut menyesaki TPA Bantar Gebang Bekasi); tak ada penurunan angka TKI ke luar negeri seperti dipotretkan kecamatan Rawamerta yang padahal di kecamatan tersebut terdapat prasasti perjuangan rakyat/kaum tani (tepatnya di Rawa Gede) saat mengusir penjajah dari negeri ini. Tak hanya di Rawamerta, kondisi kemiskinan desa juga telah membuang rakyat/kaum tani terutama kaum perempuan ke luar negeri, hampir di seluruh kecamatan di kabupaten Karawang; rendahnya tingkat pendidikan yang seiring dengan buruknya kesehatan.
<span><span>Diluar dugaan jauh sebelumnya, setelah kemandekan proses penataan agraria, sistem pertanian baru diselenggarakan di negeri ini. Yaitu Revolusi Hijau (Green revolution) merupakan pola produksi yang dianggap sebagai jalan keluar atas krisis pangan yang tengah melanda dunia. Lagi-lagi, satu kesalahan fatal orde baru, karena model pertanian ini tidak diletakan pada integralitas pembangunan ekonomi nasional yang bersandar pada industrialisasi yang saat itu mulai berkembang di Indonesia. Akan tetapi lebih meneguhkan dugaan bahwa liberalisasi investasi kapitalismelah yang mengambil keuntungan dari pertanian kita melalui industri pupuk, pestisida dsb. Hasilnya hanya menambah lebar kemiskinan dan kesenjangan antara kaum tuna kisma dengan kaum pemilik serta ketimpangan antara desa dan kota (secara sosial); bukan pula sekedar rusaknya unsur hara tanah dan unsur-unsur pengurai juga biodiversity tapi gejala alam seperti ancaman kekeringan dan kebanjiran terus membuntuti kaum tani pada siklus periodik musim dalam dampak alamnya. Peningkatan kapasitas produksi pertanian (terutama beras) hanya terjadi pada tahun-tahun awal revolusi hijau. 3-4 tahun berikutnya produksi kembali menurun (walau pada pada tahun 1985 indonesia mampu ekspor beras 1, 5 juta ton sebagai pembenaran resultante angka impor beras pada dekade 1970an yang mencapai 1, 5 juta ton, tapi keruntuhan revolusi hijau ditegaskan lagi oleh data pada akhir kekuasaan orde baru dimana Indonesia yang dikenal negara agraris harus mengimpor beras sebanyak 2, 5 juta ton.

  Di bawah pemerintahan SBY-Budiono persoalan-persoalan desa seperti yang terpapar di atas, masih terus berlangsung seakan tanpa henti. Kemiskinan, mobilisasi rakyat miskin/TKI dalam terutama feminisasi migrasi , kerusakan lingkungan, kesehatan, pendidikan dsb seakan enggan mengakhiri suatu era, disamping pengangguran karena tidak adanya lapangan kerja dan tak sempurnanya industrialisasi nasional sehingga terjadi kebangrutan banyak industri (yang berdampak pada PHK buruh) yang diantaranya industri tekstil dan garmen serta manufaktur lainnya karena pukulan produk impor krisis energi dan krisis finansial. Artinya kini desa harus menjadi markas-markas tenaga produktif (pengangguran) berikut menjadi pundak untuk memikul pemenuhan konsumsi kota dari dampak kebijakan harga pangan.

  Terdapat garis demarkasi antara sektor pertanian dengan industri dalam orientasi ekonomi negera. Padahal disadari atau tidak disadari pertanian dalam arti khusus adalah merupakan kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Dengan demikian artinya pertanian memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia, pada level tertentu kedudukannya bisa jadi lebih pokok dari pertambangan dan manufaktur. Bukan bermaksud melakukan pemisahan, tapi tidak menunda-nunda pertanian untuk menjadi bagian terpenting dari pembangunan industrialisasi nasional.
  yang menjadi fokus pemikiran kita atas kemiskinan desa antara lain dalam ihwal kelas sosial feodalisme yang tak pernah gugur dalam kesejarahan negara ini telah dipaksa tunduk terhadap kekuatan baru imperialisme, sementara pada relasi sosial lain feodalisme sendiri juga turut memporakporandakan pertahanan diri kaum tani hamba/buruh tani. Ekonomi desa telah benar-benar dihancurkan oleh teknologi modern (mesin produksi beserta modal) yang terpusat di kota dimana modal dan teknologi tersebut yang berkemampuan mencetak barang secara massal dan cepat, dikuasai oleh segilintir manusia. Sektor pertanian sendiri yang selama ini menjadi satu-satunya pokok tumpuan ekonomi mayoritas masyarakat desa dibuat tidak berdaya dihadapan sistem kapitalisme di tengah sistem pertanian yang masih tradisional dan feodalistik sehingga menempatkan para tuna kisma pada pusaran penghisapan yang begitu keji di tanah-tanah guntai (absentee lanlord).
  Demografi Agraria kabupaten Karawang  Menurut Pemkab Karawang, rencana tanam areal persawahan ditargetkan mencapai 187.832 ha, sedangkan sawah tadah hujan seluas 6.131 ha. Setiap tahunnya hasil panen selalu mengalami peningkatan sekitar 5-10%. Sekadar catatan, produksi padi tahun lalu mengalami surplus 404.000 ton. Dengan asumsi sekitar 1.231.370 ton gabah kering pungut (GKP) menjadi 689.569 ton beras. Kebutuhan beras di sini mencapai 290.000 ton per tahun dengan konsumsi masyarakat 135 kg per orang per tahun. Sayangnya, peningkatan produksi yang pernah terjadi tersebut tidak otomatis mengangkat pendapatan petani. Nyatanya, jumlah keluarga miskin di Karawang masih relatif tinggi. Lebih dari setengah jumlah penduduk Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tercatat sebagai keluarga miskin, karena sekitar 1.200.000 jiwa dari total 2.094.408 penduduk Karawang pada 2010 menggunakan pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin di rumah sakit.
  Yang lebih mengiris hati lagi pada kuartal akhir 2010 ini sebagian besar kecamatan-kecamatan di Karawang dinyatakan gagal panen hampir total.
  Alangkah baiknya kita kembali melihat kondisi agraria dan sebab-sebab kemiskinan kaum tani di kabupaten Karawang saat ini.  pertama mentradisinya kepemilikan tanah pribadi (land ceiling) kecil-kecil. Penguasaan tanah semodel ini telah menciptakan hubungan produksi yang tidak adil antara pemilik––penggarap––buruh tani. Yang begitu mencolok adalah berlakunya system upah bagi buruh tani yang bekerja (yang berproduksi). Contoh fenomenal adalah kuli harian kerja pengolahan tanah, penanaman dan perawatan tak lebih dari Rp 25.000 per hari/8 jam kerja. Sedangkan pembagian hasil saat panen masih berlaku sistem bagi hasil merlima. Benar, satu sisi buruh tani tak merasa cukup dengan upah serta bagi hasil yang di peroleh dari pemilik, tapi di sisi yang berlainan para pemilik/tuan tanah keukeuh beralasan tak bisa membayar/membagi hasil lebih karena hasil produksi juga tak sebanding dengan biaya produksi disamping kemerosotan produksi dan gagal panen masih membayangi petani, bergerak seiring dengan spekulasi harga GKP di pasar.

  Kedua , kepemilikan lahan guntai (absentee landlord). Sebagaimana kita ketahui bahwa sistem kepemilikan sawah guntai meniscayakan hasil pertanian/profit menjadi terbang keluar (capital flight) atau lari kemana si pemilik berasal, sehingga 70-80 % atau sebagian besar hasil kekayaan pertanian desa tidak dapat menggerakan ekonomi sektor ril lain yang ada di desa itu. Sekedar contoh realitas sosial, desa solokan status tanah guntainya mencapai 300 hektaran, jika dalam setiap hektarnya menghasilkan 6 ton GKP dan harga per kilo gramnya Rp. 2.500 maka per hektarnya akan menghasilkan uang Rp 12.000.000 setelah dipotong biaya produksi Rp 3.000.000 per hektarnya berarti pendapatan per hektar dikali luas tanah guntai, maka untuk di desa solokan saja kurang lebih Rp 3, 6 miliar per musim atau 7, 2 miliar/tahun uang lari ke luar. Bayangkan, jika di enam desa lainnya untuk kecamatan Pakis Jaya luasan sawah guntai rata-rata sama sekitar 300 hektar maka terhitung sekitar Rp 50, 4 miliar/tahun nilai capital flight disetiap kecamatan. Itu baru satu kecamatan saja, apabila rata-rata luasan sawah guntai di kabupaten Karawang sama untuk setiap kecamatan, maka tak terhingga besarnya rupiah yang diparkir di bank-bank di perkotaan dan/atau pusat-pusat perbelanjaan/mall/dealer dsb. Sehingga ekses domino dari itu telah menyingkirkan sebahagiaan masyarakat Solokan (sekitar 40 % menjadi pemulung di Bantar Gebang dan Pekayon) ditengah serbuan pendatang atau ketimpangan pertukaran (unequal exchange ) tenaga produktif
  Disamping larinya uang ke luar daerah, dampak nyata dari penguasaan tanah/sawah secara absente (besar-besaran) adalah kepemilikan tanah oleh petani setempat perlahan jatuh ke tangan-tangan tuan absente.

  Ketiga, penguasaan lahan besar-besaran oleh perhutani, menyebabkan lahan tersebut menjadi tidak produktif karena seperti menyegajakan tertutupnya akses air bagi pertanian yang jelas merugikan para penggarap (seperti yang terjadi di Kali asin desa Segarjaya). Bahkan perhutani lebih memilih mengusahakan lahan yang dikuasainya dengan menguasakannya kepada investor swasta sehingga tidak mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar, malah yang terjadi kerusakan lingkungan seperti dalam kasus PT. Atlasido Utama yang hingga hari ini masih direstui Dadang S Mukhtar.

  Problem Keempat, saat ini produksi pertanian tengah berhadapan dengan masalah pengairan, permodalan, pupuk, teknologi dan masalah penjualan hasil produksi yang acap kali tersingkir oleh produk impor dalam persaingan pasar yang tak kepalang bebas. Sementara bulog hanya menyerap 25 % saja hasil pertanian kita sehingga menjadi takaran untuk merekomendasikan impor beras. Padahal 75 % hasil pertanian (masih hitungan surplus) terpaksa tercecer di pasar-pasar induk dan bertekuk lutut pada produk impor.
  Problem kelima, adalah Hak Guna Usaha yang di berikan kepada swasta dalam waktu yang sangat lama (25 tahunan) dengan rata-rata luasan di atas 200 hektar. Dampak dari penguasaan HGU oleh perusahaan swasta sama dengan dampak yang ditimbulkan oleh absente.  Problem berikutnya, Keenam, fenomena konversi lahan pertanian oleh industri manufaktur dan sebagian besar oleh perusahaan proferti (perumahan) yang mencapai 200 hehtar/tahun (data dari Bappeda 2009). Artinya sekitar 4, 8 miliar sumber kekayaan pertanian setiap tahunnya hilang tanpa bekas. Selain pukulan terhadap kedaulatanan pangan kita, pembangunan perumahan secara anarkis di daerah kota/hulu juga memberikan sumbangan atas hilangnya daerah resapan air sebagai salah satu faktor penyebab bencana banjir di hilir.

  Dengan demikian bagaimanakah kita mencarikan jalan keluar kemiskinan rakyat terutama petani di desa-desa? Pembaruan agraria kah? Pembaruan agraria yang oleh banyak kalangan dianggap senjata ampuh untuk menyelesaikan setiap persoalan-persoalan hendaknya diletakan sebagai landasan pembangunan ekonomi kerakyatan. Pembaruan agraria tidak dapat berjalan sendiri tanpa diikuti oleh langkah-langkah konkrit dan segera yang mencorakan ekonomi baru yang berwatak sosial. Sistem Keagrarian kita hanya akan memunculkan pertentangan-pertentangan berikutnya dan tidak akan bisa memupus feodalisme apabila dialektika sejarah kita kesampingkan. Dalam masyarakat kapitalisme seperti sekarang ini senantiasa pula meletakan perspektif sosialisme sebagai pengganti tatanan ekonomi kapitalisme yang jahat, menghisap dan menindas. Sosialisme yang mengintrodusir industrialisasi sebagai sandaran ekonomi. Industrialisasi pertanianlah jawaban atas kemiskinan desa.

  LAKSANAKAN PEMBARUAN AGRARIA – BANGUN INDUSTRIALISASI PERTANIAN

Filsafat Deregulasi

Add Comment
by acehmarxist

KETIKA harga minyak mulai rontok di tahun 1982, rezim Orde Baru berangsur-angsur kehilangan otonomi fiskal. Sejak itu gerak ekonomi-politik Indonesia mencari motor baru dalam rupa bisnis swasta dengan deregulasi sebagai instrumen utama. Era deregulasi mulai di tahun 1983 mencakup keuangan, pajak, tarif, bea cukai, perdagangan, investasi, pasar modal, perbankan, komunikasi, dan sebagainya.

Apakah deregulasi baik atau buruk? Ada baiknya ditangguhkan dulu debat pro dan kontra. Namun, sebagai uji coba, baiklah mulai dari posisi pro: deregulasi secara keseluruhan (dan bukan selektif) merupakan sesuatu yang sangat baik adanya.

Bila diringkas, deregulasi menunjuk ke- bijakan pemerintah mengurangi/meniadakan aturan administratif yang mengekang kebebasan gerak modal, barang, dan jasa. Dengan kebebasan gerak produksi, distribusi, dan konsumsi modal, barang, serta jasa itu, volume kegiatan bisnis swasta diharapkan melonjak. Dengan itu lanskap ekonomi Indonesia juga tidak lagi bergantung pada uang minyak.

Deregulasi telah menjadi istilah teknis ekonomi dan populer karena alasan ekonomi. Akan tetapi, penciutan istilah “deregulasi” ke bidang ekonomi itu sangat menyesatkan. Deregulasi pertama-tama bukan gagasan ekonomi, tetapi premis baru ketatanegaraan.

Premis baru
Isi premis baru ketatanegaraan itu mungkin bisa ditunjuk dengan dua lapis argumen berikut. Lapis pertama, deregulasi berisi gagasan bahwa jatuh-bangun dan hidup-matinya suatu negeri tak boleh lagi hanya bergantung pada kekuasaan rezim yang sedang memerintah. Jadi, jatuh-bangun dan hidup-matinya ekonomi, budaya, atau pendidikan di Indonesia tidak boleh lagi hanya bergantung pada inisiatif pemerintah, entah itu rezim Soeharto atau Susilo B Yudhoyono. Itulah mengapa deregulasi melibatkan pemindahan berbagai inisiatif, dari pemerintah ke sektor-sektor nonpemerintah.

Sejak 1 Januari 1984, misalnya, metode “valuasi pemerintah” (official assessment) dalam pengumpulan pajak diganti menjadi “penghitungan diri” (self-assessment). Artinya, penghitungan pajak tidak lagi dimulai oleh petugas pajak, tetapi oleh wajib pajak sendiri, lalu petugas pajak melakukan crosscheck. Tentu perubahan itu ditujukan untuk sasaran ekonomi, seperti efisiensi dan pembatasan kuasa petugas pajak bagi peningkatan revenue dari pajak. Namun, implikasi praktis terhadap urusan fiskal ini hanyalah konsekuensi dari gagasan lebih fundamental tentang deregulasi: bahwa hidup-matinya Indonesia tidak boleh lagi bergantung hanya pada inisiatif dan tindakan aparat pemerintah.

Lapis kedua, justru karena itu deregulasi juga menunjuk gagasan baru bahwa jatuh-bangun dan hidup-matinya kondisi politik, ekonomi, budaya, ataupun pendidikan di Indonesia juga tidak bisa lagi hanya menjadi beban tanggungan pemerintah. Lugasnya, solusi atas masalah Indonesia juga merupakan beban tanggungan sektor-sektor nonpemerintah. Lapis ini sejajar dengan lapis pertama di atas. Andaikan “deregulasi” adalah sekeping mata uang, pokok dalam lapis pertama dan kedua merupakan dua sisi dari satu keping mata uang yang sama.

Dua lapis pengertian di atas mungkin terdengar aneh bagi mereka yang mengartikan deregulasi hanya sebagai soal teknis, seperti pengertian umum dalam alam pikir ekonomi dewasa ini. Namun, dalam “republik refleksi”, kita selalu butuh kembali ke prinsip paling sederhana, yang kira-kira berbunyi begini: pengertian luas bukanlah bukti validitas.

Dari pokok-pokok di atas mungkin segera tampak, de-regulasi bukan berarti tidak-adanya regulasi, melainkan perluasan/pemindahan locus otoritas regulasi, yaitu dari state-regulation ke self-regulation. Maka, de-regulasi sesungguhnya berisi re-regulasi, dengan self sebagai aktor-regulator alternatif. Istilah “self” bisa berupa individu perorangan, bisa juga badan usaha bisnis/ perusahaan, dan bisa pula pemerintahan lokal yang otonom.

Regulator Alternatif
Apa dasar self bertindak sebagai aktor-regulasi alternatif? Dasarnya adalah self-determination yang terungkap dalam kebebasan dan kedaulatan pilihan individual. Tetapi masih perlu dikejar lanjut. Kalau sumber daya pemerintah melakukan state-regulation adalah mandat, apa sumber daya self-regulation? Jawab: pemilikan/kontrol atas berbagai sumber daya (finansial, teknologis, fisik, informasi, material, dan sebagainya) yang diubah menjadi capital. Itulah mengapa terjadi penerapan istilah “capital” pada bidang-bidang seperti budaya (cf cultural capital), pengetahuan (cf symbolic capital), dan lain-lain.

Dengan itu deregulasi melahirkan gejala baru, yaitu kedaulatan dan kebebasan selera individual menjadi locus kekuatan regulatif baru yang tidak kalah menentukan dibanding kekuatan regulatif pemerintah. Modelnya adalah kinerja “kebebasan pilihan individual” dalam ekonomi pasar-bebas (cf “saya bebas berbuat apa pun menurut selera saya dan selera apa pun yang bisa saya beli”). Dalam arti tertentu bahkan bisa dibilang, pemerintah sering tinggal menjadi penjaga legalitas, tanpa sepenuhnya mampu menjadi regulator.

Ambillah acara di layar televisi sebagai contoh. Sudah lama meluas keluhan tentang rendahnya mutu acara televisi yang dikuasai program gosip, klenik, jingkrak-jingkrak, badut-badutan, serta histeria idola. Pemerintah tidak bisa lagi menjadi regulator acara televisi tanpa dituduh otoriter. Mungkin para programmers acara televisi bilang acara-acara itulah demand pemirsa. Tetapi karena klaim itu tidak ada sebelum programmers menayangkan acara-acara tersebut, dengan lugas bisa dikatakan regulatornya adalah corak selera para programmers televisi. Kemudian muncul apologi, misalnya “bukankah pepatah Romawi pun mengingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan roti, tetapi juga komedi?” (Tajuk Kompas, 8/9/2004). Dalih itu menggelikan karena soalnya justru sebagian besar acara televisi berupa “komedi”. Tambahan lagi, pepatah itu datang dari kaisar seperti Nero dan Commodus sebagai siasat meninabobokan warga Roma dengan orgi darah di Colosseum.

Sekali lagi, de-regulasi bukan pengha- pusan regulasi, tetapi re-regulasi menurut selera pribadi. Dengan itu kekuatan-regulatif penentu corak kehidupan publik bukan lagi hanya daya-regulatif pemerintah, tetapi juga daya-regulatif kebebasan selera/pilihan individual. Pokok sederhana ini punya implikasi sangat jauh.

Etika Deregulasi
Bila deregulasi berisi premis hidup-matinya negeri ini tak boleh lagi tergantung hanya pada pemerintah, tentu itu juga berarti hidup-matinya negeri ini tidak boleh lagi hanya menjadi beban tanggungan pemerintah. Segera tampak deregulasi pertama-tama bukan urusan teknis ekonomi, tetapi etika baru manajemen masyarakat. Dan itu berlaku baik untuk bidang ekonomi, budaya, pendidikan, sosial, maupun politik. Jadi, kita mesti pro atau kontra deregulasi? Dua pokok berikut ini mungkin bertentangan dengan paham tradisional yang luas diyakini, tetapi semoga ada gunanya diajukan.

Pertama, andaikan Anda penentang gigih deregulasi. Posisi kontra ini salah satunya melibatkan penolakan atas pemindahan/perluasan otoritas regulasi dari state-regulation ke self-regulation. Anda mungkin dituduh mendukung otoritarianisme, tetapi tuduhan itu bisa diabaikan. Salah satu agenda pokok penganut posisi kontra deregulasi lalu adalah memastikan agar gerakan civil society mengoreksi dan memberdayakan kapasitas pemerintah sebagai badan regulator yang baik karena pemerintah dilihat sebagai satu-satunya penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Tetapi, agenda ini tidak lebih dari meneruskan teriakan-teriakan kita selama ini dan deregulasi lalu juga kehilangan arti.

Kedua, andaikan Anda penuntut gigih deregulasi. Posisi pro ini berisi kesetujuan atas pemindahan/perluasan otoritas regulasi dari state-regulation ke self-regulation. Implikasi utamanya, civil society tidak-bisa-tidak berfokus pada gerakan memastikan agar sektor-sektor nonpemerintah juga menjadi aktor-regulator yang baik karena self-regulation berarti pemerintah bukan lagi satu-satunya penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Lugasnya, persis dari logika-internal deregulasi, sektor-sektor nonpemerintah itu kini juga tidak-bisa-tidak menjadi penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Itu berlaku baik bagi sektor bisnis, media, maupun perguruan tinggi, dari soal acara televisi, rusaknya gedung sekolah, busung lapar, sampai keluasan korupsi.

Apa yang terjadi bila sektor-sektor nonpemerintah menuntut deregulasi seluasnya, tetapi membebankan semua hanya kepada pemerintah dan juga tidak mau ikut menjadi solusi atas labirin masalah Indonesia? Itulah yang rupanya sedang terjadi. Deregulasi lalu tidak lebih dari siasat para pelaku sektor-sektor nonpemerintah untuk menjadi free riders di negeri ini. Free rider kira-kira berarti “penumpang yang tidak membayar”. Maka tidak perlu kaget bila para programmers televisi merasa tidak punya urusan dengan pendidikan kultural warga Indonesia. Tak mengherankan pula bila para bos perusahaan tambang merasa tidak punya urusan dengan kehancuran lingkungan seperti di Pantai Buyat.

Kita bisa meratapi atau merayakan deregulasi, tetapi itu masih jauh dari memahami bahwa deregulasi melibatkan agenda ketatanegaraan yang lebih mendalam daripada sekadar perkara efisiensi ekonomi.

B Herry-Priyono Pengajar Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, Alumnus London School of Economics (LSE), Inggris.

Sejarah Gerakan Perempuan

Add Comment
by acehmarxist

Politik etis adalah pedang bermata dua.
Pada awalnya ia dimaksudkan untuk meninggikan daya beli rakyat Hindia Belanda, serta menghasilkan buruh-buruh murah dan birokrat rendahan yang cukup terdidik dari rakyat tanah jajahan. Biaya produksi kapitalisme tanah jajahan harus ditekan; terlalu mahal menggunakan tenaga impor dari Belanda. Ternyata, pembukaan sekolah-sekolah Belanda untuk elite pribumi dan para ningrat kelas dua seperti Sukarno, menghasilkan sekumpulan orang-orang muda berpendidikan Barat yang nantinya akan menjadi tulang punggung gerakan pembebasan nasional.
Perkebunan dan sawah-sawah lalu disirami dengan air dari bendungan irigasi yang dibangun oleh penjajah Belanda. Para pemuda kita pun kemudian berbondong-bondong memasuki Sekolah Rakyat, HIS, MULO dan HBS, hingga sekolah dokter (STOVIA), dan sekolah guru (Kweekschool). Pencerahan datang. Buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris membuka mata dan hati tentang perjuangan pembebasan nasional di seluruh negeri di bumi ini. Pencerahan menggugat orang-orang muda untuk berkumpul, bicara, berdiskusi dan menentukan. Lahirlah organisasi. Berdiri Budi Utomo, 1908.

Namun, jauh sebelum sejumlah priyayi terdidik Jawa mengumumkan Budi Utomo, perjuangan melawan Belanda telah dimulai di mana-mana. Bukan untuk pembebasan Indonesia, karena ia belum lahir sebagai sebuah realitas, tetapi untuk membebaskan tanah leluhur, gunung-gunung, bukit, sungai, pulau dan rakyatnya. Di akhir abad ke-19, perempuan-perempuan muda terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan penjajah. Sebatas membantu suami pada awalnya, tetapi kemudian sungguh-sungguh menjadi pemimpin pasukannya. Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu bersama Kapitan Pattimura, Emmy Saelan mendampingi Monginsidi, serta Roro Gusik bersama Surapati. Lalu ada Wolanda Maramis dan Nyi Ageng Serang. Gagasan kesetaraan gender belum ada, dan sama sekali belum menjadi kesadaran. Namun yang menarik adalah kebanyakan dari para perempuan ini adalah juga kaum bangsawan, para ningrat dengan status sosial lebih tinggi dibanding para “kawula” yang bertelanjang dada itu dan coklat hitam itu. Ini bisa dipahami, karena beberapa memilih angkat senjata sebab tanah-tanah keluarganya diserobot oleh Kumpeni. Terusik, karena pemilikan pibadinya terganggu. Tak perlu masuk sekolah Belanda untuk membangun gerakan nasional, para perempuan ini angkat senjata dengan gigih, dan membayar nyawanya di tiang gantungan seperti Tiahahu.

Kartini
Lalu, beberapa belas tahun sebelum Budi Utomo hadir, Kartini yang manis itu telah menulis surat-suratnya. Menyala-nyala dengan cita-cita dan keinginan untuk belajar dan bebas, Kartini harus menerima kenyataan hanya disekolahkan hingga usia 12 tahun. Bahasa Belanda telah dikuasai, maka energi, gairah, kekecewaan dan angan-angannya disalurkan lewat surat-suratnya—yang mengejutkan– begitu indah dan puitis.
Berbagai literatur yang memuat tulisan tentang Kartini menyatakan bahwa, gagasan-gagasan utama Kartini adalah meningkatkan pendidikan bagi kaum perempuan, baik dari kalangan miskin maupun atas, serta reformasi sistem perkawinan, dalam hal ini menolak poligami yang ia anggap merendahkan perempuan. Namun dalam Panggil Aku Kartini Saja yang ditulis oleh Pramoedya tergambar bahwa gagasan dan cita-cita Kartini lebih dalam, lebih tinggi dan lebih luas daripada sekedar mencerdaskan kaum perempuan dan memperjuangkan monogami (meskipun hal ini menjadi sentral dari praktek perjuangannya). Kartini, bagi Pram adalah feminis yang anti kolonialisme dan anti feodalisme, hingga ke tulang sum-sumnya.
Surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar, seorang feminis sosialis dari Belanda, banyak yang telah dihancurkan. Justru percakapan tertulis dengan Stella-lah yang banyak membuka mata dan hati Kartini terhadap masalah perempuan dan pembebasannya. Juga memahat secara perlahan-lahan penolakannya akan dominasi golongan feodal terhadap rakyat kecil. Surat Kartini yang secara khusus membahas buku Auguste Bebel De Vrouw en Sosialisme dihapus oleh Abendanon karena kepentingan kolonialnya. Kartini banyak menerima buku-buku progresif semacam ini dari sahabatnya H.H van Kol, seorang sosialis demokrat anggota Tweede Kamer. Mungkin dari surat-surat itu, gambaran yang lebih utuh tentang pikiran-pikiran politik Putri Jepara yang tak ingin dipanggil dengan gelarnya itu, bisa lebih utuh. Pram mampu memberikan perimbangan kepada distorsi yang telah merajalela selama ini terhadap sosok Kartini–mulai dari mitosisasi Kartini, hingga reduksi terhadap gagasan-gagasannya.
Satu hal yang juga perlu dicatat adalah saat Kartini menulis suratnya, sentimen nasionalisme yang terorganisir belum muncul. Organisasi pertama kaum buruh SS Bond, baru hadir tahun 1905, setahun setelah kematian Kartini. Tradisi menggunakan media surat kabar dan terbitan untuk menyebarluaskan propaganda, belum timbul. Karya jurnalisme awal dari Sang Pemula (Tirto Adhi Suryo), Medan Prijaji, baru terbit tahun 1906. Referensi dari gagasan-gagasan orisinil Kartini berasal dari berbagai literatur berbahasa Belanda yang dibaca Kartini dalam masa pingitannya, serta korespondesinya dengan khususnya Stella.. Adalah satu hal luar biasa bahwa Kartini yang sendirian, terisolasi dan merasa sunyi itu mampu membangun satu gagasan politik yang progresif untuk zamannya, baik menyangkut kaum perempuan maupun para kawula miskin tanah jajahan. Gagasan-gagasan ini lalu diikuti oleh beberapa tokoh perempuan lainnya, seperti Dewi Sartika dan Rohina Kudus. Namun Kartini tetaplah Sang Pemula, yang mengawali seluruh tradisi intelektual gerakan perempuan Indonesia, berikut gagasan paling awal dalam melihat ketertindasan rakyat di bawah feodalisme dan kapitalisme. Nasib tragis Kartini menjadi salah satu petunjuk bahwa tak ada jalan baginya untuk membangun perjuangan dengan cara lain yang lebih kuat dan efektif. Zaman beorganisasi belum terbit.
Pembebasan Nasional
Alangkah besarnya sumbangan yang diberikan oleh Gerakan Pembebasan Nasional kepada perkembangan gerakan perempuan. Di satu sisi, berbagai oganisasi nasional ataupun partai politik saat itu berupaya membangun sayap perempuannya sendiri, ataupun mendukung dan didukung oleh perjuangan perempuan di satu sektor atau kelas tertentu. Di sisi lain, perkembangan gerakan berbasiskan agama seperti Muhammadiyah, turut pula membentuk polarisasi dalam gerakan perempuan. Berbagai karya jurnalismepun bertebaran, bukan hanya dalam Belanda, tetapi terutama dalam bahasa melayu. Gairah nasionalisme tengah mencari jalan memodernisasi dirinya.
Saat Sarekat Dagang Islam mengubah namanya menjadi Sarekat Islam, bulan September 1912, maka watak organisasi pun berubah. Dari yang semula didominasi oleh kaum borjuis kecil pedagang batik kelontong Solo dan sekitarnya yang mengorganisir diri untuk menghadapi pedagang Cina, kini keanggotaannya menjadi lebih massif, lebih terbuka, dan konsekuensinya, lebih politis. Alasan-alasan komersial yang melandasi pendiriannya dulu telah memudar, karena muncul kebutuhan rakyat jajahan, khususnya di pedesaan, akan wadah untuk melakukan perlawanan. Meski arus perlawanan ini coba terus ditahan-tahan oleh para pimpinan SI yang kebanyakan berhaluan Islam modernis, agak mistik meski berpaham liberal.
Hingga Sneevliet mendarat tahun 1913, belum ada gerakan kiri di indonesia. Indonesia seperti sebuah titik di tengah jutaan mil samudera, di mana puluhan negeri-negeri lain pun tengah memperjuangkan harga diri dan kemerdekaan. Cikal bakal Partai Komunis Indonesia, ISDV (Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia Belanda) didirikannya di tahun 1914. Semaoen yang masih sangat muda pada waktu itu, merupakan salah satu kadernya yang bersemangat dalam mengorganisir SI Semarang, meski tak cukup punya uang untuk masuk sekolah Belanda. Desakan-desakan dan pengaruh kelompok kiri di tubuh SI terus membesar, dan para pimpinan moderatnya mulai kehilangan kontrol atas SI. Tahun 1921, banyak cabang SI yang membelot ke SI Merah pimpinan Semaoen. SI Merah lalu menjadi SI Rakyat.
Salah satu persoalan yang membuat pertikaian tajam dalam tubuh SI adalah desakan kelompok kiri untuk mengorganisir dan membela kaum buruh dan tani. Jajaran pimpinan SI menolak memberi dukungan bagi militansi perlawanan kaum buruh dan tani, yang sebagiannya adalah perempuan. Namun, aksi-aksi buruh, khususnya buruh transportasi dan perkebunan, serta aksi kaum tani terus bergolak. Sarekat Rakyat pun mengorganisir berbagai demonstrasi politik buruh perempuan menuntut kenaikan upah, penghapusan buruh anak, perpanjangan kontrak maksimum, uang pensiun dan perlindungan kerja. Salah satu aksi buruh perempuan pada tahun 1926 yang diorganisir SR di Semarang adalah aksi ‘caping kropak”, dimana para buruh perkebunan perempuan unjuk rasa menuntut kesejahteraan dengan menggunakan topi bambu.
Gerakan perempuan kelas bawah yang diorganisir SI Merah (kemudian SR) berada dalam posisi yang bertentangan dengan Aisyah, sayap perempuan Muhammadiyah. Muhammdiyah dan Aisyah yang kebanyakan anggotanya adalah tani kaya, istri tuan tanah dan borjuis kecil Jogja dan Solo itu berada dalam kepentingan yang berseberangan dengan SR, yang kebanyakan anggotanya adalah buruh perempuan miskin dan tani papa. Ini merupakan awal dari pertentangan laten yang tak terdamaikan antara gerakan perempuan sayap kiri dengan kaum perempuan Islam di masa mendatang. Perbedaan tajamnya bukan hanya berdasarkan pada kepentingan kelas yang direpresentasikan oleh masing-masing kelompok, namun juga untuk isu-isu seperti poligami dan keterlibatan aktif perempuan sebagai pimpinan politik.
Pemberontakan 1926 membawa banyak korban dari para aktivis perempuan. Kali ini bukan karena sekedar membantu suami, namun disebabkan kegiatan mereka sendiri. Sukaesih dan Munasiah dari Jawa Barat, bersama dengan kawan-kawan mereka yang lain, dikirim ke kamp konsentrasi Belanda di Digul Atas. Kebanyakan aktivis perempuan ini adalah anggota dari Sarekat Rakyat ataupun PKI yang berdiri tahun 1922. Penjajah Belanda yang sudah lama menanti-nanti saat yang tepat untuk menghancurkan kaum radikal, melakukan pembersihan terhadap tokoh SR dan PKI saat itu, termasuk para perempuannya. Tokoh-tokoh ini tidaklah populer seperti Kartini. Publikasi Kartini diperkenankan dan difasilitasi oleh pemerintah Belanda karena saat itu mereka membutuhkan bukti untuk menunjukkan sukses pelaksanaan politik etisnya di tanah jajahan, dengan mengusung pameran intelektualitas dan kehalusan tulisan si Putri Jepara. Meski demikian, perjuangan Sukaesih dkk., sangat konkrit dan revolusioner, karena bukan hanya berbicara tentang pembebasan kaum perempuan, tetapi juga perjuangan untuk sosialisme, dengan kemerdekaan sebagai jembatannya. Munasiah, mislanya, dalam sebuah kongres perempuan di Semarang menyatakan bahwa : “ Wanita itu mataharinya rumah tangga, itu dulu! Tapi sekarang wanita jadi alatnya kapitalis. Padahal sejak zaman Mojopahit, wanita sudah berjuang. Sekarang adanya pelacur, itu bukan salahnya wanita. Tapi salahnya kapitalisme dan imperialisme!”.
Terlepas dari perbedaan latar belakang ideologi yang dianutnya, beberapa hal penting patut jadi kesimpulan. Gagasan-gagasan feminis, berikut praktek hingga pembentukan organisasi-oganisasi perempuan selama masa periode pertama gerakan perempuan Indonesia ini, ternyata pada umumnya muncul sebagai inisiatif dari kalangan perempuan menengah ke atas. Mulai dari Kartini, Dewi Sartika, Putri Mardhika (yang dekat dengan Budi Utomo), hingga Aisyah. Hanya sayap perempuan dari Sarekat Rakyat-lah yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya dalam pengorganisasian dan membangun radikalisasi perempuan miskin. Persoalan-persoalan yang diangkatpun, oleh karenanya lebih banyak menyangkut hal yang menguntungkan ataupun dapat diakses oleh perempuan menengah ke atas, seperti permaduan, perdagangan anak dan kesetaraan pendidikan. Perempuan buruh dan tani telah jauh sebelumnya terlibat dalam carut marut proses produksi keji kaum kolonial semacam tanam paksa, mengalami ketertindasan dan terhina dirinya sebagai kelas proletar. Ini mirip dengan gerakan perempuan Amerika dan Eropa di abad ke-18, yang memfokuskan tuntutannya pada hak untuk memilih dan dipilih (universal suffrage). Meski demikian, seminimal apapun pengaruhnya baik mayoritas kaum perempuan di kelas bawah, gerakan perempuan menengah ini telah mampu membuka jalan dan peluang bagi perjuangan kaum perempuan selanjutnya.

Periode Kedua Gerakan Perempuan
Saskia Wireringa, seorang feminis indonesia yang berdiam di Belanda, menyebutnya sebagai periode kedua. Tidak dijelaskan apa yang melandasi timbulnya pembagian waktu demikian. Namun kelihatannya, paska kehancuran PKI dan gerakan kiri 1926, ada upaya untuk mengorganisasi gerakan secara berbeda dari sebelumnya. Harus juga dilihat bahwa situasi gerakan pembebasan nasional saat itu, secara fisik dan terutama intelektual, mulai tumbuh dewasa. Perbedaan-perbedaan ideologis terumuskan dan terbaca jelas melalui strategi dan taktik yang dimunculkan, baik oleh PKI, PNI, PI, dan berbagai wadah lainnya. Tokoh-tokoh yang menjadi magnet dari gerakan ini mulai muncul dan mendapatkan tempatnya sendiri-sendiri di hati dan telinga rakyat. Namun kemajuan yang paling terang benderang adalah, dipergunakannya partai politik sebagai alat perjuangan untuk merebut kekuasaan dan membebaskan Indonesia. Zaman berpolitik ala Sarekat Islam, saat Tjokroaminoto meninabobokkan orang miskin tentang Ratu Adil dan menjebloskan agama semakin dalam ke jurang mistik, telah lunglai cahayanya. Ini zaman baru. Zaman dimana teori-teori kiri, pemikiran sosial demokrat, nasionalisme dan gagasan-gagasan liberal, bahkan fasisme, menjadi bahan debat sengit di kalangan para inlander terdidik, berjas dan berdasi.
Otomatis, gerakan perempuan pun menyesuaikan dinamikanya dengan perkembangan ini. Nasionalisme menjadi gagasan yang diterima seluruh kekuatan politik yang ada, sehingga konsepsi persatuan menjadi lebih mudah untuk diwujudkan. Maka, Kongres Perempuan Indonesia nasional pertama diadakan di Yogyakarta pada bulan Desember 1928, setelah Sumpah Pemuda. Dihadiri oleh hampir 30 organisasi perempuan, kongres ini merupakan fondasi pertama gerakan perempuan, dan upaya konsolidasi dari berbagai organisasi perempuan yang ada.
Kongres Pertama ini menghasilkan federasi oganisasi perempuan bernama Persatoean Perempoean Indonesia (PPI), yang setahun kemudian diubah menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia). PPII sangat giat di bidang pendidikan dan membentuk panitia penghapusan perdagangan perempuan. Perbedaan tajam dengan kelompok Islam soal poligami tetap timbul dan tak terdamaikan.
Mayoritas peserta Kongres datang dari perempuan kalangan atas, meskipun organisasi perempuan kiri mulai mewarnai. Kongres Perempuan II di Jakarta (1935) dan Kongres III di Bandung (1938) menunjukkan kecenderungan yang semakin populis dari gerakan perempuan. Orientasi kepada perempuan kelas bawah mulai menguat, meski dalam hal program tidak selalu konsisten.

Yang memilukan adalah tidak ada satupun organisasi yang tergabung dalam Kongres Perempuan Indonesia (KPI) mengeluarkan pernyataan terbuka menolak dan melawan penjajahan kolonial, kecuali Sarekat rakyat dan Istri Sedar. Kedua kelompok ini secara konsisten mendorong agar kaum perempuan terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Seperti yang diucapkan Sukarno pada tahun 1932 : “Saat ini perjuangan kaum perempuan yang terpenting bukanlah demi kesetaraan, karena di bawah kolonialisme laki-laki juga terttindas. Maka, bersama-sama dengan laki-laki, memerdekakan Indonesia. Karena hanya di bawah Indonesia yang merdekalah, kaum perempuan akan mendapatkan kesetaraannya.” Di tengah-tengah ombak besar nasionalisme yang siang malam menyerbu mimpi-mimpi para pemuda, mayoritas kelompok perempuan lainnya memfokuskan diri semata pada pendidikan, pemberantasan buta huruf dan soal-soal keperempuanan. Meskipun hal ini juga amat penting, namun tanpa keterlibatan dalam perjuangan kemerdekaan, semua persoalan kesetaraan akan gagal menghasilkan pembebasan dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun..
Nasionalisme vs Feminisme?
Menurut sejumlah sejarawan feminis sepert Saskia Wieringa, sejak Kongres 1928, telah terjadi tarik menarik antara kepentingan nasionalisme dan feminisme. “Persatuan Nasional” diatur di atas landasan berpikir patriarki yang masih kental, sehingga pandangan tentang konsepsi kesetaraan menjadi pragmatis, sama sekali tak mendalam. Patriarki “disembunyikan”, menjadi sekunder dan samar dalam keteguhan praktek politik membebaskan darat dan laut Indonesia, karena ada prioritas-prioritas perjuangan yang lebih penting.
Di satu sisi, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Kongres Pemuda bulan Mei pada tahun yang sama (yang menelurkan Sumpah Pemuda), sesungguhnya telah memasukkan butir mengenai “pentingnya kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan persatuan nasional”, dari keseluruhan enam butir topik yang dibahas. Meski demikian, seluruh konsepsi tentang kesetaraan saat itu memang tersubordinasi di bawah kepentingan nasionalisme dan persatuan. Kemudian dalam Kongres Pemuda 1928, juga ada alokasi satu sessi khusus untuk membicarakan persoalan perempuan. Beberapa pembicara seperti M. Tabrani, Bahder Johan, Djaksodipoero dan Nona Adam pun memiliki pandangan yang cukup maju dalam mengkaitkan persoalan perempuan dan kemerdekaan. Meskipun dalam praktek, kesetaraan belum tentu dapat dilaksanakan.
Namun di sisi lain kesenjangan memang terjadi karena masih lemahnya kemampuan gerakan perempuan saat itu untuk membangun satu konsep perjuangan perempuan yang menyeluruh. Juga disebabkan basis massa yang masih kecil dan belum terpolitisasi dari kalangan perempuan, di tengah gerakan anti penjajahan yang menggelembung. Hanya Serikat Rakyat dan Istri Sedar-lah kelompok perempuan yang pada waktu itu secara terbuka menolak kolonialisme. dan kapitalisme. Mungkin “tarik menarik” bukanlah istilah yang tepat, mengingat posisi gerakan perempuan memang belum semassif, sepolitis dan seefektif gerakan anti kolonial. Konsekuensinya, kesetaaan lebih dilihat sebagai tahap yang harus dibenahi demi konsolidasi persatuan nasional, ketimbang sebagai satu hak politik dan ekonomi kaum perempuan seutuhnya.
Jika melihat pengalaman gerakan perempuan Amerika Serikat dan Perancis, kedua-duanya pun timbul dan termotivasi dalam situasi revolusioner yang diciptakan oleh gerakan pembebasan nasional melawan Inggris dan Revolusi Borjuis Perancis 1789. Harus dilihat bahwa gerakan perempuan tidak timbul dan berkembang sendirian, ia adalah reaksi tehadap perkembangan masyarakat dan relasi produksinya. Maka, dalam perjalanannya feminisme tidak mungkin dikontradiksikan dengan arus besar nasionalisme anti kolonial, gerakan anti imperialisme di jaman Sukarno, ataupun gerakan demokrasi dan anti neoliberalisme di masa sekarang.
Setelah Kongres Perempuan tahun 1928 itu, muncul organisasi-organisasi perempuan yang radikal dalam menentang poligini (perceraian sepihak oleh laki-laki), poligami, perkawinan anak perempuan, dan berpendirian nonkooperatif terhadap Pemerintah Kolonial, seperti Isteri Sedar. Muncul pula “sekolah-sekolah liar”, yang menolak subsidi pemerintah kolonial. Di sekolah-sekolah ini ditanamkan semangat cinta Tanah Air dan cita-cita kemerdekaan. Belakangan Istri Sedar menjelma menjadi Gerwis, yang merupakan cikal bakal Gerwani nantinya.
Tidak banyak tersedia data tentang para tokoh perempuan yang terlibat dalam gerakan bawah tanah melawan fasisme Jepang. Berbagai organisasi pemuda seperti Gerindo, AMI, Angkatan Muda Minyak, PRI dan terakhir Pesindo (1945). Namun data tentang keterlibatan kaum perempuan dalam wadah dan laskar-laskar itu sering disebut hanya selintas saja dalam banyak literatur. Yang cukup menonjol adalah keberadaan GWS (Gerakan Wanita Sosialis), organisasi para perempuan dari simpang kiri gerakan. Banyak anggota GWS saat itu yang ditangkap dan dibunuh Nippon karena berani terlibat dalam gerakan bawah tanah melawan fasisme Jepang.

MATERIALISME SEJARAH (HISTORICAL MATERIALISM)

Add Comment
by: acehmarxist

Semua pengaruh yang diterima Marx menggabung ke dalam suatu bingkai teori selama tahun-tahun 1844 dan 1845. Marx dan Engels bekerjasama erat sekali masa itu. Kenyataan bahwa mereka menarik ide-ide dari berbagai sumber, tidaklah mengurangi penting atau orizinalitas pencapai mereka. Semua pemikir besar membangun karya mereka atas dasar karya para pendahulunya.

Marx, dalam tahun 1844 telah sampai pada suatu ide sentralnya, ketika menulis sejumlah catatan atau naskah-naskah kasar yang dikenal sebagai “Manuskrip Ekonomi dan Filsafat” atau Manuskrip Paris. Disinilah untuk pertama kalinya ia memusatkan sesuatu yang kemudian jadi tema pokok Das Kapital, yaitu hubungan anatara kapital dan upah kerja atau kerja upahan, hubungan antara kapitalis dan pekerja. Si kapitalis memiliki alat-alat produksi ( peralatan dan bahan) atau uang untuk membeli. Para pekerja tidak memiliki apa-apa dan tidak dapat hidup tanpa bekerja, para pekerja itu tidak punya hak atas produk kerjanya. Produk itu sepenuhnya milik sang kapitalis yang mempekerjakannya. Dengan begitu par pekerja itu tetap miskin dan tergantung. Sedang si kapitalis jadi kaya terus.

Hubungan antara kapital dan kerja adalah struktural. Tidak personal, perorangan. Para pekerja itu bukannya ditindas oleh kapitalis, tetapi oleh kapital. Yang justru dihasilkan oleh kerja. Tapi perilakunya iyu adalah sebagai sekutu yang menindas para pekerja yang telah menghasilkannya. Dalam istilah Marx yang dipakainya pada 1844 itu, kerja yang dirampok atau diasingkan (alienated atau estranged).

Ditingkat ini perkembangan pikiran marx sangatlah kuat dipengaruhi Ludwig Feuerbach, seorang filosof materialis dan pengkritik Hegel. Marx, secara khusus mempergunakan ide Feurbach tentang esensi manusia atau jenis makhluk. Produksi manusia secara alamiah adalah perbuatan kreatif. Dan menempatkan takluk kepada hukum-hukum kapital yang imfersonal – tak menyangkut orang berarti menghancurkan hubungan alamiah anatara produsen dan produk. Seberapa jauh konsepsi ini bertahan dalam karya-karyanya yang kemudian menjadi berbeda, namun ide-ide dari tahun 1844 tetap dapat dibaca didalamnya bagi mereka yang mau.

Tahun berikutnya, 1845, Marx dan Engels bekerjasama untuk sebuah manuskrip yang juga tidak terbit semasa hidup mereka. “ideologi jerman” – The German Ideology-. Karya inilah yang untuk pertama kalinya menampilkan “materialisme sejarah”. Ia dianggap sebagai pertanda berakhirnya periode pertama dari evolusi intelektual marx. Sebuah periode dimana ide dan pikiran-pikirannya berubah cepat. Sejak 1845 itu, ia bekerja untuk mengembangkan kerangka dasar yang telah letakkannya dalam Ideologi Jerman. Buku itu sulit dibaca, karena argumentasi positifnya berpalung denganserangan yang tak berkesudahan terhadap penulis-penulis lain. Kata pengantar untuk sumbangan pada kritik atas ekonomi politik,- A Contribution to the Critique of Political Economy- adalah pernyataan singkat yang lebih baik dari materialisme sejarah.

Didalam Ideologi Jerman marx memulai dengan fakta-fakta nayta yang sederhana. Untuk hidup, mahluk manusia harus memproduksi alat-lat penyambung hidupnya (makanan dan lain sebaginya). Untuk melakukannya mereka harus berekerjasama didalam suatu pembagian kerja (disini terlihat betapa konsep tentang esensi manusia tak dilibatkan). Setiap tingkat perkembangan produksi itu sendiri adalah hasi perkembangan sejarah dan hasil pencapaian generasi manusia sebelumnya. Perkembangan produksi mengharuskan keterlibatan bentuk-bentuk kerjasama, pembagian kerja dan karenanya juga organisasi kemasyarakatan.

Masyarakat berubah melalui serentetan tingkat yang ditandai dengan berbagai bentuk kepemilikan. Pemilikan komunal masyarakat kuno didasarkan pada peranan budak. Pemilikan Feodal (tanah) atas pemerasan hamba -serfs-. Dan Pemilikan perorangan burjuis (kapitalis) atas eksploitasinya terhadap proletariat dari pekerja upahana yang tak punya milik apa-apa. Setiap tingkat bentuk produksi merupakan, lebih tinggi dari yang dulu. Dan setiap tingkat menyediakan syarat bagi yang akan datang. Perkembangan kapitalis menciptakan pemiskinan proletariat yang meluas dan meningkat. Maka itu, pada waktunya akan menggulingkan kapitalisme. Komunisme adalah produk sejarah yang tak terhindarkan.

Peristiwa dan kejadian 1848 merupakan titik yang menentukan dalam kehidupan Marx. Pada mulanya di Prancis, tapi kemudian demontrasi-demontarsi rakyat serta pemberontakan menjalari seluruh Eropa. Didalam wilayah Prusia bangkit tuntutan rakyat bagi suatu konstitusi baru yang akan membatasi kekuasaan sewenang-wenang otokrasi. Untuk waktu itu, ini adalah suatu tuntutan yang revolusioner. Sebuah kongres lalu diadakan di Frankfurt guna menyusun suatu konstitusi baru. Dan peristiwa ini tidak begitu revolusioner, dalam arti adanya suatu perubahan yang mendadak dan menentukan, sebagai ganti penciptaan suatu huruhara politik diaman rezim lama sempoyongan dan yang baru membuat kesempatannya.

Manifesto Komunis untuk Liga Komunis ditulis dekat sebelum pecahnya revolusi. Dan dalam tahun 1848, Marx dapat kembali ke Jerman, dimana ia menasehatkan penahanan diri -moderation -. Nasehatnya itu didasarkan bahwa Jerman haruslah lebih dulu melewati suatu tingkat yang sama dengan revolusi prancis 1789, sebelum syarat-syarat matang untuk suatu revolusi komunis. Keadaan berbalik, kekuatan radikal Jerman terpecah. Dan angkatan bersenjata yang tetap setia pada otokrasi dan Pemerrintahan Prusia, pada akhirnya mampu memegang kontrol atas keadaan. Marx dibuang kemabali. Kali ini ke London.



EKONOMI POLITIK KLASIK
Produksi terpenting marx selama di pembuangan adalah DAS KAPITAL. Untuk menempatkan Das Kapital dalam konteks teori-teori ekonomi masa itu, khusus di dalam apa yang dinamakan Marx sebagai ekonomi politik kalsik., di perlukan pemahaman terhadap karya-karya Adam Smith, David Ricardo dan lainnya ahli ekonomi Inggris di akhir abad ke-18 dan awal abad ke 19. Marx membangun karya dan sering merujuk pada karya mereka.

NILAI dan NILAI LEBIH
Ekonomi Politik Klasik, keberadaannya merupakan oposisi terhadap teori-teori yang beraliran merkantilistik abad ke 17 dan 18. Kaum Merkantilistik pada pokok mengutamakan perdagangan lauar negeri yang dianggap Marx sebagai hal sekundair.

Sebagai pedagang, meraka berfikir tipikal kapitalis yang keuntungan datang dari membeli murah-menjual mahal. Yang selangkah lebih maju dari pandangan kaum Fisiokrat Prancis abad ke 18. Mereka ini menekankan pentingnya produksi ke banding perdagangan. Tapi mereka menganggap pertanian hanya yang benar-benar produktif. Marx mempelajari teori dan karya kaum merkantilis dan fisiokrat itu dan sewaktu-waktu merujuk pada mereka.

Suatu tema pokok dalam ekonomi Kalsik (didalam didalamnya terdapat karya kaum fsiokrat), adalah pembahasan tentang laba dan sewa dalam pengertian surplus yang datang dari produksi. Ide dasarnya dapat dilihat dalam suatu ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang, katakan jagung. Jagung lalu menjadi sebagai bahan makanan dan juga masukan bagi produksi (seperti bibit). Manakala jagung cukup diproduksi untuk mengganti bibit dan untuk memberi makan para produsennya, maka setiap kelebihan adalah Surplus, yang menggelantungkan diri pada mereka (tentara, pegawai, pendeta dan lain sebagainya).

Pertanyaan yang menarik disini ialah, bagaimana maka surplus itu jatuhg ketangan klas penguasa? Eksistensi surplus yang fisikal itu, sudah tentu tak dipersoalkan lagi, karena surplus itu dapat dinikmati para produsen sendiri. Smith, Ricardo dan Marx, semua memberi jawaban yang sama terhadap pertanyaan itu. Didalam suatu masyarakat kapitalis, surplusnya direbut oleh para pemilik kekayaan, karena mereka cukup kaya untuk membeli alat-alat produksi yang diperlukan (tanah, bibit jagung, dalam contohnya yang sederhana) sedangkan para pekerja tidak dapat berproduksi dengan kemampuannya sendiri dan karena itu harus menerima upah apa saja yang mereka dapatkan. Persaingan untuk mendapat pekerjaan membuat upah tetap saja pada batas minimum. Smith dan Ricardo menganggap hal itu sebagai alamiah dan abadi. Tapi Marx menganggapnya sebagai hal yang sementara karena perkembangan masyarakat.

Persoalan selanjutnya haruslah dipertimbangkan. Didalam sistem kapitalis, berbagai barang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tertentu. Setiap perusahaan mengeluarkan uang pembeli alat dan bahan produksi, membayar upah dan menutup pengeluarannya denga menjual produknya. Seseorang dapat saja berbicara tentang surplus fisikal untuk keseluruhan sistem, tapi tidak untuk satu-satu perusahaan. Laba perusahaan tertentu bergantung pada biaya yang ia keluarkan dan harga yang ia peroleh. Harga barang dapat berubah dari minggu ke minggu atau hari-hari. Maka itu para ahli ekonomi klasik mengembangkan suatu konsep harga normal atau alamiah, atau nilai dari suatu barang. Surplus yang masuk kepada para kapitalis atau pemilik tanah sebagai nilai lebih adalah kelebihan nilai yang dihasilakan diatas nilai yang diserap oleh biaya-biaya, termasuk upah. Suatu teori nilai lebih punya dua unsur: suatu teori nilai dan penjelasan bagaimana surplus itu disadaap dari para pekerja dan dipindahkan kepada para pemilik kekayaan.

ADAM SMITH
Adam Smith, pengarang dari “THE WEALTH OF NATIONS” (1776) pada umumnya diakui sebagai pendiri ekonomi politik klasik. Ia memberi tekanan khusus pada pembagian kerja sebagai penyebab peningkatan produktivitas dan kesejahtraan. Pembagian kerja memungkinkan setiap produsen berspesialisasi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan khusus yang lebih efisien. Tapi dibatasi oleh luasanya pasar, karena pasar kecil tidak mnyediakan ruang bagi spesialisasi. Begitu kekayaan dan populasi bertumbuh, cara transprortasi berkembang maju, dan pasar juga berkembang luas, kesemuanya lalu memungkinkan pembagian kerja lebih terperinci. Dan dengan begitu penghasilan kekayaan semakin besar. Pertumbuhan ekonomi adalah proses akumulatif dimana setiap langkah dari perluasan pasar mneyediakan basis untuk pertumbuhan selanjutnya.. Marx menemukan ide tentang proses perkembangan ekonomi terus-menerus dari Smith dan menjadikannya landasan bagi analisanya tentang Kapitalisme.

Harga alamiah setiap produk, menurut Smith adalah sedemikian rupa sehingga ia menutup pengeluaran-pengeluaran untuk upah dan sewa serta menghasilkan laba pada rate pasar yang berjalan. Ia punya analisa pasar yang laur biasa baiknya. Tenaga -tenaga pasar cenderung membawa harga ke garis harga yang alamiah. Manakala harga pasar tinggi, laba akan tinggi. Para produsen akan ditarik ke wilayah bisnis. Suplai dengan demikian juga akan mekar, sedang harga akan ditarik turun kembalili. Sebegitu jauh dan baik, maka Marx telah mengambil banyak dari analisis itu.

Perlakuan Smith terhadap penentuan upah, laba dan sewa lebih banyak dipersoalkan. Nilai, katanya, ditentukan dengan mempertambahkan upah, laba dan sewa. Pada waktu bersamaan, katannya pula, upah, laba dan sewa tergantung pada jumlah keseluruhan nilai yang telah dihasilakan. Dan nilai akan ditemukan dengan membagi mereka. Argumentasinya memutar. Teori Smith tentang laba bagaimanapun sangatlah lemah. Katanya, laba ditentukan oleh atau melalui ‘kompetisi’ tapi ia tidak menyediakan analisis yang koheren bagaimana itu terjadi.

DAVID RICARDO
David Ricardo, seorang pedagang surat-surat berharga dan anggota parlemen Inggris adalah seorang tokoh lainnya dari dunia ekonomi politik klasik. Karyanya ‘PRINCPLES of POLITICAL ECONOMY and TAXATION’ – Prinsip-prinsip ekonomi politik dan pajak – adalah suatu upaya untuk memilah-milah kerangka dasar pemikiran Adam Smith dari kekalutan.

Nilai komoditi menurut Ricardo, ditentukan oleh seberapa banyak tenaga kerja diperlukan untuk menghasilkannya. (dengan beberapa pengecualian, lihat dibawah ini). Suatu perubahan upah, tidak akan merubah nilainya. Tapi merubah sebagian dari nilai yang dihasilkan dan yang akan menunjang upah sebagai lawan laba. Jika upah naik, maka laba menurun. Namun jumlahnya tetap sama. Nilai dari hasil -output – dapat dukur secara bebas dengan cara bagaimana ia dibagi-bagi.

Sesudah mengetahui prinsip ini, kesukaran masih tetap. Pengembalian dari uang yang ditanam, mestilah sama untuk bermacam-macam industri. Sebab, jika tidak, kapital akan mengalir kepada yang lebih menguntungkan seperti juga keterangan Smith. Dimanapun jumlah besar kapital ditanam, ia punya sangkut paut dengan para pekerja yang dipekerjakan, semakin tinggi pula pembagian laba. Maka itu diperlukan harga yang lebih tinggi supaya ia menghasilkan pengembalian kapital yang layak. Harga-harga, karenanya tidak dapat seimbang dengan permintaan tenaga kerja. Ricardo mengakhiri keterangannya dengan alasan bahwa nilai, sebagian besarnya ditentukan oleh tenaga kerja dan bersandar kembali pada posisi dan pandangan Smith.

Marx mengkritik Ricardo atas kegagalannya dalam hal ini dan memberikan pemecahannya sendiri, dengan melibatkan sikapnya terhadap nilai dan harga alamiah (harga produksi dalam istilah Marx) sebagai hal-hal yang sangat berbeda. Nilai ditentukan oleh kerja yang terkandung di dalam produksi, sebagai suatu definisi. Upah dan Laba ditentukan oleh atau dengan membagi nilai yang diproduksi seluruh ekonomi. Dan harga produksi ditentukan dengan menambahkanlaba dan upah untuk setiap barang secara terpisah, demikian menurut Smith. Sedang sirkulasi ia hindari ( Walaupun pemecahan yang diajukan Marx, menimbulkan masalah sendiri).

Masalah sew a tetap tinggal sebagai hal yang harus dijelaskan. Menurut Ricardo, sewa itu timbul karena berbagai bidang tanah dengan bermacam taraf kesuburan. Harga produk pertanian haruslah cukup tinggi, agar tanah yang paling buruk dapat menghasilkan laba bagi petani didalam rate yang berlaku. Karena, jika tanah tidak menguntungkan, ia tidak akan ditanami. Dan tanah yang lebih baik yang akan menentukan sewa, karena petani akan bersaing untuk menggunakannya. Sedang si pemilik tanah dapat meminta sewa yang demikian. Marx mengambil oper teori ini, mengembangkannya dan mengolahnya secara tersendiri samapi pada bagian-bagian akhir das Kapital, walau ia menganggapnya sebagai masalah kedua.

Marx menganggap Smith dan Ricardo sebagi perwakilan terbaik dari dunia ekonomi politik. Sesudah Ricardo, para ahli ekonomi jika tidak menyalin ide-idenya, merka hanya cenderung untuk menekankan pentingnya suplai dan permitaan sebagi penentuan harga. Mereka tidak menceritakan kisah-kisah yang masuk akal mengenai pasar-pasar tertentu, tapi meninggalkannya tanpa analisis yang koheren tentang upah, laba dan sewa bagi keseluruhan sistem. Marx menamakan mereka itu sebagai ekonom vulgar dan memperlakukan mereka semaunya. Sebenarnya, adalah mungkin untuk memberikan perhitungan yang koheren bagi kesluruhan sistem ekonomi dalam pengertian suplai dan permitaan, seperti yang telah diperlihatkan Walras pada 1870-an. Tapi ketika itu kesehatan Marx jatuh dan tidak sempat memperlihatkan karya-karya Walras. Marx mungkin saja tidak setuju seandainya ia tahu it.

UANG
Demi kelengkapan, diperlukan suatu pembicaraan singkat mengenai ekonomi keuangan yang berkembang dalam isolasi relatif dari teori-teori nilai dan nilai lebih. Uang dizaman Marx, didasarkan pada emas (paling sedikit di Inggris dan pusat-pusat kapitalis besar lainnya). Uang kertas telah beredar dan dapat ditukarkan dengan emas. Dan mata uang emas juga beredar. Menurut Marx, nilai uang juga langsung terkait pada nilai emas. Dan emas itu bergantung pada para pekerja yang diperlukan untuk menghasilkan emas itu. (Disaring dari tambang emas). Jadi sama dengan komoditi lain. Dalam hal ini Marx berbeda dengan teori-teori sebelum, ‘teori kuantitas uang’ yang mengaitkan nilai uang pada kuantitasnya dalam sirkulasi. Menurut teori itu, kuantitas yang menentukan nilainya. Menurut Marx, ia berjalan terbalik. Nilai uang yang justru menentukan kuantitasnya dalam sirkulasi.

Perdebatan mengenai keuangan di pertengahan abad ke 19 terpusat pada dampak dikeluarkannya uang kertas. Uang kertas itu bukannya tidak ditukarkan, atau tidak dapat ditukarkan kini, tetapi berjanji akan membayar. Janji ini diberikan bank perorangan yang dikeluarkannya dan dapat pula ditebus dengan emas (dalam bentuk emas). “The Currency School”, adalah aliran yang lebih menyukai adanya pembatasan pengeluaran uang kertas, karena pengeluaran yang terlalu banyak akan membawa kenaikan harga yang akan diikuti krisis keuangan. “The Banking School”, aliran yang tidak melihat adanya bahaya demikian. Dasar mereka ialah setiap kelebihan pengeluaran uang kertas akan kembali kepada bank yang mengeluarkannya untuk disimpan atau ditukar dengan emas. Dalam hal ini Marx mnyokong “The Banking School”. Ia berpendapat bahwa krisis finansial adalah simpton dari masalah yang lebih fundamental yang tidak ada sangkutnya dengan kelebihan pengeluaran uang kertas.

3. PEMBUATAN KAPITAL – The Making of Capital-
Perkembangan Ilmu Ekonomi Marx
Pada tahun 1840, Marx sudah samapi pada suatu pandangan yang tersendiri terhadap kapitalisme sebagai suatu jenis ekonomi yang jelas, dengan suatu jangka hidup terbatas. Pada taraf ini ia mengambil teori ekonomi lain-lain orang yang sudah jadi, menafsirnya kembali dan menempatkan teori-teori itu kedalam sistem yang bentuk sendiri. Bagian-bagian ekonomi tulisannya ECONOMIC AND PHILOSOPHIE MANUSCRIPTS, — Manuskrip Ekonomi dan Filsafat–. 1844, pada pokoknya terdiri dari kutifan-kutifan Adam Smith dan lainnya.

‘WAGE LABOUR and CAPITAL’ –Kerja Upahan dan Kapital–, terbit tahun 1849, didasarkan pada kuliah-kuliah yang diberikan dalam 1846-47, pada pokoknya masih bersifat Smith dalam struktur keseluruhannya, walau Marx bersifat selektif. ‘Kerja upahan dan Kapital’ kadang-kadang terasa sebagai pemula untuk memahami Das Kapital, walau sesungguhnya ia menampilkan suatu teori yang rada berbeda. Ia harus dibaca dengan kehati-hatian yang khusus, karena Engels-lah yang telah mengolahnya sesudah Marx meninggal demi memberikan kemiripan pada kematangan karya Marx. THE POVERTY of PHILOSOHY (1847), sungguh banyak mengutip Ricardo dan juga dari kalangan “sosialis Ricardian”, sebuah kelompok penulis radikal Inggris.

Dalam 1850-an di London -pembuangan Marx kembali lagi ke ilmu ekonomi. Pertanda penting dari pemikiran Marx masa ini adalah naskah yang telah ditulis pada 1857-58, yang diterbitkan tahun 1933, lama setelah ia meninggal, dengan GRUNDRISSE (foundations). Dasar naskah ini jelas tidak diterbitkan karena sulit dibaca. Isinya melompat dari satu subjek ke subjek lainnya tanpa perencaaan yang jelas. Namun dalam kekacauannya, GRUNDRISSE mengandung semua tema pokok yang ada dalam Das Kapital. Dipertengahan tahun 1850-an, kita melihat sudah matangnya ilmu ekonomi Marx. Pentingnya Grundrisse bagi pembaca modern tidak terletak pada ilmu ekonomi Marx, yang secare lebih baik dikemukan dalam Das Kapital, tetapi didalam keterangan filsafat yang terjalin didalam Grundrisse, yang jelas lebih banyak ke Hegelannya daripada didalam Das Kapital. Grundrisse juga merupakan sebuah jembatan antara Das Kapital dengan Karya-karya filsafat marx yang dini.

Kewajiban Marx selanjutnya, menemukan jalan untuk mengemukakan teori yang baru, dalam hal mana ia mengalami kesukaran, Ketika ia mulai dengan “A CONTRIBUTION TO THE CRITIQUE OF POLITICAL ECONOMY”, diterbitkan 1859, sebuah karya yang ternyata tidak lebih dari cicilan pertama. Kekecewaan muncul dari kalangan sahabat-sahabatnya, karena karya itu hanya berurusan dengan hal pertukaran dan uang dan tidak bicara apa-apa tentang hubungan kapital dengan tenaga kerja. Kepada Engels, Marx menulis gambaranya mengenai Das Kapital yang memerlukan 6 Jilid, mencakupi hal-hal kapital tertentu, kerja upahan, pemilikan tanah, negara, perdagangan internasional dan pasar dunia. Yang pertama, tentulah hal kapital yang berkembang menjadi tiga jilid (ditambah tiga jilid lagi mengenai teori nilai lebih) yang tidak pernah selesai, sedang sisanya yang lima tidak pernah dimulai bahkan.

KAPITAL
Sebagian besar penulisan Das Kapital dikerjakan dalam pertengahan 1860-an. Marx menulis rancangan naskah untuk ketiga jild bersama dengan jilid ke empat mengenai sejarah dan pemikiran dan ide-ide ekonomi (cukup banyak dan luas untuk memenuhi tiga jild, ternyata ketika naskah akhirnya diterbitkan dengan THEORIES of SURPLUS VALUE –Teori-teori Nilai Lebih). Caranya ia menulis, memulai dengan beberapa naskah kasaran tentang tiap topik, kebanyakan ekstrak dari penulis-penulis lain dan sumber-sumber fakta, laporan parlemen dan sebangsanya. Dalam rancangan selanjutnya, ia menyusun kembali bahan-bahan, membuangi banyak kutipan, kecuali dari mana ia mendapatkan bukti-bukti faktual atau ilustrasi untuk bagian-bagian terpenting. Didalam bagian-bagian yang tak selesai dari jilid satu, dua dan tiga, Marx mengikuti naskah-naskah rancangannya terdahulu dan tetap tinggal begitu dalam versi yang diterbitkan. Dalam jilid satu, Marx membuat pernyataan terimakasih atas sumbangan para pendahulunyanya dengan mengutip pernyataannya terdahulu, bahwa ia dapat menemukan setiap ide yang penting. (catatan ini dapat membingungkan pembaca yang tidak awas akan maksudnya).

Marx juga memberikan waktu panjang untuk mengolah struktur Das Kapital dan hasil tidak seperti Grundrisse. Setiap konsep diantar,dijelaskan dan ditegaskan . Tatanan seperti ini, bagaimanapun mempu nyai kekurangan. Sebagaimana ditulis Marx dalam “kata penutup” pada jili dsatu edisi Jerman : ‘metode penyampaian tentu berbeda dari penelitian. Yang terakhir haruslah menyusun bahan secara rinci. ….., Hanya setelah pekerjaan ini selesai, semua gerak yang sesungguhnya dapat digambarkan secar memadai. Jika ini dikerjakan dengan baik….. barulah dapat ditampilkan hal yang seperti kita alami sebelumnya, yaitu suatu kontruksi a priori yang murni.

Masalah yang dihadapi Marx dalam pengembangan dan penyampaian analisanya tentang kapitalime, bertolak dari kerasnya permintaan teori sejarahnya. Dalam arti istilah itu, kapitalisme adalah suatu bentuk produksi yang dibatasi oleh suatu struktur dasar yang spesifik, mengenai hubungan-hubungan produksi yang melibatkan dua kelas, pemeras dan yang diperas. Dan kapitalisme adalah suatu bentuk produksi yang terakhir. Semua sosok penting masyarakat dibentuk oleh sistem produksi yang dominan (tidak seluruhnya ditentukan). Dan setiap bentuk-bentuk itu punya hukum-hukum yang melekat padanya. Ia memelihara atau mereproduksi struktur dasar dari sistem samapi pada suatu tingkat perkembangan yang membawanya kepada pergantiang bentuk selanjutnya. Untuk memasang analisa kapitalisme ke bingkainya, Marx harus mengindentifikasi struktur itu. Teori in dalam perkembangannya harus berpindah dari yang abtrak ke yang konkrit, dari konsep kapitalisme abtrak ke kapitalisme yang sungguh berlaku pada masyarakat tertentu.

Metode penyelidikan atau proses penelitian tidak dapat mengikuti pola ini. Konsep-konsep abstrak tidak dengan sendirinya berlaku. Ia hanya dapat diuji dengan melihat apakah ia diperuntukan bagi pelukisan gerak aktual yang sebnarnya. Dan tidak melompat begitu saja dari kepala para teoritisi saja? Ia dikembangkan melalui proses yang menyakitkan, melalui uji coba pembenaran, telaaahan, menyadap dan mengkritik teori-teori yang ada. Dan mealui saling pengaruh antara teori dan bukti.

Metode presentasi akhirnya meniadakan catatan-catan hasil pergulatan lama dari metode penyelidikan. Presentasi berpindah dari yang abstrak ke yang kongrit, dari konsep-konsep dasar ke teori-teori yang sudah diurai. Konsep-konsep yang terlihat hidup dengan dirinya sendiri, membentangkan implikasi-implikasi nya selangkah demi selangkah. Dan terlihat ia seakan dihadapkan kita ada suatu konstruksi apriori murni, sebuah produk dari pemikiran abstrak. Memang ada saja bahaya untuk terjerembab ke lembah idealisme Hegel, ke lembah kenyataan yang dikuasai pemikiran . Marx, sudah tentu dengan sendirinya menghindari perangkap itu. Ia hanya berharap agar gerak yang aktual terlukis secukupnya. Pembaca modern Das Kapital lebih mungkin menjalani kesalahan sebaliknya, menolak teori sebagai perangkat yang sewenang-wenang. Diperlukan kesabaran mengikuti Marx samapi pada titik dimana teori-teorinya sudah cukup berkembang untuk diterapkan pada dunia masalah nyata.

Ada dua aspek dari susunan presentasi Marx yang memerlukan ulasan. Pertama, ia memberi tekanan pada hubungan khusus produksi kapitalis. Kapitalisme (produksi oleh pekerja upahan yang dikerjakan oleh kapital), merupakan suatu bentuk khusus dari produksi komoditi (untuk dijual) yang pada dirinya sendiri adalah satu bentuk masyarakat manusia. Marx memperbedakan dengan sangat teliti konsep-konsep yang diterapkan pada semua bentuk masyarakat dengan konsep yang diterapkan bagi masyarakat yang memproduksi komoditi dan kapitalisme. Susunan-susunan itu mempunyai akibat-akibat penting bagi cara itu di konsepsi itu dikemukakan. Nilai misalnya , di rumuskan dalam Bab I . Ia memainkan peranan fundamental bagi analisa keseluruhan . Ia tidak dapat dikaitkan dengan harga pasar , smpai pembentukan harga pasar didalam sistim kapitalis dibahas . Dan itu tidak sampai jilid tiga . Kedua metode presentase Marx logis . Tidak historikal . Karakteristik dasar kapitalisme tidak atau belum dibahas sampai jilid aatu . Sedang penggulingannya di masa datang hanya disinggung sambil lalu . Das kapital adalah telaah tentang bentuk produksi kapaitalis , bukan ikhtisar dari pandangan-pandangan Marx .

Jilid satu Das kapital diselesaikan dan terbit tahun 1867. Kesehatan Marx tahun itu memburuk . Waktunya disita oleh masalah-masalah politik yang mendesaknya . Dan tidak banyak kemajuan ia buat untuk jilid dua dan tiga . Ketika Marx meninggal tahun 1883 , engels ditinggali tumpukan naskah yang tak terbaca , dari tahun 1860 an . Jilid dua dihimpun dari bagian rancangan naskah dan diterbitkan pada tahun 1885., dalam hal mana pekerjaan editing patut di hargai . Tetapi engels juga menua pada saat itu . Ia dihadapi jilid tiga sebagai yang amat berat, karena keadaanya yang belum selesai ketika Marx meninggal . akhirnya dalam tahun 1884 buku itu terbit . Tiga puluh tahun sesudah ia ditulis .

4. LATAR BELAKANG EKONOMI
Das kapital , pada pokoknya adalah karya teori, maksudnya sebagai dasar untuk menganalisa masyarakat ekonomi kapitalis mana saja dan kapan saja . Marx sudah tentu mengambil contoh-contoh dari zamannya. Dan asumsi-asumsi yangh cocok dengan masanya memainkan peranan penting dalam bagian-bagian teoritis teoritis karya Marx itu.. Secara khusus Marx mrnganggap sebagai kebenaran bahwa perusahaan kapitalis perorangan dan relatif kecil, tidak atau sedikit saja dapat mengontrol harga-harga produk mereka . Atau bahkan tidak sama sekali . Mereka harus menjualnya di pasar. Sebuah sistim yang sangat luas , produsen-produsen yang monopolistik haruslah dianalisa dengan cara yang berbeda . Marx memang telah meramalkan timbulnya perusahaan-perusahaan besar . Tapi tugas untuk membangun teori untuk itu , ditknggalkan untuk penerus-penerusnya . Teori moneter Marx juga banyak berakar pada abad ke 19. Bagi Marx uang didaarkan pada emas .

Das kapital akan sangat mudah dipahami jika pembacanya ingat pada hal-hal yang membedakan ekonomi Marx dan ekonomi zaman kita kini. Banyak contoh marx datang ke inggris . Sebagaimana dijelaskannya kepada para pembaca jerman , Inggris adalah tanah `klasik` dari kapitalisme .Bangsa kapitalis pertama dari zaman itu , paling maju dan paling baik terdokumentasi ( seperti banyak orang jerman, Marx sudah terbiasa mengatakan `england ` ketika ia menyebut `Britain` dan banyak juga contohnya yang berasal dari Scotland).

Produksi kapitalis dibentuk oleh dipekerjakannya pekerja upahan yang mengerjakan bahan-bahan dan peralatan yang disediakan sang kapitalis . bentuk organisasi begini , dominan diinggris dan pertengahan abad ke 19. Tapi sekarang dimana-mana ia ada. Bahkan Amerika serikat utara adala negara yang dominan petani kecil . Di Inggris , sebahagia besar penghasilan dihasilkan oleh pekerja perorangan yang bekerja sendiri -self-employed. Mereka bekerja sama dengan orang yang bekerja di rumahnya sendiri-sendiri atas lebih kuat-out work, tergantung kepada seberapa kuatnya para saudagar menyediakan bahan dan membeli produk mereka . Industri seperti textil ,pabrik yang dominan menggunakan uap, adalah pengucualian . Apabila Marx memperkenalkan `industri modren ` maka ia melukiskannya sebagai sesuatu yang baru dan luar biasa.

Inggris adalah negeri kap[italis paling maju dan kaya. Tetapi dari ukuran mocren ia tergolong miskin . sedikit saja terdapat bahan untuk melakukan bandingan yang eksak dengan kondisi-kondisi modren . Tanpa mempersoalkan bahwa jam kerja diinggris amat panjang dan amat menyedihkan rendahnya. Marx merujuknya dengan bukti-bukti yang dikutipnya dari sana sini .

Perdagangannya kecil dalam ukuran modren . perusahan-perusahaan biasanya dikontrol oleh perorangan ( keluarga atau patnership) yang mewlakukanya langsung berhadapan dengan buruh-buruh dilantai-lantai pabrik. Para kapitalis perorangan itu tidak atau sedikita sekali punya kontrol atas pasar mereka . Maka itu mereka menjual saja produk mereka pada hjarga pasar yang berlaku , atau tidak sama sekali . Memang benar -benar sukar untuk menerangkan mengapa persaingan tidak sama sekali meniadakan laba . Teori nilai lebih Marx dirancang untuk menjawab masalah itu . Sejumlah kapitalis besar , terutama kereta api diorganisasi , sebagai suatu korporasi join -stock company dengan andil-andilnya dapat dipindah tangan disertai manejemen yanmg profesional . Mereka memang menunjukkan sesuatu yang bakal datang , walau Marx mengharap rubuhnya kapitalisme memotong garis perkembangan ini .

Pertanian masih merupakan industri terbesar di Inggris , dan ia unik bagi dunia abad ke 19. Pertanian yang di organisasi dengan garis-garis kapitalis , dengan para pemilik tanah pemungut sewa , para pekerja upahan yang mengerjakan pertanian , sedangkan para kapiotalis pertanian , sedanga para kapitalis pertanian berada diantara kedua golongan tersebut . Menurut Marx , terciptanya pertanian kapitalis , telah melemparkan para petani ke kedudukan penting dalam pertumbuhan induistri kapitalis .

Sistim keuangan baik di Inggris , maupun disebahagian besar dunia lainnya , didasarkan pada emas . Bank-bank milik perorangan mengeluarkan uang kertas , hanya dengan janji nakan mambayar jumlah yang tertera pada uang kertas . Bank Inggris masih mencatatnya ” saya berjanji akan membayar kepada pemegang ………jumlah yang diminta ….” Dengan bubuhan tanda tangan kasir kepala. Tapi ia sekarang merupakan katya-kata kosong . Tapi di zaman Marx ., tidak. Bank Inggris kemudian dimiliki oleh perorangan dan tampil sebagai pusat sisitim keuangan. Karena usianya yang tua sebagai bank pemerintah . Uang kertasnya beredar diseluruh negeri dan dapat ditukar dengan emas . marx sering mengambarkan jumlah uang dengan istilah mata uang Inggris dizaman itu. Pounsterling dibagi dalam 20 shilling dan inipun dibagi dalam 12 pence dsb.

Transakssi antar perusahaan kapitalis sebahagian besarnya dilakukan melalui `bill of change ` -rekening-, suatu sistim yang sampai sekarang kurang lebih digunakan. Apabila Marx berbicara mengenai `sisitim credit` hal seperti itulah yang dimaksudkan .Apabila A menjual barang kepada B , si A dapat memberi kredit kepada si B dengan menuliskan rekening , suatu permintaan pembayaran di masa yang datang yang sudah ditentukan, yang diterima si B dengan tanda-tangannya.. Dari pada menunggu uangnya ( cair) , A dapat memberikan rekening itu kepada seseorang yang punya uang ( sehingga rekening tagihan itu dapat beredar sampai pada tingkat menempati kedudukan uang ) atau orang dapat menjualnya ke Bank . dengan mengambil open rekening , berarti Bank memkinjamkan uangnya sampai rekening itu dibayar dan akan memotong bunga dari padanya. Inilah yang dinamakan discount-potongan -atas rekening.Banyak perusahaan mengatur agar rekeningnya dibayar oleh bank london . Dalam keadaan demikian dan rekening demikian berakhir di bank tersebut . selanjutnya rekening-rekening demikian dapat ditunda pembayarannya . Inilah keterangannya mengapa Marx sering mengatakan bahwa sistim kredit adalah suatu cara untuk ekonomisasi uang . semenjak itu , rekening boleh dikatakan sudah digeser oleh penggunaan cek dengan menstransper defosito -defosito , sebuah sistim yang hampir tidak pernah di singgung Marx . Para ahli ekonomi modren memberlakukan defosito bank sebagai bentuk uang , hal yang tidak pernah dfilakukan Marx.

Marx memperlakukan perkembangan kapitalisme Inggris sebagai sesuatu yang sudah dewasa . Marx yang tumbuh di Trir , yang masa itu adalah kota pedalaman yang boleh dikata tak dija,ah kapitalisme industri . satu dari masalah ekonomi yang ia tulis masa itu adalah masalah hak petani untuk mencari dan mengumpul kayu bakar dihutan-hutan. Di Prusia dalam 1836, hampir sepertiga pelanggaran hukum terjadi mengenai perburuhan di hutan-hutan. Bagi Marx , perkembangan kapitalisme dini , bukanlah masalah sejarah murni. Memang di eropa barat masa itu, secara keseluruhan, perkembangan kapitalismenya tidak semaju di inggris . Produk pabrik kurang meluas . Peranan pedagang lebih besar dan petani pertanian lebih dominan tapi bagi Marx , jelas ( walau tidak banyak teman seangkatannya ) Inggris yang kapitalis telah menunjukkan jalan yang ditempuh seluruh eropa .

Bagian dunia lainnya bahkan lebih jauh dari model kapitalisme murni yang terdapat dalam Das kapital . Perbudakan di America serikat , perhambaan petani Rusia , berlanjut samapai 1860 an , ketika Das kapital ditulis . Di India dan Tiongkok malah bentuk produksi lain yang berlaku , yang oleh marx dinamakan `bentuk ` Asia ` .( penelitian selanjutnya bahkan menyangsikan gambara Marx tentang masyarakat Asia ). Masyrakat Afrika tidak dikenal di Eropa di zaman Marx . Marx bahkan dengan yakin mengatakan bahwa seluruh dunia berubah pertama-tama oleh kapitalisme, kemudian oleh sosialisme, merupakan lompatan pemikiran yang luar biasa dari yang dapat dibayangkan di zaman Marx hidup